HALAMAN

Showing posts with label Anakku & MuTe. Show all posts
Showing posts with label Anakku & MuTe. Show all posts

22 March, 2018

KISAH AFIF DAN MUHAMMAD TELADANKU #2






Tulisan lama yang tidak sempat terpublish...semoga masih bisa dinikmati dan menjadi catatan pengingat bahwa anak sulungku pernah begini dan begitu. Kini usianya menapaki tahun ke -10, semoga semakin banyak perkembangan yang dapat ku saksikan sebelum akhirnya catatan ini yang akan dibaca sendiri olehnya di kemudian hari... [YT]


=======================

Afif... Ini adalah kelanjutan cerita tentang mu, kamu yang begitu
terpesona setiap kali aku atau ibu membacakan kisah peperangan  dalam isi buku MuTe. Entah apakah ini termasuk kategori testimoni atau apalah namanya... yang jelas aku terus mengikuti perkembangan
pertumbuhanmu dan semoga bisa terus membimbingmu menjadi insan yang istiqomah dalam mempertahankan iman Islam.


Sejak MuTe habis dibaca sebagai cerita pengantar tidur, hingga kini
kebiasaanmu masih terus berlanjut.. menggambar hal yang bertema
perang. Meski demikian aku tidak pernah khawatir tentang kesukaan
terhadap kisah perang yang tertuang dalam cerita MuTe, karena itu
bagian dari sejarah. Bahkan dalam salah satu event seminar parenting
yang dibawakan oleh Bunda Kurnia Widhiatuti, disana ku lihat salah
seorang peserta bertanya tentang adakah Buku Siroh Nabawi yg tidak
membahas tentang peperangan. Pertanyaan itu terlontar dikarenakan

ia khawatir cerita yang mengusung tema perlawanan, peperangan dan
semacamnya dapat membawa karakter tidak menyenangkan bagi kehidupan buah hatinya kelak. Sepertinya ia begitu khawatir buah hati yang begitu dicintai akan menjadi suka terhadap kekerasan, bertindak nakal, bahkan berujung kepada sulit diatur.

Menurutku, Semua tergantung bagaimana cara membimbing dan mengarahkan jawaban dari setiap keingin tahuanmu. Karena sudah fitrah seorang anak untuk memiliki banyak rasa ingin tahu yang jauh lebih dalam, serta daya serap yang tinggi... oleh karena itu sudah seyogyanya kami
menjadi tambatan dan penuntun arah agar tumbuh kembangmu tak menyimpang dari pedoman Qur'an dan Hadist. Kami justru khawatir saat kami tak sempat memperkenalkan kepadamu tentang  siapa yang wajib engkau jadikan teladan dihari ketika engkau membutuhkan panutan kelak.
        
            oo00oo

Malam menjelang tidur biasanya aku bertanya kepada istriku tentang kejadian hari ini, kemudian istriku menyambut pertanyaan dengan apa yang di lakukan Afif hari ini terhadap temannya.... Kebiasaan menggambarnya ternyata tak hanya dilakukan di rumah saja, tapi juga di sekolah. Ketika sedang asyik menggambar ia didatangi oleh seorang teman yang ingin melihat hasil goresannya. Dan
tau lah Afif jika menggambar tak jauh dari tema perang dan Rasulullah. Temannya berkata 

"..iiiih, gambar apaan tuh? Nabi Muhammad terus, yang lain dong, aku mah ngga suka gambar gituan, bagusan juga gambar robot, power ranger...."

Celotehan kawannya tadi membuat Afif tidak karuan dan mencoba bertanya...

"Kamu tau ngga siapa yang memperkenalkan Islam?" Afif terlihat begitu agresif  mengajak temannya untuk mengklarifikasi pernyataannya tadi. Sementara teman Afif tampak tidak bisa menjawab pertanyaan tadi. "Nabi Muhammad Kan?!!" Hingga ia menjawab, Afif  masih menunggu
temannya memberi jawaban. Namun temannya tak juga bergeming hingga kemudian membiarkan Afif melanjutkan kegiatan menggambar sambil berlalu darinya.

Subhanallah.... Ternyata Afif sudah menemukan idolanya tatkala temannya jatuh hati dengan pahlawan masa kini, ia lebih memilih idola yang dibacakan dari sebuah buku yang di bacakan jelang tidur malamnya.

Aku sendiri tak tau dari buku MuTe yang mana ia menyerap isi cerita, karena kami hanya percaya setiap yang di hasilkan butuh proses, dan semua yang di upayakan dengan baik akan membawa hasil yang baik pula.

Nak...kami tak tau sampai kapan dapat menemanimu, tapi setidaknya kami akan terus berupaya membimbingmu tanpa jemu. Mungkin kami belum menjadi orang tua  yang baik bagimu, tapi kami tetap berusaha untuk belajar menjadi lebih baik karena engkau adalah amanah yang ALLAH titipkan, Semoga ALLAH memberikan ridhoNYA untuk menjadikan kalian anak-anak yang sholeh dan sholehah hingga kami tak tergolong sebagai manusia yang menyia-nyiakan amanahNYA.

[Di tulis dari Depok | 03 Januari 2015]




21 February, 2016

BERADA DI ANTARA MASA DEPAN, MASA KINI DAN MASA LALU



“Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, sungguh mereka akan menghadapi masa depan yang berbeda dari masamu” (Ali bin Abi Thalib R.A)

Kalimat bijak sarat dengan nasehat itu kian bergejolak hebat kala menginjak usia nikah semakin bertambah dan melahirkan empat buah hati yang kian gencar bereksplorasi. Menjadi orang tua zaman sekarang terasa semakin kehilangan kendali. Saingan pendidik semakin banyak. Televisi semakin mudah menyihir kita untuk istiqomah menggunakan konsentrasi penuh terhadap waktu yang begitu cepat berlalu. Facebook, twiter, BBM, Whatsapp, LINE, dan chat tool lainnya seakan menjadikan media kita menjauhi orang – orang terdekat, padahal tujuan awal terciptanya fitur itu adalah untuk mendekatkan yang jauh.... tapi malahan yang terjadi adalah orang yang ada di sekeliling kita menjadi tak terlihat lagi karena asyik memandangi kotak kecil yang lagi-lagi menyihir kita alih-alih fokus dengan percakapan, senyam-senyum sendiri bahkan menertawai layar sentuh berdimensi 5 inchi sambil memainkan jari-jemari berbalas kata. hingga haripun berganti, Cinta tak lagi terjalin indah, kebersamaan berlalu sudah, yang ada hanyalah kesepian dan perasaan hampa ketika perubahan zaman menjadikan posisi berbanding terbalik terhadap fitrah manusia yang diciptakan-NYA sebagai mahkluk social, bukan mahkluk yang mahir bersosialita di dunia maya tanpa batas.

Alangkah cepat waktu berlalu, tak terasa usia anak-anakku ini semakin besar, makin hari kebutuhan mereka akan informasi semakin kompleks.  Namun dalam perjalanan mencari informasi yang di butuhkan, anak-anak butuh bimbingan. Lalu sebagai orang tua bagaimana kita memainkan peran untuk mereka yang mulai mencari sosok terdekat untuk dijadikan teladan mereka, apakah yang harus dilakukan, mengingat aku hanyalah jembatan dalam mencapai masa depan mereka. Jembatan yang kelak akan dilalui oleh begitu banyak keinginan untuk mencapai tujuan, jembatan yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban-NYA. Inilah jembatan yang semakin hari semakin tua dan tetap harus terlihat perkasa, jembatan yang akan menjadi saksi bahwa kelak entah 20, 30, 40 tahun kemudian ada orang – orang yang bangga telah hidup dan menjadi bagian darinya. Atau bahkan menjadi semakin rapuh tergerus oleh kemajuan teknologi yang akhirnya menggantikan posisiku sebagai pengasah, pengasih dan pengasuh ke empat buah hatiku.  

Tapi kemudian apa yang bisa aku lakukan untuk mempersiapkan empat kebahagiaanku ini? Padahal jika direnungkan kembali lebih dalam, semakin banyak usianya lambat laun aku akan bertukar posisi dengan mereka. Jika hari ini ia digendong, boleh jadi 30 tahun kemudian akulah yang akan di gendongnya menuju tempat peristirahatan terakhir. Jika hari ini aku menggandengnya, tidak mustahil 40 tahun lagi ia yang akan menggandengku ditemani tongkat penyangga. Jika kali ini aku menafkahi mereka, lalu apakah mustahil 20 tahun kemudian mereka jauh lebih mampu memberi nafkah untukku, menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu bersama menantu dan cucu? Atau bahkan aku yang akan berada dalam bangsal tua berjeruji besi penuh sesak oleh teman sebaya namun tetap terasa sepi tak bertepi yang kemudian orang memanggil tempat berbayar itu dengan sebutan “panti jompo”...

Ada yang tertinggal dari pencapaian masa depannya, sebelum mengenalkan apa itu masa depan, sebaiknya kenalkan kepada mereka tentang masa lalu… SEJARAH… yak, sejarah dan figure manusia terbaik sepanjang zaman. Tentang siapa Rabb nya, tentang bagaimana Alquran turun dan [harusnya] menjadi pedoman seluruh umat di bumi, tentang siapa Muhammad SAW, bagaimana hingga beliau menjadi Nabi terakhir dan tiada lagi manusia yang diutus menjadi nabi setelahnya hingga datangnya hari akhir. menjadi perlu mengenalkan sejarah kepada mereka untuk dijadikan figure buat memaksimalkan karakter putera-puteriku agar mampu menyongsong masa depan mereka menjadi manusia yang lebih baik dengan mencontoh sosok manusia terbaik. Karena seperti yang telah di sampaikan oleh Rasulullah melalui sabdanya:

Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” (Shahih Al-Bukhari, no. 3650)

Itulah alasan mengapa perlu mengenalkan mereka [anak-anakku] tentang sejarah, karena disadari atau tidak, sejarah akan berulang. Sehingga kita perlu membekali diri agar mendapatkan jalan keluar yang baik.

Ah....sudah tiba saatnya tersadar dan terus belajar bagaimana menghargai waktu tentang membangun mahligai kebersamaan dengan putera-puteri tercinta, menjadikan anak sebagai kebahagiaan bukan beban, mencari pengetahuan tidak harus mendapatkan masalah duluan, kalaupun kita menganggap adanya anak sebagai ujian, percayalah bahwa ALLAH tidak akan menguji hambaNYA di luar kemampuan. Karena empat anak tak berdaya ini jika ALLAH mengizinkan kelak akan menjadi menusia yang digdaya, yang pada waktunya menjadi manusia gagah perkasa yang memiliki daya upaya karena ALLAH bersamanya. Manusia yang cantik, enerjik tapi juga harus mengenal siapa Rabb-nya agar tak terjerat kedalam fitnah dunia yang penuh tipu daya. Manusia yang menjalankan ibadah kepadaNYA bukan kerana takut akan Neraka dan menginginkan Surga. Manusia yang bisa bersosialisasi tanpa harus banyak basa basi apalagi berhalusinasi punya bermacam model mercy hanya modal punya meja kerja dan pakai dasi, bahkan untuk mencari tiga piring nasi harus nunggu hasil dari korupsi.. 

Wahai anak-anakku tercinta, kelak ketika aku lupa dengan apa yang sudah terucap, mohon segarkan kembali ingatanku, mungkin waktu dapat menghapus lisanku, tapi tulisan ini abadi untukmu, wahai istriku tersayang, maaf jika aku tidak peka terhadap apa yang engkau rasa, mungkin karena aku tercipta sebagai mahluk perkasa dan engkau tercipta sebagai mahkluk cantik nan perasa. Tapi percayalah... aku mencoba untuk menyelaraskan dua perbedaan kita sebagai media pencapaian tujuan kita mengharap ridhoNYA. Semoga kelak anak-anak kita bisa memakaikan mahkota emas di sana atas apa yang telah kita upayakan bersama... tapi di sini, biarlah kita jalani hidup seperti adanya dengan cinta dan bahagia karena Allah semata.

Depok, 21 Februari 2016 | di tulis dari Depok dengan penuh cinta, boleh di baca sesiapa dimana sadja |Satu Lelaki untuk satu istri dan empat buah hati


22 December, 2015

BUKU vs GADGET



Buku.... untuk zaman sekarang mungkin mayoritas orang hanya mencibir melihat tingkat kekiniannya di banding keluarga besar gadget seperti telepon selular, tablet, komputer, dan perangkat lunak lainnya yang bisa di tunjang dengan koneksi internet... apalah arti sebuah buku dengan harga selangit...jika dengan bantuan mesin pencari kita langsung bisa browsing, googling, surfing, ke dunia maya cukup mengkonversi pulsa dengan nominal  harga se-iprit  gambar dan ilmu bisa di terima tanpa limit.


Sebagian yang lain akan menyebutkan bahwa zaman sudah bergulir, mungkin dulu buku menjadi idola karena belum ada yang namanya teknologi tingkat tinggi. Mau kasih kabar saja harus pake surat, mulai cari-cari bagian tengah buku yang lembaranya kosong rapi terlipat,  hari ini selesai di buat sampai di penerima sudah hari ke empat. Itupun perjalanan paling cepat, bagaimana kalau mau lebih cepat tapi harga lebih hemat? Ya pake telegram yang nulisnya pakai sandi morse dan baru bisa di konversi ke bahasa yang layak dibaca di hari yang sama tapi selang beberapa jam saja itupun beritanya Cuma muat beberapa kata, mirip sms tempo dulu. Ah...sulitnya cari informasi di zaman itu...


Tapi untuk kali ini maaf, aku tidak sepaham dengan kekata di atas... aku tetap berpendapat bahwa buku adalah jendela ilmu sementara harga merupakan faktor penentu kualitas. Tak akan berharga suatu karya tanpa adanya kualitas, dan tak akan mungkin seseorang bisa menghargai suatu karya tanpa dia bisa memaknai bahwa proses pencarian dan penemuan suatu ilmu adalah menjadi bahan pertimbangan dan penyebab timbulnya penyesuaian harga...ah, kenapa jadi jauh nyeleneh begini topik nya. Oke..oke, kembali ke buku ...


Contoh kecil buku berharga untuk keluarga yang paling pertama kami miliki adalah “MUHAMMAD TELADANKU” yang orang banyak menyingkatnya dengan sebutan ‘MuTe’ [bagi sesiapa yang belum tau buku ini di anggap ngga gaul #eeaaa]. Sudah hampir empat tahun buku ini bersanding di rumah kami sebagai teman pengantar tidur anak. Karena hanya ini buku bacaan favorit anak-anak di antara berbagai buku yang kami punya sebagai ganti dari “kotak hitam” bernama televisi.

Pepatah yang menyebutkan “Tak Kenal Maka Tak Sayang” adalah ungkapan yang tepat. Terkadang kita ingin mencontoh keteladanan Rasulullah tapi secara tidak sadar pengenalan diri terhadap siapa sosok Nabi Muhammad SAW, bagaimana kesehariannya, apa saja aktifitasnya, siapa saja anaknya, bagaimana beliau memperlakukan istri dan anak-anak, apa sebab hingga sahabat dan ummat di zamannya begitu mencintai sosok Muhammad SAW di bandingkan diri sendiri, dan hal lain tentang Rasulullah yang tidak kita ketahui secara mendalam. Akhirnya kita hanya mengetahui sebagian dan menghilangkan sebagian yang lain. Hingga kita mudah terinfeksi pemahaman dari luar yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.


Berkaca dari diri sendiri...Terkadang aku malu mau mengakui sebagai ummat Nabi Muhammad SAW, tapi aku sendiri tidak mengetahui biografinya. Biasanya sih begini... jika kita mengidolakan seseorang, usaha terbaik akan di lakukan untuk mencari informasi tentang idola kita. Nah.. lantas terbersitlah dalam kepalaku sambil cengar-cengir sendiri, “Hei Bung..pernah ngga berpikir jika suatu hari nanti anak-anakmu bertanya seperti ini....:

“Bapak... Nabi Muhammad itu pernah mimpin berapa kali perang?.... trus kata pak guru Nabi Muhammad SAW itu sangat adil kepada istri dan anak-anaknya, emang berapa sih anaknya Pak?”


HHmmm... berapa yah....ah..eh.. sebentar Bapak liat internet dulu


“Bapaaak... sahabat nabi itu ada berapa sih?”


“Naah yang ini aku tau niiiih.... Sahabat Rasulullah itu Ada 4 sayang...”


“Bapaaak... koq dikit amat, emangnya Nabi ngga gaul yah dulu? Sahabatku aja banyak... “” #NahLOh


Trus... aku mesti gimana???? Cari di internet? Tanya mbah gugel gituh? Plis deh #tepokJidat


Naaah... itulah salah satu penyebab terbelilah buku [MuTe] ini J


Bukan berarti buku itu aman 100% dari infeksi paham menyesatkan, tapi setidaknya informasi yang kita dapatkan dari buku memiliki nilai pertanggung jawaban yang tinggi, punya badan sensor yang jelas, hingga jika terjadi kekeliruan dalam penyampaian informasi dapat dengan mudah di revisi dan ditindak lanjuti. Bagaimana informasi yang kita dapat dengan cara yang mudah melalui internet??? Eeehhhmmm.... sepertinya aku ngga bisa mengomentari lebih jauh, karena mungkin sudah banyak yang mengalaminya #Eaaa. 


Loh...media elektronik gimana tivi misalkan banyak juga koq informasi yang jelas dan siaran bagus!?.. Bagus buat kita belum tentu bagus buat anak-anak kita J. Untuk penjelasanku yang ini harap di maklumi, Mohon jangan menganggap ku sebagai orang yang anti teknologi dan lebih memilih ngga punya tivi, tapi seiring dengan banyaknya tayangan di stasiun tivi yang semakin langka untuk di konsumsi oleh anak-anak maka aku dan istri mengambil keputusan untuk menyingkirkan televisi di rumah dan memasukannya ke dalam gudang di pojok dapur dekat ruang masak dan cuci. 

Faktor penyebab hingga akhirnya kami memilih buku MUHAMMAD TELADANKU sebagai pengganti tivi di mana benda ini merupakan perangkat lunak pilihan nomor satu.. antara lain adalah, yang pertama tivi sudah masuk kedalam kotaknya dan kami butuh pengalih perhatian untuk aktifitas anak-anak. Kedua, sebagai orang tua...aku butuh aikon idola yang bisa di teladani bagi anak-anakku di kemudian hari. Ketiga, buku ini adalah salah satu yang bisa kami beli dengan harga mencicil... [qiqiqiqi]. Maklum lah sebagai orang tua pembelajar, aku sangat minim pengetahuan dan sarat akan keingin tahuan, tapi dengan tidak meninggalkan tujuan, perlu juga menyiasati kebutuhan ekonomi alih-alih efisiensi supaya dapur tetap ngebul tapi mendidik anak tetap menjadi yang utama dalam tujuan.

Dan Sahabat...inilah cerita tentang aku, kamu, dia, mereka, kita semua



Depok, 21 Desember 2015| Di tulis dengan hati, Boleh di baca sesuka hati


04 January, 2015

KISAH AFIF & BUKU MUHAMMAD TELADANKU #2

[Terobsesi Dari Kisah MuTe, Afif Minta Di Buatkan Pedang
dan Perisai Dari Kardus Bekas]
Afif... Ini adalah kelanjutan cerita tentang mu, kamu yang begitu terpesona setiap kali aku atau ibu membacakan kisah peperangan  dalam isi buku MuTe. Entah apakah ini termasuk kategori testimoni atau apalah namanya... yang jelas aku terus mengikuti perkembangan pertumbuhanmu dan semoga bisa terus membimbingmu menjadi insan yang istiqomah dalam mempertahankan iman Islam.


Sejak MuTe habis dibaca sebagai cerita pengantar tidur, hingga kini kebiasaanmu masih terus berlanjut.. menggambar hal yang bertema perang. Meski demikian aku tidak pernah khawatir tentang kesukaan terhadap kisah perang yang tertuang dalam cerita MuTe, karena itu bagian dari sejarah. Bahkan dalam salah satu event seminar parenting yang dibawakan oleh Bunda Kurnia Widhiatuti, disana ku lihat salah seorang peserta bertanya tentang adakah Buku Siroh Nabawi yg tidak membahas tentang peperangan. Pertanyaan itu terlontar dikarenakan ia khawatir cerita yang mengusung tema perlawanan, peperangan dan semacamnya dapat membawa karakter tidak menyenangkan bagi kehidupan buah hatinya kelak. Sepertinya ia begitu khawatir buah hati yang begitu dicintai akan menjadi suka terhadap kekerasan, bertindak nakal, bahkan berujung kepada sulit diatur.

Menurutku, Semua tergantung bagaimana cara membimbing dan mengarahkan jawaban dari setiap keingin tahuanmu. Karena sudah fitrah seorang anak untuk memiliki banyak rasa ingin tahu yang jauh lebih dalam, serta
daya serap yang tinggi... oleh karena itu sudah seyogyanya kami menjadi tambatan dan penuntun arah agar tumbuh kembangmu tak menyimpang dari pedoman Qur'an dan Hadist. Kami justru khawatir saat kami tak sempat memperkenalkan kepadamu tentang  siapa yang wajib engkau jadikan teladan dihari ketika engkau membutuhkan panutan kelak.

oo00oo

Malam menjelang tidur biasanya aku bertanya kepada istriku tentang kejadian hari ini, kemudian istriku menyambut pertanyaan dengan apa yang di lakukan Afif hari ini terhadap temannya.

... Kebiasaan menggambarnya ternyata tak hanya dilakukan di rumah saja, tapi juga di sekolah. Ketika sedang asyik menggambar ia didatangi oleh seorang teman yang ingin melihat hasil goresannya. Dan tau lah Afif jika menggambar tak jauh dari tema perang dan Rasulullah.

Temannya berkata "..iiiih, gambar apaan tuh? Nabi Muhammad terus, yang 
lain dong, aku mah ngga suka gambar gituan, bagusan juga gambar robot, 
power ranger...."

Celotehan kawannya tadi membuat Afif tidak karuan dan mencoba bertanya...

"Kamu tau ngga siapa yang memperkenalkan Islam?" Afif terlihat begitu agresif  mengajak temannya untuk mengklarifikasi pernyataannya tadi. Sementara teman Afif tampak tidak bisa menjawab pertanyaan tadi.

"Nabi Muhammad Kan?!!" Hingga ia menjawab, Afif  masih menunggu temannya memberi jawaban. Namun temannya tak juga bergeming hingga kemudian membiarkan Afif melanjutkan kegiatan menggambar sambil
berlalu darinya.

Subhanallah.... Ternyata Afif sudah menemukan idolanya tatkala temannya jatuh hati dengan pahlawan masa kini, ia lebih memilih idolanya sendiri dari sebuah buku yang di bacakan jelang tidur malamnya.

Akupun tak tau dari buku MuTe yang mana ia menyerap isi cerita, karena kami hanya percaya setiap yang di hasilkan butuh proses, dan semua yang di upayakan dengan baik akan membawa hasil yang baik pula.

Nak...kami tak tau sampai kapan dapat menemanimu, tapi setidaknya kami akan terus berupaya membimbingmu tanpa jemu. Mungkin kami belum menjadi orang tua  yang baik bagimu, tapi kami tetap berusaha untuk belajar menjadi lebih baik karena engkau adalah amanah yang ALLAH titipkan, Semoga ALLAH memberikan ridhoNYA untuk menjadikan kalian anak-anak yang sholeh dan sholehah hingga kami tak tergolong sebagai manusia yang menyia-nyiakan amanahNYA.

[Di tulis dari Depok | 03 Januari 2015]

30 October, 2014

KISAH AFIF dan BUKU MUHAMMAD TELADANKU #1

Kegiatan Afif Sebelum Tidur
SELAMATKAN ISLAAAM!!!...sayup-sayup terdengar teriakan dari kamar
sebelah, tak ayal lagi...itu suara putra sulungku Afif. Tapi ini sudah
tengah malam, apakah ia masih terjaga? Ngga mungkin!! Ia pasti sedang
bermimpi. Aku memang sering sekali kerja di kamarku hingga larut
malam. Tapi baru kali ini ku dengar ia mengigau seperti itu...apalah
yang sedang dipikirkannya.


Keesokan hari istriku becerita bahwa ia juga mendengar Afif mengigau,
mungkin karena sebelum tidur ia diceritakan tentang siroh nabawi
tentang Perang Uhud yang dikemas dalam buku Muhammad Teladanku [MuTe
Buku 8]. Memang malam itu ia begitu khusyu menyimak lantunan kata yang
keluar seolah berada dalam situasi peperangan. Padahal hanya beberapa
lembar saja ia mendengar dan setelah itu baru tidur bersama ibunya
yang ikut terlena dalam suasana hening pasca mengantar tidur
putera-puteri kami dengan cerita di MuTe. Sementara aku masih tetap
dengan mengejar pekerjaan yang hampir deathline di kamar sebelah.


---oo---

Hari berganti... Afif semakin besar, tumbuh menjadi seorang anak
lelaki yang aktif dan bersosialisasi adalah perkara mudah untuknya. Ia
senang sekali menggambar...jika ada kertas yang tidak terpakai atau
ada celah saja untuk ia menggoreskan bentuk, maka jangan salahkan
jika suatu saat  kertas itu di temukan, tanpa pikir panjang akan ia
pakai. bagaimana hasil gambarnya. Hehehe..untuk yang satu ini..maaf,
masih jauh dari kata sempurna. Yang penting dalam prosesnya, bukan
soal hasil goresan dan bentuk akhirnya, tapi bagaimana caranya
memaparkan apa yang ada dalam fikirannya dan mengilustrasikan dalam
selembar kertas. Karena dulu seingatku saat kecil, aku tidak pernah
kepikiran untuk memiliki kebiasaan sepertinya. Awalnya ia senang
sekali menggambar tokoh karakter kartun "Si Burung Marah" tapi
sekarang semakin hari tema gambarnya berubah.


Beberapa malam lalu aku dapati anak-anak telah tidur di kamarnya,
hanya posisi Afif yang masih belum rapi. Setengah badannya berada di
kasur dengan tangan memegang pulpen, sementara kakinya melipat di
lantai untuk menopang tubuhnya. Di antara kepala dan tangan ada buku
yang sepertinya belum selesai ia coret-coret... ku amati satu persatu
gambar hasil coretannya...Ada orang membawa pedang, ada kotak seperti
tas, ada bentuk bulat dan pedang, dan yang mengejutkan... ada lafaz
Muhammad [Nabi Muuhammad SAW]. Ah...apalah arti semuanya... hanya dia
dan ALLAH sajalah yang tau, jadi aku harus minta penjelasannya besok
pagi sebelum ia berangkat sekolah.


"Afif...Sini Nak.." aku memanggilnya dengan halus, "semalam Bapak liat

di kamar kamu lagi gambar terus ketiduran yaaa.. Emang kamu lagi
gambar apaan sih?"

Afif hanya tersenyum sambil manggut-manggut hingga terlihat sebagian
giginya yang tanggal. Tak lama Istriku membawa gambar tersebut dan
menunjukan pada Afif. Istriku ikut bertanya tanda #kepo. Terjadilah
percakapan:


Ibu: Afif kalo gambar orang bawa pedang ini maksudnya apa?

Afif: Itu Orang sedang perang..[senyum malu]

Ibu: Kalo Kotak ini?

Afif: Itu Harta rampasan Perang Buuu...[mulai semangat menjelaskan]

Ibu: Yang bulet-bulet mirip obat nyamuk bakar?

Afif: Itu Perisai Ibuuuuk...[nada sewot]

Ibu: Oooooh..Nah..ini ada bulet-bulet kayak bahasa Arab..Koq kayak

tulisan Muhammad?


Afif: iiiiyyyyaaak...

Ibu: Koq Bisa???

Afif: kan Afif Liat-liat di Buku MuTe, terus di contoh deh..akhirnya

Bisa sendiri.


Subhanallah... banyak sekali ia menyerap sisi postif dari cerita MuTe,
semakin hari ada saja energi yang tumbuh hasil dari membacakan cerita
ini. Di tambah lagi pasca penghapusan jam menonton televisi dirumah
membuat ia berpikir keras untuk mencari kegiatan agar dapat mengisi
jam lowong yang biasanya di pakai menonton. 
Uniknya... sejak ada MuTe, hampir setiap malam menjelang tidur ia sempatkan menggambar, dan gambarnya terinspirasi dari cerita MuTe

Sejujurnya Aku tidak melarang ia untuk bersosialisasi dengan dunia
luar termasuk televisi, karena di luar ia masih dapat menonton juga.
Tapi setidaknya ketika tiba di rumah, ada hal yang harus di tegaskan
bahwa kreatifitas tidak akan pernah tumbuh hanya dengan menonton. Jadi
kenapa tidak kita kembangkan emosi dan kreatifitasnya sejak dini,
dengan sentuhan kecil saja, seperti membacakan buku bertema positif
sebelum tidur, maka kita sudah menyumbangkan begitu banyak jembatan
untuk membangun masa depannya.


Jika dulu melihat harga MuTe aku sempat melotot karena kaget dengan
nilainya yang bisa untuk bayar iuran sekolah Afif selama 7 Bulan,
sekarang justru aku lebih melotot melihat perkembangan positif yang ia
dapat dari pertemuan kami di kamar tidur hanya beberapa saat bersama


Jadi baru ku temukan makna yang tepat dari kata-kata "ANAK ADALAH
INVESTASI"... karena anak bukan hanya sekedar di lahirkan dan
bertumbuh, melainkan ia yang harus kita pupuk, kita rawat, kita jaga
sekalipun sering terjaga dalam malam karena ia tengah sakit demam.
Anak yang harus kita besarkan dengan hati yang besar sekalipun
terkadang kita memperlakukannya dengan ekstra sabar. Anak yang harus
kita asah agar kelak menjadi orang yang soleh dan solehah. Anak yang
kita cinta karena Allah..agar ia yang jadi salah satu jembatan kita
mencapai pintu Jannah...


Sahabat...inilah tentang aku, kamu, dia, mereka, kita semua.