HALAMAN

Showing posts with label bukan CERITA PORNO. Show all posts
Showing posts with label bukan CERITA PORNO. Show all posts

12 September, 2023

AQILA SUDAH BISA MENULIS KISAHNYA

Lama sudah nggak mengisi ruang ini. Ruang dimana aku bisa mencurahkan segala isi hati dan meracau untuk menetralisir isi otak yang kram dan terlanjur kacau. Namun kali ini aku ingin memposting tentang Aqila. Masih ingat kan tahun 2009 yang lalu berkejaran dengan kemacetan dan pulang berdesakan pakai kereta dalam kota hanya untuk mengejar anak perempuanku yang akan segera lahir?!. Buat yang pernah membacanya pasti akan bilang "...OIYA!" 

Untuk urusan cantik, dia lebih senang di bilng mirip ibunya, tapi jangan tanyakan urusan curhat, dia akan memilih cerita kepada seseBapak yang bersedia meluangkan waktunya untuk mendengarkan keluh kesan dan memberikan solusi terbaik atas masalah yang sedang dialaminya. Itu sebabnya dia menjadi wanita ternyaman saat berada di sisi sang bapak.


Nah ...sekarang anak bayi itu sudah beranjak remaja dan bisa mengaspirasikan isi hatinya kedalam tulisan. Bahkan nggak tanggung-tanggung, ia mengisahkan Bapaknya kedalam tulisan yang kemudian menjadi karya tulisan sekolah, hingga dipajang di dinding sekolahnya. Mereka yang membaca kemudian Tertawa, bersedih, hingga menangis haru terbawa suasana saat membaca hasil tulisannya.

(Ini TULISAN AQILA yang sempat di pajang di sekolahnya dan membuat mata yang membacanya mengharu biru...)

02 February, 2014

HIDUP ITU.... SEPERTI BERSEPEDA

Minggu , Juni 2011
Waduuhhh…. KESIANGAAAN!!! Samar – samar kulihat jam dinding menunjukan pukul 06.20 WIB kenikmatan dunia yang begitu mempesona dalam ranjang empuk dengan improvisasi menguap gaya Pak Ogah dalam film boneka si UNYIL sesaat berubah menjadi suasana dramatis. padahal Janji untuk ketemuan dengan teman – teman kantor harusnya sudah terealisasi 10 menit lalu dan aku sudah ada di Stasiun KRL Universitas Indonesia. Hal ini membuatku belingsatan untuk prepare apa yang harus di butuhkan. Ketemuan dengan teman – teman kantor kali ini bukanlah meeting membahas pekerjaan ataupun undangan resepsi pernikahan… apalagi pendaftaran mahasiswa baru. Kami memang sudah berkomitmen untuk bertemu disana untuk bersepeda bersama.

“gawat!!... GAWAT…!!” Sesekali ngedumel sama diri sendiri karena sudah telat janji. Ku ambil henpon dan terlihat dalam layar enam kali miskol dari Alip yang sejak setengah jam lalu berusaha menghubungi, disusul dengan sebuah pesan pendek berbunyi “Dimana Chuun, kita udah nunggu di stasiun UI” .
Dengan sigap sepeda gunung merk local bertipe “Broadway 3.0” sudah terangkat dalam genggaman dan bergegas mengayuh sepeda layaknya tukang somay yang berkolaborasi dengan gaya Valentino Rossi.. *ngga kebayang*

[30 menit kemudian]
Berhenti di depan halte celingukan bingung mau kemana, maklum ini adalah kali pertama aku mengunjungi UI untuk sengaja bersepeda, dengan kacamata safety dan sepatu kets ditambah aksesori botol air mineral yang berisi tinggal 1/3 botol menghiasi tas yang di selempang menyilang di bahu dan peluh yang membasahi sekujur tubuh efek dari jarang olahraga menyebabkan tubuh kaget menerima stimulasi gerakan yang terus menerus lebih dari 1 menit. Bak seorang tukang kredit tempo doeloe yang dikombinasikan gaya penjaja somay dengan performa masa kini ku ambil henpon dan kirim pesan singkat sambil bergaya, seolah – olah tidak mendengar panggilan Alip yang 30 menit lalu sudah sibuk absen siapa saja yang akan hadir.

“ada dimana bro? sori tadi ngga kedengeran telpon, lagi otw… cepat bales gue di halte poltek “
[sesaat tanda SMS balasan] “elo niiih udah telat nyasar pula, Tanya aja hutan UI dimana, buruan ditungguin sama yang lain, gapake LAMA!!”

Hwaaa…. Pesan singkat yang berarti sangat dalam… “SUDAH TELAT, NYASAR PULA”  perlu di garis bawahi dan cetak tebal. Memang begitu kenyataan pahit yang harus diambil. Tenyata memang yang lain sudah ada di lokasi sejak lama. Ngga apalah yang penting bisa hadir kali ini.maklum penjajakan sepeda baru dengan tayangan perdana. Sudah sampai UI sadja itu merupakan suatu predikat hebat yang belum tentu semua orang bisa menyandangnya… [biar narsis asal eksis] *halah, apa coba*

Dari kejauhan terlihat sosok gempal berhelm catok ala bikers dengan sepeda hitam senyum – senyum ngga jelas… yak!! Itu Alip yang sejak tadi berkomunikasi denganku via sms. Dia memang sudah sering kemari dan juga merupakan member tetap di UI. Kalo boleh di umpamakan, ibarat kataaaa…. jin UI aja sudah jadi sohib dan tunduk, saking lama nya dia main sepeda di sini. Padahal rumahnya itu ada di sekitar poltangan, pasar minggu. Ngga kebayang jauhnya, tapi katanya jarak segitu biasa saja. Wew!! Dua jempol teracung dengan manis kala ia menjelaskan perjalanannya menuju ke UI.

***

Waktunya mengelilingi hutan UI, aku bertanya pada Alip yang biasa main di sini…

“gimana aturan mainnya bro? cape ngga?”

“Lo ikutin aja, deket koq … paling cuman 15 menit selesai”

Halaaah… gampang kalo gitu, dalam hati sesumbar karena ku pikir semuanya bisa di pelajari ilmunya. Dengan persiapan kekuatan jantung yang seadanya aku berusaha untuk menyesuaikan diri dengan mereka yang sudah seperti pemain professional. Sementara keliatan banget aku yang dengan datang santai karena hanya sebatas bermain sepeda dan mengeluarkan keringat setelah itu kembali pulang kerumah dan menikmati sepiring mie goreng buatan istri tercinta yang baru saja di request bersama dengan terkirimnya pesan singkat di BB.

Singkat cerita jalan yang ku lalui tidak sesuai dengan yang ku bayangkan tadi, entah apakah Alip sedang meng- OSPEK pemain baru atau aku yang baru main sepeda.. dalam hati ngedumel sendiri membandingkan kenyataan yang tidak sesuai harapan. Rute jalannya sangat tidak nyaman, belokan mendadak, sementara ranting-ranting yang bertabrakan dengan kulit hingga sesekali menggores dan membuat luka baru. Belum lagi nafas yang terengah – engah seperti di kejar malaikat maut. Hwaaaaa!!! KAPOOOOK!!! Ini seperti ngeliat event motocross di tiviiii… Cuma bedanya ngga ada mesin dan knalpotnya di mulut.. HOHhh….HOHhhh..Hohhhh… *ngos-ngosan*

Nafas yang tersisa mirip fenomena serangan jantung mendadak. Jantung berdegup kencang seperti mau copot dari dan dengan sisa tenaga kupaksa kayuh hingga ketemu titik terakhir. Sementara aku sudah tertinggal jauh di belakang Alip dan satu teman lagi yang mendampingiku. Kupaksa lagi mengayuh sepeda kemudian kaki ini seolah kaku kemudian berhenti dan menjatuhkan sepedaku semau-maunya. Pertanda sudah tidak kuat lagi menggenggam sepeda yang ku bawa.

Hahhh..hahhhh..hoh..hohhh…hohhhh… suara nafas sudah ngga jelas dengan volume kencang dan desah yang kian stereo, kemudian Alip kembali menyisir mundur jalannya dan menemukan aku tergeletak lemas tak berdaya

“kenape lo Chuuun?” senyumnya lepas bersamaan dengan deru nafas seperti mengolok – olok ketidak berdayaanku.

“CAPPHEEEK!!  (..hohhh…hohhh..hohhhh..)” mataku mulai berkunang – kunang melihat wajah Alip seolah berbadan dua puluh tiga, rasanya sudah mau pingsan aku kali ini. Sementara untuk membuka mata saja sudah tidak mampu. Ironisnya di tempat aku berhenti tidak ada yang berjualan air atau minuman kaleng. “Yaaa iyyyalaaaah”…. Ngga mungkin juga mereka jualan di track sepeda. Itu hanya pemikiran bodohku saja yang manja semua mau di peroleh dengan instan.

 ***

Hehehe… itulah pengalaman pertama bersepeda yang begitu membuat tertawa malu sendiri karena ketidak tahuan serta keinginan yang begitu tinggi untuk mencoba. Malah berbuah kepayahan yang berkelanjutan. Dan apa yang terjadi setelah keluar dari track hutan UI kemudian pulang kerumah????
Inilah kenyataannya… :

ü  setelah ku hitung dan membedakan perjalanan berangkat di awal, ternyata aku sudah berhenti sebanyak 11 kali dari mulai UI sampai kerumah… hmmm.. jaraknya kalo dihitung sekitar enam kilometer.

ü  Menghabiskan 6 botol Air Mineral isi 600 ml.

ü  Menghabiskan waktu sebanyak 15-20 menit setiap kali berhenti istirahat.

ü  Pegal – pegal yang berkelanjutan di sekitar selangkangan, dan mengembalikan dalam keadaan normal hingga 3 hari lamanya.

Sejak saat itu undangan bersepeda terus berdatangan, dan aku menyanggupinya. Meski apapun terjadi sepeda terus ku kayuh dan tak berhenti hingga disitu. Sebuah kenikmatan ketika kita bisa berada di garis finish dan menyelesaikan tantangan demi tantangan.

Down hillers Sebelum start di Cikole, Bandung

Down Hillers di Puncak



Memang ngga bisa di bayangkan dengan kata – kata, hanya bisa di nikmati tanpa kata – kata hingga aku bisa membayangkan betapa penggila sepeda ini memiliki “ketagihan” yang begitu hebat. Dan hanya orang – orang yang memiliki kecintaan saja yang bisa merasakan betapa olahraga ini begitu nikmat terasa.

Tapi aku tidak membahas lebih dalam tentang kegilaan bersepeda, dengan adanya peristiwa bersepeda yang membuatku nyaris kehabisan nafas justru malah menorehkan hikmah tentang bagaimana cara yang bijak menyikapi hidup.

Dan ini lah hikmah tentang kehidupan yang bisa ku petik dari fenomena bersepeda :

ü  HIDUP itu seperti berSEPEDA, Jalani saja sepeda itu dengan kekuatan yang dimiliki, jangan memaksakan diri untuk meraih apa yang tidak dapat di capai. Ketika kita punya niat dan terus menjalaninya dengan segenap kekuatan  yang di miliki, kemudian menyelaraskan diri antara niat dan usaha, maka ALLAH yang akan memudahkan kita untuk mencapai tujuan. Karena kita tidak bertanggung jawab terhadap masalah yang ditemui, melainkan hanya di minta BERUSAHA, selebihnya biarkan DIA yang menilai upaya kita dalam menjalaninya.

ü  HIDUP itu harus SEIMBANG : layaknya bersepeda, antara mengayuh pedal dengan menjaga keseimbangan tubuh haruslah terjaga, jika tidak di lakukan, maka tidak menutup kemungkinan kita akan terjatuh. Sering kali pemaksaan keadaan terjadi hingga akhirnya tubuh terbelit dengan masalah sendiri, padahal andai saja kita focus dengan tujuan dan menikmati setiap detik waktu berjalan maka perjalanan yang jauh akan terasa dekat.

ü  Jalani hidup dan jadilah diri sendiri : kita ngga perlu mengejar apa yang telah di capai orang lain, cukup menjadi diri sendiri, mengukur kemampuan diri sebelum akhirnya memutuskan untuk berjalan mencapai tujuan adalah sangat bijak. Karena hanya kita yang tau kapan waktunya berjalan, kapan saatnya beristirahat. Yang perlu kita miliki adalah TARGET, NIAT, IKHTIAR, dan semuanya disempurnakan sambil berjalan.

Sahabat….inilah cerita tentang aku, kamu, dia, mereka….  Kita semua J









02 December, 2013

PARA PENCARI SEDEKAH [Profesi VS Pahala] / Bag.2 [Selesai]



Postingan ini bukan bermaksud untuk membandingkan keadaan mengungkit niat baik atau mengemis belas kasih. Jauh dari pada kesan tersebut sebagai pemilik blog hanya ingin mengembangkan informasi bahwa masih di sekitar Jakarta ada satu tempat yang membutuhkan uluran tangan para dermawan berjiwa sosial tinggi dan merasa dirinya terpanggil dalam membantu meneruskan cita-cita mereka para penjemput impian…sekalipun tidak berdiri di lampu merah, mereka tetap tidak pernah mengeluh dengan keadaan, karena mereka tahu bahwa hidup harus terus berjalan...bertahan....dan berTUHAN ...... 
[@yudha_rui]
***



Depok, Mei 2013

Suara riuh rendah puluhan anak anak bergema dalam mushola kecil di Jl. Kesadaran Cikumpa Rt.03/Rw.09 (Studio Alam TVRI) Kelurahan Sukmajaya, Depok. Letaknya memang jauh dari jalan raya, sekilas tak nampak adanya kegiatan jika kita melintas di depan bangunan yang menjorok kedalam tersebut, karena memang tempat ini begitu sepi jika terlihat dari luar. Bukan karena ingin menutup diri, tapi karena letak bangunan yang memang berada di ujung jalan membuat seolah orang yang baru pertama kali melintas akan beranggapan seperti itu. Hanya terlihat pagar setengah terbuka dan puluhan sandal milik ‘para penjemput impian’ (baca: santri Yatim-Dhuafa) yang tengah asyik parkir sejak pukul 4 pagi tadi.

Sebagian anak membaca huruf arab bersambung dikemas dalam sampul berjudul IQRO, masih mengeja dan terbata-bata… sementara sebagian lainnya mulai menghafal surat pendek untuk di “setor”kan kepada guru pembimbing. Suatu fenomena yang sudah mulai langka di kehidupan pinggiran kota depok, dimana anak – anak sekecil itu sangat antusias dalam mencari ilmu agama sementara waktu yang harus nya masih mereka pergunakan untuk beristirahat rela di korbankan untuk mencari ilmu. Dengan gigih mereka hadir ke majelis dalam rangka mendekatkan diri kepadaNYA. Ah…sesuatu yang begitu tenteram dan nikmat ketika aku merasakan berada diantara mereka.

 Anak – anak binaan Yayasan CendikiaAttaufiqurrohman berasal dari warga penduduk sekitar, dimana sekelilingnya di ‘kepung’ dengan kompleks perumahan real estate. Ironinya sebagian penduduk perkampungan disekitar mayoritas mengais rejeki bekerja sebagai buruh cuci, tukang ojek dan pemulung barang bekas dengan pendapatan dibawah rata - rata. Sehingga hal ini melatar belakangi di dirikannya YayasanCendikia At Taufiqurrohman. Yayasan membebaskan bayaran dan memberikan konsumsi kepada anak-anak yang datang mengaji kepada anak – anak dari warga yang memiliki kategori yatim dan dhuafa.

Aku  sendiri sebenarnya telah lama di undang oleh Edi untuk hadir ke yayasan Cendikia At Taufiqurrohman. Edi adalah ketua kelasku di kampus UMB zaman kuliah dulu. Hingga postingan ini terbit, di  tempat ini terdapat 86 anak yatim dan dhuafa di kumpulkan menjadi satu dan di bimbing untuk menjadi tahfidz qur’an. Yayasan Cendikia AtTaufiqurrohman baru 8 bulan berjalan dengan kondisi keuangan yang kurang lebih ‘pincang’. Pada saat pertama kali di pertemukan antara aku dengan Edi, keuangan masih dalam saldo minus, alias berhutang karena dana tersebut dipergunakan untuk membeli bahan bangunan dalam rangka mendirikan sebuah aula serba guna yang nantinya akan di jadikan ruang belajar computer gratis untuk anak – anak binaan. Dengan niat dan keinginan untuk membesarkan yayasan ini menjadi wahana belajar bagi anak – anak agar dapat mengenal dan memahami Sang Maha Pencipta maka yayasan berjalan dengan modal “BISMILLAH”….

***

Adalah Bapak Suko Basuki, ketua harian dari yayasan “CENDIKIA AT TAUFIQURRAHMAN” dan seorang pensiunan pengawas sekolah dasar di pinggiran Jakarta. Setelah berakhir masa baktinya dalam menjalankan tugas Negara, ia merasa kesepian karena kegiatan yang semula padat drastis menjadi senggang.
Suatu hari secara kebetulan berkumpulah warga sekitar untuk membicarakan banyaknya anak-anak yatim piatu dan dhuafa di sekitar tempat tinggalnya yang perlu binaan, sementara mereka sangat membutuhkan bimbingan moral dan material. Untuk menolong mereka maka kita butuh begitu banyak uluran tangan dan subsidi silang dari para dermawan.

Inilah dasar dan latar belakang yang menyebabkan yayasan Cendikia At-Taufiqurrohman berdiri hingga saat ini. Sekalipun terseok – seok menjalani dan mengelolanya karena sering terjadi kejar-kejaran antara kebutuhan operasional seperti membayar gaji ustadz/ustadzah pembimbing, maupun konsumsi santri saat belajar. Maklum saja semua biaya belajar bagi para santri yang di GRATIS-kan sementara penggalangan dana yang swadaya serta independen karena jumlah donator yang minim,  namun pengurus dengan ikhlas menjalani dan menaruh harapan besar agar kelak anak-anak yang di bimbing menjadi “seseorang” yang berguna bagi nusa, bangsa, agama, dan orang – orang di sekitarnya.

***

Mendengar cerita sebagian anak – anak yang giat belajar dengan keterbatasan fasilitas membuat hati tergerak untuk menjadi “kurir sedekah” bagi anak – anak “penjemput impian”.  Awalnya tak terbayangkan bagaimana lika- liku dalam mencari dan mengais rezeki yang di kirim untuk segera di sampaikan kepada mereka “para penjemput impian”. Tapi setidaknya dari kondisi yang ku ceritakan, ada beberapa teman yang tergerak menjadi donator rutin bagi yayasan. Ah… lumayan, setidaknya yayasan punya pemasukan yang bisa di putar untuk biaya operasional dan anak -  anak masih bisa belajar disana.

Pernah satu hari terjadi percakapan antara aku dan Pak Suko yang menceritakan tentang keadaan anak – anak yayasan Cendikia at Taufiqurrahman…
Yudha
:
“Bagaimana keadaan santri di sini pak? berapa orang sudah yang di kelola sama yayasan?”

Pak Suko
:
“Disini santrinya kebanyakan anak – anak yatim & dhuafa mas. Karena daerah sini banyak dari orang yang ngga mampu. Sampe sekarang jumlah santri yang aktif ada 58 orang dari 86 orang.”

Yudha
:
“Minat belajar anak-anak nya gimana Pak?”

Pak Suko
:
“Mereka rata-rata yang datang memang punya minat tinggi untuk belajar mengaji di sini. Bahkan juga cepat menyerap ilmu… tapi ya itu mas, karena kita juga memanfaatkan hari libur sekolah formal, mulai dari pagi sebelum subuh sudah mulai di gunakan buat Tahajjud setelah itu tahsin dan tahfidz, “setoran” ayat. belajarnya sering juga ngga datang bukan karena kepagian… tapi karena kebutuhan”  J

Yudha
:
“Loh, kebutuhan?… memang ada kendala apa pak?”

Pak Suko
:
“Yaaa… karena mereka juga di minta bantuan sama orang tuanya untuk jualan kalo hari minggu kan ada pasar kaget dekat sini, jadi ada anak yang mengalah untuk tidak masuk belajar mengaji ketimbang harus di marahin orang tuanya. Memang miris dengarnya, tapi sedikit-sedikit akan kita berikan masukan. Karena sayang mas, mereka anak-anak pintar yang kelak akan jadi generasi penerus orang tuanya. Jadi harus lebih baik dari keadaan yang sekarang “

[terlihat mata berkaca menatap harapan anak didiknya di masa depan]

Yudha
:
“Saya lihat mereka di pakein seragam, jadi bagus ya pak”  :D

Pak Suko
:
“Hehe… Iya Mas, Alhamdulillah itu juga dapat korting dari penjual bahan waktu dia nanya bahan ini mau di pake buat apa? Trus kita bilang bahan ini mau di pake untuk santri yatim & dhuafa”.

Yudha
:
“Waaah…Subhanallah.. koq bisa kepikiran pake seragam pak? Apa biar keliatan kayak di sekolah formal?”

Pak Suko
:
“Hahaha.. ngga mas yud, ini karena awalnya kita perhatikan pakaian mereka itu - ituuuu aja setiap kali datang belajar, kayak ngga ganti-ganti. Bahkan bukan Cuma keliatan ngga ganti, tapi juga ada yang sobek. Mungkin karena baju yang di punya juga terbatas, Kesian ngeliat mereka akhirnya kami berpikir sebaiknya di kasih seragam saja supaya mereka juga punya identitas”

Yudha
:
“Oiya Pak, tadi kan bicara belajar mulai dari sebelum subuh, apa mereka bawa makanan dari rumah atau di sediakan di sini pak?”

Pak Suko
:
“Di sini di sediakan makan Cuma jum’at malam dan Minggu pagi mas. Jadi setelah selesai belajar dan Shalat Dhuha. Makanan yang sudah di bungkus kita bagi-bagikan buat di bawa pulang”.

Yudha
:
“Kenapa ngga makan di sini rame – rame Pak? Kan biar seru…” J

Pak Suko
:
“Sebelumnya memang kami sudah seperti itu mas yud, tapi ada yang mengusulkan kalo makanan di bawa pulang saja, karena mereka sudah ditunggu oleh adik-adik dan keluarganya untuk makan bersama… makanannya itulah yang dibawa sama si santri…”

penjelasan terakhir dari pak Suko membuatku tidak bisa berkata – kata lagi. Miris sekali mendengar sebuah yayasan dengan anak didik 86 orang di kelilingi oleh lokasi perumahan kelas menengah ke atas namun minim donator ini masih eksis untuk melakukan tindakan kemanusiaan.

Ah…Sungguh berbanding terbalik dengan drama penangkapan pengemis yang di razia membawa penghasilan 25 juta rupiah dari hasil kerjanya selama 2 minggu. Pantas saja semakin banyak pendatang baru di ibukota yang berperan sebagai actor jalanan [baca=pengemis]. Ini karena kita dibuai oleh hebatnya “performance” sang actor dengan mengiba dan mengharap pemberian.

Sementara di lain sisi, masih di seputaran Jakarta, ada banyak yayasan seperti yang di kelola oleh Pak Suko, membutuhkan…mengharap…menunggu uluran tangan, berapapun jumlahnya…apapun bentuknya, yang mungkin nilai pahalanya hanya Allah saja yang bisa memberi dan paling berhak menentukan. Tapi setidaknya apa yang kita berikan akan jauh lebih bermanfaat untuk generasi masa depan.

Sahabat….inilah cerita tentang aku, kamu, dia, mereka….  Kita semua J




Kegiatan Megaji Di Yayasan Cendikia Attaufiqurrohman

Mereka sudah beraktifitas sebelum
Adzan Subuh berkumandang






























Setelah selesai kegiatan, konsumsi di bagikan
untuk di bawa pulang

















Berpamitan sebelum pulang, sambil bershalawat...
 #indahnya

Foto bareng santri pria...
 inilah penjemput impian masa depan :)



PARA PENCARI SEDEKAH [Profesi VS Pahala] / Bag.1



Gambar Ilustrasi : di ambil dari sini
“ Terus-menerus seseorang itu suka meminta-minta kepada orang lain hingga pada hari kiamat dia datang dalam keadaan di wajahnya tidak ada sepotong dagingpun.” (HR. Al-Bukhari no. 1474 dan Muslim no. 1725).



29 November 2013

Berita di salah satu jejaring social membuatku shock, terperanjat, seolah tidak terima kenyataan dan serasa aneh aja… pasalnya surat kabar elektronik ternama di Indonesia yang masih satu grup dengan Transcorp itu mengabarkan bahwa di daerah Pancoran 2 orang pengemis terjaring razia tanggal 26 November 2013 malam oleh petugas Suku Dinas Sosial setempat dan tertangkap tangan memiliki uang sejumlah 25jt di dalam gerobaknya. Apalagi ketika di beritakan dari hasil investigasi bahwa uang tersebut adalah penghasilannya selama 2 minggu bekerja sebagai pengemis Ibukota. Hwaaa….itu gajiku di tambah bonus dan nyambi sana-sini sebulan juga belum tentu bisa menyamakan penghasilannya yang super duper ….anjriiit !!! #ilfil L

Berita tentang pengemis yang memiliki penghasilan jauh di atas rata-rata penghasilan pegawai kantoran.. bagiku kabar ini bukan untuk yang pertama kalinya. Itulah sebabnya aku enggan untuk memberikan seseorang yang menjadikan mengemis sebagai satu profesi. Bahkan jauh sebelum ada berita ini aku sudah memutuskan untuk tidak memberikan uang atau apapun bentuknya kepada para “actor” jalanan (baca=pengemis), ditambah lagi dengan pemberitaan sejenis yang semakin marak seperti sekarang ini. Karena secara tidak langsung hal tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap orang – orang seperti mereka untuk malas mencari penghasilan yang lebih baik. Meskipun hasilnya sangat besar dan nyaris tidak masuk akal, tapi dimata orang lain yang melihat, pekerjaan tersebut selain tidak manusiawi juga semakin “mengotori” imej ibukota yang sudah krodit dengan pencitraan banjir kelas internasional, dengan peringkat 10 Negara yang tingkat korupsinya terhebat di dunia, belum lagi Dewan Perwakilan Rakyatnya yang punya tingkah “nyeleneh” seolah masalah hanya bisa di bahas pada sidang paripurna dan berpikir tentang APBN sambil memejamkan mata seraya berkata “YA” pada setiap hasil akhir sidang [#capekDeh]. Di tambah lagi ada pengalaman buruk yang membuatku enggan memberikan kesempatan sang actor jalanan untuk mencuri hatiku dengan mengiba agar diberikan sejumlah uang meskipun yang di terima adalah kumpulan receh yang kesannya remeh temeh.
.
Ah…. Ada-ada saja bentuk kreatifitas mereka dengan segala daya upaya untuk mengais rezeki di ibukota sementara ide-idenya dalam rangka mengelabui calon korban nyaris tidak pernah terpikir oleh kita yang sudah sibuk dengan banyak aktifitas yang terlalu penting.

***     


Oktober 1999
Suasana terminal pulogadung begitu ramai. Asap kendaraan umum yang mengepul ke udara membuat keadaan semakin krodit. Setelah penantian panjang, sampailah Kowanbisata jurusan Pulogadung – Cileungsi di hadapanku. Kemudian ku naiki bis yang kala itu baru saja masuk terminal menurunkan sisa penumpang untuk mencari penumpang baru, sambil kepanasan akupun menunggu kalau-kalau saja ada pedagang asongan yang membawa minuman dingin menjajakan dagangannya di atas bis. Terbayang sudah fantasi sejuknya air mineral atau teh Bot*l dingin yang mengalir lewati tenggorokan buat melepas dahaga. Bayangan itu makin menari – nari di otak kananku. Tak terasa berkali-kali sudah aku menahan ludah dan menunggu do’a yang tak kunjung terkabul, hingga akhirnya aku rela untuk mengantuk di atas bis yang tak bergerak sebelum kursi penumpang terisi penuh.

Perjalanan kali ini sebenarnya aku hanya menemani Pa’i, sahabat kentalku semasa jaya putih abu. Ia baru saja mengantarkan barang dagangannya di daerah Pluit. Kala itu ia sudah menjadi seorang mahasiswa kedokteran yang nyambi menjadi pedagang handphone dengan system delivery order.  Sementara status sosialku masih saja menjadi seorang pengangguran tanpa acara. Kebayang deh susahnya mencari kegiatan sampai – sampai aku ikhlas mengantarnya melakukan pekerjaan sambilan untuk sekedar membunuh waktu agar tak jenuh setiap hari berada di rumah.

Dan kini giliran aku beristirahat di atas Kowanbisata yang pengap sementara bis mulai berjalan mencari penumpang di tengah terik matahari yang panasnya serasa melelehkan kulit.

Di lampu merah perempatan Boulevard kelapa gading bis kena giliran berhenti. Dan terciptalah adegan berikut:

[maaf jika ada yang tersinggung, adegan ini tidak untuk mendiskriminasikan profesi sejenis, sekali lagi maaf]
Seorang pengemis masuk terseok – seok… pria usia antara 35-38 tahun dengan tubuh kurus berisi, raut wajah yang pucat dan suara mengiba berjalan dengan tangannya sementara kedua kakinya di seret bak suster ngesot di film-film. Di tangannya terselip kayu yang sudah di modifikasi dengan karet ban supaya dapat menjadi sandal / alas berjalannya. Seperti pengemis pada umumnya, pakaian compang – camping jadi andalan properti. Setiap kursi penumpang tak luput dari sambangannya sambil menadahkan tangan, berharap ada penumpang yang tergerak hatinya untuk memberikan sedikit rezeki sekedar buat makan siang, kilahnya dalam petikan kata – kata yang terucap di sela gerakannya yang pelan tapi pasti mulai mengarah kepada kursi yang aku duduki. Semakin mendekatiku tapi ku perhatikan sejak awal masuk hanya beberapa yang memberikan uang logam kepadanya.

Posisi dudukku ada di depan pintu keluar paling belakang. Jadi kalo dari depan setelah melewati kursi baru keluar menuruni tangga.

Gepeng
:
[salam] “..Mas kasiaaan mas, belum makan dari pagi mas..”

Yudha
:
[melambaikan tangan sambil tersenyum]

Gepeng
:
[mengulangi perkataan yang sama setengah memaksa] “mas kasiaaan maas, belum makan dari pagi maas..”

Yudha
:
[kembali melambaikan tangan sambil tersenyum] “Maaf ya Pak..”

Gepeng
:
[dengan gerakan tangan ke arah mulut]“ayolah mas…. Tolong saya, buat makan aja maaas”

Yudha
:
Iya, Pak maaf, saya juga belum….

Gepeng
:
[sambil merogoh tas kain yang dibawanya di keluarkan sejumlah uang hasil ngemis] “Ooo… JADI MAS BELUM MAKAN JUGA? NIIIH MAS … SAYA KASIH, AMBIL MAS…AMBIL!!!”[marah – marah ngga jelas]


Kemudian pengemis itu keluar dari bis dengan gegap gempita mengeluarkan rasa kesalnya hingga lupa kalau dia sedang berperan sebagai orang yang berjalan ngesot, pake nunjuk-nunjuk ke bis juga [#tepokJidat].  Di tambah melangkah dengan tangan hampa karena mungkin menurut anggapannya satu bis tidak mengerti keadaannya. Dan beberapa receh hasil memintanya kepada penumpang di dalam bis tadi ia buang begitu saja tanpa memikirkan hati orang yang masih melongo melihat sikapnya yang ajaib. Entah apalah maksudnya…. Tapi itulah yang menjadikan aku trauma lebih selektif dalam memberikan belas kasih kepada para actor jalanan seperti bapak tadi. [Bersambung…]


***     









26 July, 2013

SEPENGGAL WAKTU BERSAMA SAHABAT


Ali Ridho in Memoirs
Depok, 25 Juli 2013 | 08.30 WIB
Suasana pagi menjelang siang masih ingin mengajakku untuk bersantai – santai. Maklum ini adalah bulan Ramadhan Minggu ke-2 1434H ditengah ibadah shaum yang di wajibkan Umat Islam seluruh dunia. Badan masih tak bertenaga untuk melakukan aktifitas rutin. Padahal sebenarnya ngga ada yang namanya bermalas – malasan dalam menjalankan ibadah Ramadhan ini… karena bukan alasan yang tepat jika hal ini menjadikan kegiatan terhambat. Ah… sudahlah, yang jelas kenyataannya aku memang terlanjur nyaman dalam kondisi “malas” ini.

…oOOo….


Kemang | 10.15 WIB
Beberapa menit lagi tibalah aku ketempat tujuan dimana rutinitas berawal. Sejak sepuluh menit lalu henpon di balik saku bajuku berdering terus menerus, meminta untuk segera di respon dengan cepat. Nada dering yang memanggi tapi bukan dari kantor, karena sudah ku bedakan mana gadget untuk urusan kerja, dan mana yang di luar kerja… lalu dari siapa???, kupikir baiknya  minggir sajalah demi keamanan berkendara sambil merogoh saku dibalik jaket yang terus bergetar. Ku lihat layar blackberry bututku tercantum nama +wawan winardi, langsung ku respon panggilannya

“Halo… Yud, udah dengar berita belon? “

“HAH…apaan? Ngga kedengeraaaan…. Kenapa-kenapa!? Ga ada yang ngasih kabar dari tadi…”

“Ali Ridho… MENINGGAL!!”

“INNALILLAHI WAINA ILAIHI ROJI’UUUUN…”

Seketika itu suaraku yang lepas mengiringi lepasnya tetes demi tetes peluh selama  perjalanan menuju kantor yang hingga saat ini belum juga sampai. ingin rasanya langsung memutar arah tujuan dan membalikkan waktu barang beberapa menit saja untuk sekedar berpamitan dengan sahabat karibku semasa jaya putih biru.

Sesosok wajah berhidung mancung dengan logat sunda asli orang citeureup –nya yang konyol masih terlintas jelas di dalam memori. Entah sudah berapa kali senyum lebarnya mondar mandir sambil melambaikan tangan seolah ingin berpamitan untuk kali yang terakhir. Semakin berat saja langkah ku masuk ke ruang kerja dimana tugas harian sudah menanti disana. Ah… andai saja tidak ada pekerjaan yang begitu penting untuk di selesaikan hari ini, mungkin aku akan langsung menghadiri moment terakhir bersamanya sekedar mengucapkan “selamat jalan brader, jaga diri baik-baik disana” atau bahkan menangisi jasadnya tanpa sepatah kata telontar dari mulutku… cukup mendo’akan dalam hati yang hancur berkeping karena terlanjur mewariskan jutaan kisah yang teramat indah untuk dilupakan.

Teringat beberapa hari sebelum kedatangan bulan penuh berkah yang di nanti milyaran Umat Muslim seluruh penjuru dunia, kami beradu kata… biasalah anak itu, meski kami bukan ABG lagi tapi begitu masuk kedalam grup “putih biru” jiwa anak-anak muncul kembali layaknya masih berada dalam ruang kelas yang di tinggalkan guru pembimbing. Ah… gaya konyolnya selalu saja tak berubah, bahasanya yang “tinggi” biasa menghantarkan kami kepada suasana riuh canda. Hehehe… apapun kata yang keluar dari mulunya tidak bisa membuatku marah… rindu rasanya untuk “toyor” lagi kepalanya sambil tertawa lepas. Tapi sudahlah… #waktu tidak bisa terulang kembali.

Sahabat.... WAKTU... kita ngga pernah tau kapan akan sampai pada garis yang di tentukanNYA, semua yang telah dijalani bersama.. susah, senang, cerita hidup, ada kalanya berbagi dan berselisih paham... yang jelas #SELAMANYA kita tetap menjadi #SAHABAT dan tak akan pernah terganti sekalipun ada yang berusaha menyamakanmu.

Beristirahatlah dengan indah dan damai... akan ku rajut kenangan kita bersama dan ku bingkai namamu di relung hati terdalam. Teriring do'a yang menjadi bentuk penghormatan dan penghantar jiwamu kepada ALLAH, semoga DIA membukakan selebar-lebarnya pintu Al-Jannah kepadamu sebagai tempat terakhir...





*Teruntai salam perpisahan untuk #sahabat Ali Ridho, Wafat Hari Kamis 25 Juli 2013, di RS Sentra Medika Cibinong 

01 May, 2013

MENIKAH… SIAPA TAKUT ?!!!



ilustrasi Gambar : Menikah Bukan Suatu Kekhawatiran,
tapi Khawatirlah jika Berbuat Sesuatu tan pa Menikah :P
MENIKAH… kata yang begitu Indah untuk di dengar namun begitu menakutkan untuk di realisasikan bagi kalangan jomblo – jomblowati yang kesepian dalam mengarungi kehidupan. Tak terbayangkan ketika semua mulai di jalani akan terjadi banyak kepedihan dan kepiluan mendalam disela – sela perjalanannya. Masa kini yang penuh kesendirian serta pernak pernik kelucuan nan galau semakin mengasah bayangan menakutkan dalam mengarungi bahtera rumah tangga di masa depan.

MENIKAH …. Banyak alasan yang bisa kita ungkapkan ketika harus berhadapan dengan kata yang satu ini. Sebagian orang berkata: “belum punya jodoh yang tepat”… sebagian lainnya bilang “sebenarnya sudah ada calon, tapi biayanya belum siap”… segelintir orang lagi punya alasan berbeda dengan mengatakan “ ngga nikah aja masalah udah banyak, gimana nanti nikah!!!”. Dan masih ada ribuan kalimat lain yang bisa digunakan untuk menampik alasan bahwa menikah adalah sesuatu yang indah jika kita meyakininya, disamping ada *syarat dan ketentuan berlaku.

Bagaimana tidak, dengan menikah kita bisa mengurai persoalan bersama pasangan yang akan menjadi bagian dari hidup kita. Dengan menikah kita sudah menjadi seorang dermawan karena mau berbagi cinta, suka, bahagia, bersama dengan kasih sayang hingga mabuk kepayang. Kian hari terasa lebih indah dan hidup akan menjadi lebih hidup saat semua mimpi yang dirajut bersama terealisasi dalam kisah kasih terbingkai nyata untuk satu tujuan “membina Keluarga SAMARA menuju kebahagiaan dunia akhirat..”.

Meng copast dari janji ALLAH SWT melalui Firman-NYA :

 وَ أَنْكِحُوا الْأَيامى‏ مِنْكُمْ وَ الصَّالِحينَ مِنْ عِبادِكُمْ وَ إِمائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَراءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَ اللهُ واسِعٌ عَليمٌ 

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan.Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya.Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. ( An-nur : 32 )

Tuuh… ALLAH sadja sudah menjanjikan kekayaan bagi hambaNYA yang ingin menikah, mencukupkan untuk yang masih kekurangan, membenahi buat yang masih terbengkalai. Koq bisa – bisanya kita ragu dengan janji dari Dzat yang MAHA benar dan menciptakan kita, dengan segala nikmat yang telah diberikanNYA hingga detik ini. Koq bisa – bisanya Kita hanya di hantui oleh “hantu-hantu” yang berwujud nyata maupun yang hidup di alam bawah sadar (baca: mindset) dengan menghembuskan bisikan bahwa hidup ini adalah tanggung jawab kita sebagai pelakunya. Jodoh adalah sesuatu yang harus kita cari dan semua harus di pertanggung jawabkan. Siapa berbuat itu yang harus bertanggung jawab… dan masih banyak lagi hantu-hantu lain bertopeng kata “tanggung jawab” atau kalimat yang secara psikologis dapat menjerumuskan kita pada kesesatan terhadap cara berpikir dalam mengasumsikan kata MENIKAH.

Lalu masih maukah kita memelihara ketakutan yang ngga pasti dan dapat menjatuhkan diri kedalam masa depan yang penuh ketidak pastian. Dalam arti kekurangan itu tidak pasti, kemiskinan karena menikah juga tidak pasti, kesulitan dalam menikah juga pertanda yang tidak pasti. Rubah dooong mindsetnyaaaa… gimana kalo nanti kita menikah banyak rejeki yang datang menghadang? Gimana kalo nanti menikah akan dapat kebahagiaan yang menjulang? Gimana jika sudah menikah jabatan dan karir langsung melejit… sudah SIAPkah kita? J

Karena dalam setiap keadaan yang terjadi tergantung bagaimana cara kita menyikapinya. Kebaikan akan menjadi keburukan ketika tidak di sikapi dengan baik. Keburukan akan menjadi sebuah pelajaran, jika kita dapat menarik hikmah atas peristiwa itu dengan benar.

Sahabat… inilah tentang aku, kamu, dia, mereka, kita semua…. J

01 July, 2012

Selamat Jalan Bro.....

(Mengenang Perjalanan hidup orang  yang pernah menjadi bagian dari kehidupanku....)















Cibinong, 27 September 2011

Air mata mengalir deras bersamaan dengan nyawa yang telah terangkat dari jasadnya. Satu persatu orang bergantian melihat, meratapi, hingga memberikan ucapan bela sungkawa. Dalam seketika perempuan muda usia 27 tahun itu langsung menjadi seorang janda. Kesedihan tidak lagi dapat terbendung ketika di sadarinya bahwa ia telah ditinggalkan seorang pendamping hidup yang telah menemani hari-harinya dikala susah dan senang… padahal belum genap 2 tahun perjalanan biduk rumah tangga hingga akhirnya maut yang memisahkan mereka berdua.

 ***

Kesiangan lagi nih….pikirku dalam hati, hari itu Senin jam menunjukan pkl.06,30 dan aku merasakan berjuta kemalasan datang untuk menahan langkahku berangkat menuju kantor. Karena 2 hari libur seperti ngga ada istirahat. Sedih rasanya harus masuk dengan keterpaksaan begini… terlebih lagi ketika kudengar keluhan Afif, anak pertamaku merengek “Bapaa jangan kejaaa…dilumah aja sama kaka. Libuh aja Paaa… jadi pengusaha dilumah”… usianya 3,5 tahun dan suara yang belum sempurna tetap dapat ku tangkap maksud ucapannya.

Dalam hati aku meng-AMINi kata-katanya yang memotivasiku untuk menjadi pengusaha sukses agar dapat memiliki banyak waktu luang untuk keluarga. SUBHANALLAH….Ngga sangka anak sekecil itu punya pemikiran yang jauh melebihi usianya. Meskipun begitu aku tetap bersikeras untuk berangkat meninggalkannya demi kewajibanku sebagai konsekwensi profesi.

Satu jam kemudian tibalah aku di ruang kerja dalam keadaan berkeringat,acak-acakan dan bau asap knalpot kendaraan yang menjadi ciri khas “biker” :P. Dengan gegap gempita aku mulai pasang “muka tembok” untuk memulai aktifitas. Benar saja, salah satu rekan kerjaku menyambut dengan guyonan…. “Wa”alaikum salaam, masuk Maaaaas, tumben nih agak pagian..” sambil cengegesan ngga jelas untuk membuat merah kedua pipiku yang sebenarnya sudah cemong    *hehehe…cuek ajalah*

Telingaku mulai kebal dengan berbagai guyonan mereka, meskipun ini adalah tindakan yang salah namun aku mencoba untuk memberikan toleransi sebagai bentuk perhatian mereka kepadaku. Tidak lama berselang dan aktifitas ruang kerja mulai kembali hening, berderinglah handphone disaku. Kuangkat dan terdisplay nama “MAMA” kemudian kuangkat.
“Halo Maaa… “ suaranya membalas dengan sesenggukan…. Isak tangisnya tidak beraturan sambil berkata…“Yud, Rudi Meninggal…. Kamu kemari deh”
Tak ayal lagi aku langsung mengucapkan kata “Innalilahi Wa inna ilaihi Roji’uuuuuun”….


***


Motor Yamaha Jupiter Z hitam melaju kencang seolah tanpa rem lagi… salip kanan, salip kiri seperti ngga mau kalah dengan kedatangan Malaikat Maut yang telah jauh lebih dulu menjemput Rudi. Sampai tibalah aku di rumah sakit. Motor ku tinggalkan begitu saja tanpa melihat kanan-kiri-depan-belakang ataupun tanda pengenal agar memudahkan aku mengambil kendaraan lagi setelah semua urusan selesai. Yang terpikir olehku hanyalah segera sampai ke TeKaPe agar dapat membantu apa yang aku bisa lakukan.

Dari kejauhan terlihat kerumunan orang berduka dikamar jenazah, salah satu wanita muda berambut sebahu, terisak tanpa dapat mengeluarkan air mata… tak salah lagi, dialah adikku satu-satunya yang saat ini telah menyandang “gelar” JANDA. Semakin dekat dengannya…. Dengan jalan sedikit tergesa kuraih kepalanya yang sudah tidak berdaya lagi menengadahkan wajahnya ke arahku, kemudian ku peluk dia sambil berkata dengan suara gemetar menahan kesedihan…”yang tabah ya Dek…. Inilah jalan yang terbaik buatnya juga buat semua yang ditinggalkan…”. Sementara isak tangisnya semakin keras seiring dengan selesainya ucapanku, seolah tidak menginginkan fase ini berakhir begitu saja setelah semua kenangan terajut dan terpatri dalam hati.

***


Jakarta, 21 September 2011

Siang begitu teriknya, matahari seolah berada persis di atas kepala dan sedang tertawa riang menikmati keringatku yang keluar sudah tak bisa di bendung lagi. kedua AC split ukuran 2 PK di ruang kerja yang berukuran 5x7 m2 menunjukan angka 16 oC, tapi dasarnya AC rusak… yaaa… di nikmati sajalah keadaan yang ada. Toh ini adalah hari ke- 10 aku bertahan tanpa kesejukan dalam ruangan mirip Bangsal di LaPas Cipinang. ***.. .Hhwwaaaa… kayak yang pernah tau Lapas ajah **(lebay).
Tak Lama kemudian, suara pesan pendek di henpon bututku berbunyi,akupun mulai membaca……
 mas… ada dikantor ngga? Gue sama Rudi mau kesana sekalian minta ongkos..hehe3x” .
Hohooow ….. adik semata wayang bisanya gangguin orang seneng aja, ngga tau abangnya lagi bokek… pikir ku dalam hati. Tapi sms itu tetap kubalas…
“Ya udah.. kemari aja. Sekalian makan siang sinih”.
Setengah jam kemudian mereka datang dengan setelan baju hitam-putih, dan kamipun pergi menuju kantin terdekat, sekitar 50 meter dari gedung tempat kerjaku. Dan percakapan kamipun terjadi :

Aku        : “dari mana kalian??? Koq tumben kayak orang magang”….

Rudi       : “dari Plaza BAPINDO Bang, Nganter Lia Ngelamar kerja”

Lia        : “Iya Mas… Ni juga abis nyasar-nyasar, terus Rudi ngajakin kemari buat istirahat, daripada    ngga jelas mau kemana tujuannya.. mana perut laper abis...hehehe...."

Aku        : “Tuuuumben…. Emang libur kerja” (Sambil nyengir kea rah Rudi) 

Rudi       : “Engga Bang…. Bolos, takut Lia nyasar”

Aku        : “Ya udah… pada makan gih…. Biar gemuk…” (sambil melempar tawa kecil ke arah mereka)

Sambil makan, kami pun ngobrol menanyakan perihal keadaan selama kami tidak pernah ketemu. Maklum semenjak Lia menikah dengan Rudi dan tinggal di rumah mama, kami jarang ketemuan karena Rudi dianggap sebagai pembawa penyakit TeBe yang menjangkiti kedua anakku. Beruntung gejala itu lekas terbaca, jadi masih bisa di obati sejak dini sehingga kedua anakku bisa sembuh, karena kebetulan istriku yang juga  kegiatannya sebagai Konsultan Pajak memiliki klien seorang dokter spesialis paru sudah cukup senior. Namun sejak itu Rudi juga adik semata wayangku selalu menghindari keponakan- keponakannya karena khawatir mereka tertular kembali. Setiap kali kami main kerumah mama mereka keluar sebelum kami tiba dirumah. Bahkan Mama pernah  cerita padaku bahwa Lia sering menangis sendiri manakala ia teringat dengan kedua anakku. Ingin sekali rasanya ia bermain dan memeluk mereka, tapi apa daya keadaannya membuat ia dan suaminya tidak dapat mendekati 2 keponakannya tersayang.

So….Kali itu bener-bener tumben karena mereka mau main ke tempat kerjaku.  Sementara Saking asik ngobrol hingga tak sadar 1 jam 30 menit waktu berlalu.

“Waduuh… gue masuk dulu yak, ntar bisa di lempar Golok sama temen-temen liat gue jam 2.30 masih kelayapan “.

Tagihan pun kubayar dengan tunai :p …Sambil merogoh kocek, aku selipkan sejumlah uang kepada adik semata wayangku dengan alasan buat beli bensin. Padahal kondisi anggaran dalam negeri kala itu saldo tinggal tersisa 10 ribu. Ingin rasanya  memberi lebih, tapi apa daya stabilitas dalam negeri sedang terganggu karena tanggung bulan datang (alasan klasik pekerja kantoran :P…)… Yang penting masih cukup buat beli bensin sama krupuk kalo laper.. pikirku gampang.
Sebelum pulang, seperti biasa mereka mencium tangan kananku sebagai bentuk penghormatan terhadap saudara yang lebih tua, seperti yang yang pernah dibiasakan oleh orang tuaku saat kecil. Dan tidak disangka momen ngobrol, ketawa de es be yang agak lama itu adalah percakapan terakhirku dengan Rudi. Seolah menjadi isyarat bahwa ia hendak pamit dari hidupnya dan menitipkan sebagian hatinya yang telah berada dalam hati adikku.


***


Cibinong, 24 September 2011

Kamar Rumah Sakit tempat Rudi dirawat terlihat begitu ramai ketika aku datang, padahal jam besuk sudah berakhir sejak 30 menit yang lalu. Aku harus bersabar untuk gantian masuk agar dapat melihat adik iparku yang sedang tergeletak tak berdaya. Sambil menunggu tamu bergantian keluar, mama pun bercerita….Hasil deteksi dokter ternyata di luar dugaan, dia memang benar menderita Flek Paru, tapi bukan itu masalahnya…. Penyebab utamanya adalah Tumor di bagian usus besar yang di derita selama hampir 20 tahun sudah menggerogoti tubuhnya yang semakin “langsing” hingga harus diputuskan untuk di potong sekita 1,5 meter. Kini Giliranku masuk… terpampang pemandangan yang sangat miris dari Seorang Rudi. Selang yang terpasang dari hidung dan mulut membuat nafasnya semakin sesak. Jangankan untuk menahan sakit yang di deritanya, untuk bernafas dengan nyaman saja dia sudah tidak leluasa. 

Gerakannya mulai melambat, sementara istrinya sudah tak henti-henti menangisi keadaannya, sambil berucap kata maaf kepada setiap orang yang membesuk Rudi jika ada kesalahan suaminya yang dilakukan kepada pengunjung di ruangan itu .

Melihat pemandangan di depan mata, aku terpaksa mengumpulkan keluarga, terbukalah permasalahan bahwa keluarga sudah tidak mampu lagi membiayai keadaan Rudi. “Gini aja”… Sergahku…..”aku punya uang ngga banyak, tapi tinggal itu simpenanku…., aku serahkan buat dede (sebutan buat Lia) bukan untuk bantu biaya operasi, tapi supaya di SEDEKAHKAN kepada yang membutuhkan. Minta sama ALLAH dengan perantara itu semua, semoga diberikan jalan yang terbaik dan kesembuhan untuk Rudi. Karena melihat kondisinya secara kasat mata sepertinya akan semakin berat” . Dengan tidak mendahului kehendak ALLAH, aku sempat ngga bisa bisa lagi berkata karena kondisinya sudah sebegitu parah hingga Akhirnya keluargaku menerima pilihan itu sambil mengusahakan untuk dapat dilanjutkan kepada tahap operasi.

Pilihanku lebih kepada menyedekahkan uang itu atas nama Lia dan Rudi daripada untuk bantu biaya operasi Rudi beralasan… karena uang yang aku berikan ngga bisa untuk menutupi biaya operasi, selain itu aku meyakini bahwa jika kita bisa bersedekah di saat sempit, maka ALLAH SWT akan melapangkan segala urusan dan mengangkat apa-apa yang menjadi kesulitan kita….semua itu PASTI, namun pertanyaannya…CEPAT atau LAMBAT????, karena semua adalah kehendakNYA. Kemudian kuserahkan sejumlah uang dengan harapan tinggi mencapai langit berdo’a meminta agar diberikan jalan terbaik guna menyelesaikan permasalahan yang ada.  Malam itu akupun kembali kerumah, karena waktu telah menunjukan pukul.00.20. Masuk rumah, ambil wudhu dan shalat malam… dilanjutkan dengan do'a. Mulai ku duduk bersila... tundukan kepala dengan mata terpejam.... tangan yang terangkat dan hati merendah ...seeeerendah-rendahnya :

“… Yaa ALLAH, Dzat yang Maha Dahsyat… Engkaulah pemilik segala yang ada di langit dan dibumi… Ampunilah segala kesalahan yang pernah dilakukan oleh Rudi jika atas sebab itu dia menderita penyakitnya. Sembuhkan dan angkatlah penyakitnya jika Engkau memperkenankan ia hidup untuk waktu yang lama hingga ia dapat menemani Lia… dan mohon jadikan Rudi imam yang baik dalam rumah tangganya, bahagiakan rumah tangganya hingga ia pantas menjadi kebanggaan orangtuanya. Yaa ALLAH…Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang… kami rela jika Engkau berkehendak lain ..selain daripada apa yang kami harapkan, tapi kami mohon kepadaMU… percepatlah jalannya sehingga ia tidak dipersulit dengan keadaan yang semakin menghimpit. Karena aku tau Engkau tidak akan memberikan ujian diluar kemampuan hambaMU..kabulkanlah permintaanku Yaa Rabb… dan jangan sedikitpun Engkau menggantungkan segala urusan kepadaku karena sesungguhnya Engkaulah sebaik-baiknya pemberi keputusan di setiap urusan… amiiin”

Setelah pulang dari rumah sakit, aku ngga bisa berhenti memikirkan Rudi. Ternyata dia tau penyakit Tumor ususnya sudah stadium akut dan kami ngga pernah tau hal itu. Dia menahan nikmat dan sakitnya sejak usia kecilnya sehingga berat badannya ngga pernah naik. Di biarkannya pendapat orang mengasumsikan bahwa semua adalah karena dia seorang pengidap TeBe. Dan aku salah satu “korban” yang tertipu dengan keadaanya… Hingga belakangan baru diketahui bahwa pembawa virus TeBe adalah salah satu assisten rumah tangga ku yang sudah keluar beberapa bulan sebelum anakku terinfeksi, karena dia yang sering batuk-batuk dan tidak kunjung sembuh, selalu berkeringat meskipun aktifitasnya ngga banyak, dan anak-anak sering bermain dengannya........... (Maafin gue broo…. Beneran, gue ngga tau semuanya. Dan lu tetep bersabar membiarkan pendapat orang terus menerus "SALAH").


***


Cibinong, 26 September 2011

“Aku siap di operasi… Aku mau sembuh Yang…aku mau kita punya anak” kata Rudi kepada istrinya. Suara Rudi mulai bersemangat ketika ia mengetahui bahwasanya akan segera di operasi. Menjelang maghrib ia semakin lincah dan menebar senyuman. Tidak seperti 2 hari sebelumnya yang terlihat tak berdaya dan lunglai layaknya menunggu di penghujung waktu. Kala itu hanya ada Lia dan Bp. Tono, begitulah kami menyebut tetanggaku yang sudah seperti kakakku sendiri. Rudi Bercerita kesana kemari sambil menunggu 2 jam lagi… detik-detik menjelang operasi Tumor Ususnya.

Sementara… adikku bercerita perihal pesan-pesan beberapa hari yang lalu saat kunjunganku ke rumah sakit. Dia mendengarkan dengan seksama, hingga kemudian istrinya berucap…. “jangan lupa kita harus minta maaf terlebih dahulu kepada papa, mama, dan lainnya semoga kamu diberikan kesembuhan dan bisa melakukan aktifitas seperti biasa”.  Ia mengangguk di iringi senyuman optimisnya dan berkata… “Tenang  sayyyaaang, aku udah sembuh koq….dan kita pasti bisa lewati semuanya…OK...!!”.. Rudi berusaha untuk meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Waktu sudah menunjukan pukul 20.00, seorang perawat masuk ke ruangan kelas III Rumah Sakit Bina Husada, Cibinong. “ Pak Rudiiii… Sudah siap yaa, Dokter sudah menuju ke Kamar Operasi”…
Rudi menjawab dengan sigap “SIAP Sus…”, kemudian ia menoleh kepada istri tercintanya dengan senyuman melebar “Do’ain aku Yang… Kita bakal melewati ini semua…..” kemudian meraih tangan sang istri untuk menyatakan mohon pamit. Kereta mulai di dorong…. Tangan mereka terlepas seakan berat untuk berpisah, Lia dan Bp Tono mulai melangkah mengantar Suster  yang membawa kereta dorongnya hingga sampai beberapa meter ruang operasi, sementara kereta dorong terus berjalan dan suster membuka pintu kamar operasi untuk bersiap masuk. Tiba-tiba Rudi bangkit sambil melambaikan tangannya kepada istri kesayangannya …. 

“DADAAAAH…. DO’AIN AKU YA SAYAAANG…., SAMPEIN SALAM BUAT MAMA PAPA... AKU MINTA MA’AAAAAF…”

seketika itu pula deraian airmata sang istri menetes deras mengiringi masuknya Rudi ke ruang operasi. Dan sejak itu..... Rudi tidak pernah kembali lagi ke pelukannya… :'(


***

Ternyata ALLAH  SWT telah menjawab do’a yang kami semua panjatkan melalui sedekah. Mungkin jawabannya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Rudi sembuh dari sakitnya, tapi juga pergi untuk selamanya,,,tapi itulah jawaban yang TERBAIK menurutNYA… bukan menurut kami. Ketika kita Ikhlas menerima segalanya maka tidak ada lagi tempat untuk meratapi segala yang telah terjadi. Setidaknya di akhir perjalanan hidupnya, Rudi menorehkan kenangan yang begitu mendalam untuk kami semua… . SELAMAT JALAN BRO…. kami akan mengenang dirimu di hati kami sepanjang perjalanan hidup kami (***big hug and kiss***)



END