10 April, 2009

" Menanti Kehadiran Si Buah Hati "



(Dedicated to Sarah Ayu Aqila)


Hari Selasa tanggal 17 Maret 2009.. Jam dinding menunjukan pukul 16.30, aku bergegas merapikan meja kerja. Dewi rekan kerja satu ruanganku yang biasa aku panggil “Bude” mengajak aku untuk pulang lebih awal seperti biasa... “TANGO” (Begitu Teng..Langsung GO) Sebenarnya tanpa di ajakpun aku berniat untuk pulang lebih cepat, kalau perlu pulang tanpa kabar.penyebabnya adalah hari ini istri kesayanganku akan menjalani persalinan. Kebetulan Meira rekan kerjaku yang lain mengajakku untuk pulang bersamanya, karena dia tidak senang kalau pulang sendirian. Alasannya cukup klasik….”ngga bisa ngerumpi..” (he..he.. he.. dasar wanita)

Pedal gas Xenia hitam milik Meira aku injak dalam-dalam untuk mencapai stasiun Cawang dalam waktu singkat..namun apa yang terjadi?? Namanya juga jalan Kapten Tendean, setiap jam sibuk jalan ini tidak pernah mati. Kondisi jalan mulai macet layaknya sebuah karnaval, Dan aku terjebak dalam situasi yang beraneka ragam ini. Perasaan tegang, kesal, grogi, dan gelisah mulai menggerayangi hatiku. Namun semua berusaha ku pendam sebisanya. Sesampainya di stasiun Cawang terlihat dari atas jembatan Cawang, kereta Ekonomi mogok di rel jalur Jakarta- Bogor. Entah apa yang terjadi tapi menurut cerita dari calon penumpang yang lain asap terlihat dari ban depan gerbong pertama ketika akan memasuki stasiun Cawang. Nampaknya ada trouble shoot dari system pengereman kereta ini. Ada-ada saja kejadiannya.. kenapa semua terjadi di saat aku butuh waktu cepat untuk melihat kondisi istri kesayanganku ini.

Dua jam sudah aku menunggu jalur kereta ini kembali normal. Berkali-kali operator stasiun memberitahukan untuk mencari alternative lain, namun kata hatiku tidak mengindahkannya. Pasalnya hal itu bukan jalan keluar yang pantas untuk diambil, karena setelah tiba jam pulang kantor kota Jakarta layaknya Sungai raksasa yang mengaliri mobil-mobil tanpa ujung, tanpa muara. Untunglah ada satu kereta yang berani untuk mendorong kereta yang mogok ini. Aku bergegas naik kedalam kereta bersama dengan teman kerjaku. Meskipun kondisi saat itu sangat padat, aku tetap nekat untuk naik bergabung dengan para penumpang yang juga tidak sabar untuk cepat pulang kerumah dengan harapan aku bisa cepat sampai tujuan dan berjumpa dengan istri yang ada di RS Hasanah Graha Afiah Depok. Kereta yang ku naiki mulai berjalan terseok-seok mendorong kereta di depannya, dan aku sudah tidak memikirkan bahaya apa yang akan terjadi jika kereta ini berjalan. Karena saat itu terdengar bahwa kereta yang ku naiki tidak mengikat pen gerbong dengan tepat. Hal itu bisa dirasakan saat kereta berjalan, beberapa kali gandengannya lepas dan terjadi berulang-ulang. Ada penumpang yang panic, ada yang biasa-biasa saja, ada yang berdo’a di balik kerumunan ketiak orang di sekitarnya.. waah hal ini makin menambah rasa cemas dalam hatiku.

Setibanya di Rumah Sakit, istriku yang telah terbaring di kamar menceritakan duduk permasalahannya. Dia bercerita bahwa air ketuban semakin berkurang setiap harinya sejak check up terakhir hari Sabtu yang lalu, jika tidak diambil tindakan akan berakibat buruk terhadap kondisi kesehatan istri dan bayiku. Untuk itu maka dokter mengambil keputusan untuk segera di induksi. Saat itu aku sempat melihat jam ditanganku menunjukan pukul 20.10 WIB. Pembukaan mulai beranjak ke posisi kedua. Pengalaman melahirkan anak pertama aku jadikan pelajaran agar istriku tetap dalam keadaan tenang. Meskipun aku sendiri dalam keadaan gelisah tak menentu namun tetap aku berusaha untuk tenang di hadapan istriku tercinta. Waktu terus beranjak ke pukul 04.00 WIB. Akan tetapi istriku tidak merasakan tanda-tanda akan datang si buah hati. Sang bidan mencoba untuk memeriksa perkembangan istriku, akan tetapi posisi masih saja pada pembukaan kedua. Hingga semakin lama tubuhku semakin lemah tak berdaya. Inikah rasanya menanti kedatangan sang Buah Hati?? Meskipun kali ini adalah yang kedua aku menemani istri melahirkan, tetapi aku masih tetap memancarkan aura yang sangat tegang untuk menerima keadaan ini. Sebaliknya, berbeda denganku istriku malah tampak sangat santai menerima semuanya. Dia belajar untuk relax menjalaninya dan hal itu aku rasakan sangat luar biasa. Aku berpikir bahwa istriku sedang menerapkan metode hypnobirthing yang dipelajarinya beberapa waktu bulan sebelumnya.

Adzan dzuhur berkumandang dan aku mulai kehabisan kesabaran untuk menunggu kehadiran putriku. Diperiksalah kembali keadaan istriku. Ternyata perkembangannya lumayan membuatku kembali optimis untuk menanti buah hatiku. Ketika di nyatakan hasilnya telah berada di posisi pembukaan 5, aku mulai menaruh harapan agar semuanya cepat berlalu. Istriku mulai merasakan kontraksi pada perutnya tidak berkesudahan. Namun dia tetap berusaha relax, sampai-sampai perawat memberikanpujian kepada istriku sebagai orang yang keras kepala serta kuat. Karena hingga saat itu dia tidak lagi histeris seperti pada saat kehamilan anak pertamaku. Sungguh luar biasa persalinan kali ini, aku mulai menanamkan kepercayaan diri pada istriku serta keyakinan bahwa semua akan dapat dilalui bersama.

Enam jam kemudian aku masih berusaha untuk membuat istriku tetap tenang menjalani keadaan yang semakin tegang, dia mulai pucat karena kontraksinya makin hebat. Sesekali ku lihat jam dinding yang menempel di Rumah Sakit Hasanah Graha Afiah Depok tampak tak bergerak dalam otakku. Adzan MAghrib memanggil dan pembukaan belum juga lengkap, yang menambah kepanikan dalam diriku saat itu bahwa dokter yang akan melakukan tindakan belum juga datang, padahal pembukaan sudah diposisi ke Sembilan. Begitu perawat datang dan melakukan pengecekan lagi perkembangannya, langsung saja aku bertanya
“Gimana Suster perkembangan istri saya?”
“masih sama seperti tadi pak, belum ada perkembangan “
“Dokter Tofan sudah datang? Jika belum apakah ada dokter pengganti?”
“Dokternya sudah dalam perjalanan koq pak. Sekarang bapak tenang saja ..”
“ Gimana jika pembukaan sudah lengkap tapi dokter belum tiba kemari?”
“Insya Allah dokter sudah sampai pas pembukaan lengkap”
Jawaban perawat tadi membuat hatiku sedikit lebih dingin meskipun sebenarnya aku meragukan kenyataannya nanti. Sejak jam tiga siang tadi istriku meminta untuk di endorphin message (pijatan yang dilakukan dengan mengelus dari telinga, punggung, turun ke tulang ekor dan berputar ke perut). Namanya juga istri kesayangan, walaupun aku letih tapi aku masih bertanggung jawab terhadap keselamatan dan rasa nyaman yang layak diperoleh istri dan calon anakku yang akan lahir sebentar lagi. Aku tau istriku mulai mencapai level yang tidak sanggup lagi untuk dilalui, namun dia tetap tegar menjalani keadaan pada saat itu. Sesekali raungan keluar dari bibirnya semakin membuat aku tampak tidak berdaya melihat keadaannya. Aku tetap berusaha membuat istriku tenang dan memberikan keyakinan bahwa aku akan tetap ada disampingnya sampai proses persalinan itu berakhir.

Waktu menunjukan pukul 19.00, rasa sakit yang rasakan istriku semakin jadi dan tingkahku yang gugup membuat pikiranku kalut tak tau apa yang harus aku perbuat lagi untuk istriku. Sementara dokter belum juga datang hingga saat ini, dan suster yang mendampingi persalinan sedang berpencar untuk mempersiapkan peralatan yang mungkin akan dibutuhkan ketika si jabang bayi keluar. Tiba – tiba istriku menjerit dengan suara yang menunjukan rasa sakit yang tak tertahan serta ketakutan “ paak udah mau keluar..” dan aku segera menghampiri istriku. Benar saja ketika aku membuka selimut yang membalut tubuh istriku tanpa celana dalam, terlihat gumpalan muncul diantara kedua pangkal pahanya. Itu adalah kepala si jabang bayi yang sudah menunggu untuk segera dibantu keluar. Spontan aku langsung bertieriak sejadi-jadinya…SUSTER..!!! cepat..sudah keluar niiih… tidak lama langsung perawat berhamburan masukk ke ruang persalinan untuk membantu. Sebenarnya aku merasa kecewa terhadap pelayanan sang perawat yang seolah meremehkan kondisi saat itu, namun Aku terus memberikan panduan kepada istriku untuk segera membuka pahanya lebar-lebar agar semua berjalan lancar, layaknya dokter ahli kandungan aku mulai memberikan aba-aba untuk menarik nafas panjang dan mambuang teratur. Hal itu aku lakukan berulang-ulang tanpa memperdulikan lagi perawat yang telat datang ketika aku membutuhkan mereka, hingga saat istriku berteriak ALLAHU AKBAAAAR…. Tidak lama kemudian keluarlah bayi mungil yang terlihat putih pucat diringi dengan darah dan air ketuban yang menemani seolah ikut merayakan kedatangannya ke dunia.

Syukurlah anakku dapat lahir dengan selamat, sehat tanpa kurang sesuatu apapun pada kondisi fisiknya. Setelah di timbang dan di ukur oleh perawatnya, barulah diketahui berat badannya 3,160 Kg dan tingginya 48cm. akhirnya selesailah penantian panjangku yang berbuah manis. Kini saat aku menyelesaikan cerita ini, anakku telah berusia 17 hari. Dia ku beri nama Sarah Ayu Aqila, yang berarti anak perempuan yang riang, cantik dan cerdas. Sesuai dengan namanya, dia memang terlihat cantik dan cerdas. Ada saja tingkah yang membuat orang tuanya selalu memberikan perhatian kepadanya. maklumlah kakaknya yang kini menginjak usia dua belas bulan juga membutuhkan kasih sayang sama besarnya. Semoga namanya dapat menjadikan ia sesuai dengan keinginan kedua orang tuanya sebagai anak yang berguna untuk orang tua, lingkungan sekitarnya, untuk orang-orang yang dicintai dan mencintainya, untuk bangsa dan Negara di bumi tempat dimana dia berpijak.. amiien.

No comments:

Post a Comment

" Berikan Komentar Anda Untuk Postingan Ini "