01 May, 2010

PENGALAMAN MEMBUAT SIM DI POLRES CIBINONG



Pasca habisnya masa berlaku SIM A saya yang telah wafat sejak tanggal 23 April 2010 lalu,dan adanya permintaan keluarga untuk berangkat ke Bandung mengantar orang tua membuat saya merasa perlu untuk meremajakan kembali masa berlaku Ijin Mengemudi saya agar dalam perjalanan nanti tidak ada masalah hanya karena saya tidak memiliki Surat Ijin Mengemudi. Sementara KTP yang saya miliki berbeda dengan domisili yang ada pada SIM. Dengan sangat terpaksa saya mengajukan pembuatan SIM A yang baru. Padahal ssebelumnya saya telah memiliki SIM A untuk wilayah DKI Jakarta, Sampai saya mengorbankan untuk ijin dari kantor supaya bisa leluasa mengikuti test guna mendapatkan SIM yang baru.
Sesuai dengan domisili saya yang berada di Cibinong (menurut KTP) jadi saya harus melakukannnya di Polres cibinong  yang notabene berada di Jalan Tegar Beriman, atau lebih dikenal dengan nama Jalan Pemda Cibinong. Adanya doktrin dari orang – orang disekeliling saya yang mengatakan bahwa membuat SIM sangat sulit, semua ngga akan dapat dilakukan dengan mudah, meskipun sekarang sudah tidak ada lagi yang namanya calo, bla..bla..bla…, dll…. OH MY GOD…PUSIIIIIIING…..!!!!!. Tapi dilain sisi ada pula keinginan untuk mengetahui lebih jauh mengenai “nikmatnya” salah satu dari birokrasi yang ada dalam tubuh POLRI, apakah masih terlihat seperti dulu yang katanya ngga asik? (naah…kita simak saja cerita berikutnya…)

TIBA DI POLRES CIBINONG
Berangkat dari rumah yang dekat dengan Stasiun Depok Lama serta adanya niat yang kuat untuk memulai kegiatan ini disaat jam kerja membuat jalan yang mengarah ke POLRES Cibinong terasa cepat. Dalam 20 menit saya telah tiba di sana. Rumah di depok koq buat SIM-nya di Cibinong sih??? Hehehe…maaf karena KTP saya masih mempergunakan KTP Cibinong, sementara SIM saya untuk wilayah DKI Jakarta telah habis masa berlaku, maka untuk sementara waktu saya harus membuat proses ini dibuat seefisien mungkin. Karena beberapa poin yang telah saya pertimbangkan sebelumnya jika saya harus merevisi KTP DKI dan melakukannya di Jakarta, maka waktu yang akan saya pergunakan akan semakin sempit serta tidak efisien. Dengan segala sesuatu yang telah dipertimbangkan sebelumnya, maka saya putuskan untuk membuat SIM di Cibinong.
Setibanya di Polres Cibinong, saya langsung merapat ke Loket Pendaftaran. Belum hilang rasa penasaran saya untuk memulainya, saya lanjutkan untuk survey lapangan agar tidak terjebak calo GILA. Setelah puas melakukan survey lapangan lalu saya putuskan untuk membuat SIM A&C dengan penuh keyakinan bahwa saya sanggup untuk melakukannya sendiri.
Dengan langkah gegap gempita saya kembali ke loket pendaftaran dan berlaga blo’on bertanya kepada petugas loket pendaftaran…
“Mau proses SIM baru bu..”
“SIM A atau C???”….
“Dua-duanya bu”
“ambil 2 map, lalu ke tempat uji praktek”………..


UJIAN YANG DITEMPUH

Setelah pengambilan Map saya diarahkan untuk melakukan uji kesehatan di klinik yang telah disediakan disana, dengan membayar Rp.15,000 kemudian kembali lagi ke Loket pendaftaran untuk meminta nomor peserta ujian..(kayak pelajar aja dikasih nomor peserta ujian..hehhehew). Dilanjutkan untuk melakukan uji praktek. Memang sih ngga terlihat ada calo disana, mungkin sudah diungsikan atau di razia supaya tidak ada yang melakukan penyimpangan dalam proses SIM. Setau saya biasanya untuuk pengurusan SIM dengan calo atau perantara, kita harus mengeluarkan uang sebesar 400-600 ribu dimuka. Tapi kita ngga akan menikmati prosesnya… makanya saya coba mengurusnya sendiri, toh waktunya juga masih cukup untuk ujian ini dan itu.

Langkah  yang pertama saya tempuh adalah uji praktek mobil, karena secara kebetulan saya dapat panggilan pertamanya memang untuk uji praktek mobil. Rincian uji prakteknya adalah:

  1.      Test parkir parallel: kesempatan yang diberkan adalah mundur + maju hanya sekali. Aturannya tabrak kerucut dan maju+mudur lebih dari sekali dianggap tidak lulus. (hasilnya saya tidak lulus pada ujian praktek SIM mobil. Karena saya memundurkan lebih dari sekali. Padahal waktu itu kondisi parkir sudah dalam garis dan dianggap lulus. Tapi melihat saya masih melakukan pindah transmisi untuk merapihkan posisi mobil membuat petugas uji praktek mencoret nama saya dari daftar lulus). Sekedar saran untuk yang mau ngurus SIM sendiri…Harusnya setelah mundur masuk garis kuning tadi…apapun posisinya asal tidak menabrak kerucut sudah dianggap sah.
  2.       Berhenti dijalan menanjak: di dampingi petugas penyeleksi
  3.       Jalan zig zag: tabrak kerucut = GAGAL
Akhirnya saya melakukan uji praktek SIM motor, karena melihat mood petugasnya kurang bagus di Ujian Praktek SIM Mobil, saya berasumsi bahwa untuk uji motor saya harus berhasil karena saya tidak memiliki waktu lagi jika harus mengulang dari awal, dan setelah saya tanyakan baru dapat melakukan ujian praktek ulang setelah seminggu.

Ujian motor yang harus dilewati adalah:
·         Jalan lurus, dengan rintangan kerucut yang sempit….(saya Lulus)
·         Jalan zigzag, dengan rintangan kerucut….(saya Lulus lagi)
·         Jalan berputar searah angka 8, dengan rintangan kerucut……(lagi-lagi saya lulus)

Dari test tersebut ada peraturan bahwa turun kaki dan menabrak kerucut dianggap gagal… dan menggunakan fasilitas kendaraan dari POLRES dengan pilihan Motor Thunder (diberikan kesempatan 3x mencoba track) serta motor bebek+Mio (untuk wanita kesempatan 3x dan pria sekali mencoba) jika gagal akan diberikan tanda “TIDAK LULUS”.

Lulus ujian pertama…., langkah selanjutnya adalah bergerak ke tempat pengujian teori. Disana saya cukup lama menunggu, karena dari setiap kelompok hanya dapat masuk 20 orang peserta dengan durasi waktu 30 menit. Untuk menempuh ujian teori mungkin ada sekitar 2 jam saya menanti giliran di panggil…..(hhmmmm…cukup membosankan dan membuat kaki pegal bin mumet). Tapi ngga masalah, niat saya untuk mendapatkan SIM jauh lebih besar ketimbang rasa lelah dan lapar yang harus saya tahan sejak kedatangan saya ke POLRES Cibinong.

Giliran nama saya dipanggil, dan saya masuk ke Loket #3 sesuai arahan Bapak Polisi, ambil tempat duduk dan mengerjakan ujian teori dengan pilihan ganda sebanyak 30 soal dengan mesin penjawab terintegrasi system. Artinya kita tidak butuh alat tulis apapun karena sudah ada tombol penjawab yang telah disiapkan.
30 menit berjalan dan saya LULUS uji praktek dengan nilai lumayanlaaah…, lalu terdengar teriakan Pak Polisi penyeleksi..”Yang lulus harap keluar dan tunggu info selanjutnya, bagi yang tidak lulus diam ditempat untuk diberikan TANDA TIDAK LULUS”…

Kemudian saya keluar, dan tidak lama berselang ada panggilan lewat Loket pendaftaran yang letaknya tidak jauh dari lokasi uji teori…
”YUDHATAMA…..AMBIL BERKAS”, lalu saya berlari kecil mengarah ke loket. Mohon isi formulir dan bayar biaya ke Bank BRI. Setelah selesai isi form dan diarahkan saya harus mengurus ke bank BRI yang lokasinya disebelah Loket #3 (uji teori) saya hampiri bank BRI dan membayar Rp.75,000 untuk SIM baru. Selesai membayar saya menuju Loket pengajuan berkas di Loket#4 untuk verifikasi dokumen yang telah kita bawa sejak awal. Pindah ke Loket#5 untuk panggilan Photo dan Sidik jari. Tunggu lagi beberapa menit untuk mengambil SIM baru yang telah terpampang Photo saya yang guanteng dengan membayar sebesar Rp.30,000 sebagai uang premi Asuransi.
Dengan membayar uang tersebut dan mengambil SIM baru maka selesailah pekerjaan saya hari itu untuk urusan birokrasi pembuatan SIM di Polres Cibinong.

 Oya….ada yang kelewat, kayaknya saya tadi bercerita tentang pengalaman saya mengurus SIM C, karena praktek saya untuk mengambil SIM A gagal di awal. Pada saat saya mengambil SIM-nya…
LOHHHH…KOQ yang jadi malah SIM A??????”………….. Ya wesss, udah jadi mau complain kemana lagi.. yang penting namanya SIM- lahhh…hehehew….. dengan melangkah jingkrak-jingkrak kegirangan, kebingungan, dan perut keroncongan,badan lengket karena keringat sudah ngga ada tempat penampungan… akhirnya saya pulang kembali kerumah dan menceritakan kejadian aneh yang tidak setiap orang mengalaminya ini.

i