HALAMAN

Showing posts with label LADANG HIKMAH. Show all posts
Showing posts with label LADANG HIKMAH. Show all posts

18 March, 2015

BAHAGIA ITU BERNAMA... "KELUARGA"


Gambar di ambil dari SINI
7 tahun 8 bulan usia pernikahanku...banyak sudah cerita yang terlewati. Mulai dari Fase Adaptasi, sebuah tahap dimana kami harus berargumentasi membenturkan dua pendapat yang saling berbeda dan ingin saling mendominansi, berjuang mencari ketenangan dan celah yang di perjuangkan untuk satu kata “MENANG” dalam pertempuran keyakinan yang sama-sama di pegang... hingga akhirnya kami sadar bahwa bukan rumah tangga seperti ini yang kami inginkan berada di dalamnya.

Kesadaran itu muncul ketika ALLAH memberikan ujian dimana kami harus terpisah dan tidak dapat berkomunikasi dengan baik walaupun pada saat itu ada banyak peluang bagi kami untuk bertatap muka dan bertemu barang sebentar saja. Ternyata kami saling membutuhkan satu sama lain.. ternyata anak-anak lebih membutuhkan kami orang tua yang bisa membimbing dan menemani masa kecilnya ketimbang menjadikan mereka korban angkuhnya ego orang tua. Ternyata kami harus bertanggung jawab penuh atas kebahagiaan mereka yang masih menganggap bahwa rejekinya datang dari orang tua yang kini sedang bertengkar hebat.  Dan ternyata....KAMI lah kunci dan jembatan penghubung untuk setiap masa yang akan mereka lalui, masa di mana ia akan menjadi seperti apa mereka kelak akan menjadi...

Singkat cerita, kami menyadari bahwa kini harus memberikan banyak sekali ruang untuk kami berdua dalam mengenal satu dan lainnya. Karena pernikahan bukanlah menikahkan antara aku dan wanita yang ku nikahi saja, bukan tentang cintaku dan cintanya saja, bukan hanya menyatukan hatiku dan hati wanita yang aku dampingi saja. Bukan tentang menjalani hidupku bersama wanita yang aku berikrar untuk berbahagia dengannya (saja), bukan tentang menyatukan dua pendapat yang berbeda juga bukan tentang membeda-bedakan dua keyakinan yang sudah jelas berbeda...bukan...bukan... bukan tentang itu semua.

MENIKAH  adalah menyatukan hatiku dan hati kelurganya, menyatukan hati keluarganya dengan keluargaku, menikah adalah mencintai apa yang di cintainya dan apa yang ku cintai, menikah adalah menjalani hidup berdua dengan suka dan membuang duka bersama, menikah adalah mengurus dan memenuhi kebutuhannya dan apa yang ku butuhkan. Menikah adalah menyelaraskan dua perbedaan, menjalaninya bersama hingga mencapai satu tujuan yang di namakan BAHAGIA. Sulitkah itu semua??.. Terlepas dari mudah dan sulitnya adalah bagaimana cara kita menjalani dan menyikapi masalah yang datang bertubi-tubi dan silih berganti.

Komitmen dan saling introspeksi adalah kunci menjalani kehidupan ini bersama pasangan kita. Karena bagaimanapun masa depan yang akan kita raih adalah bermula dari cita-cita yang kita inginkan serta usaha yang kita upayakan. Karena tidak ada Pelaut yang hebat tercipta dari gelombang lautan yang tenang. Seperti itulah adanya rumah tangga... mengarungi bahtera rumah tangga yang tenang butuh proses yang panjang. Dan berumah tangga bukan akhir dari perjalanan cinta, melainkan awal dari realisasi cita-cita berikutnya .

Dan untuk wanita yang ku nikahi... ketahuilah bahwa dalam setiap waktu engkau adalah bagian dari pencapaian masa depanku dan anak-anak kita. Aku tidak dapat menjalani hidup ini sendiri, mendidik dan membesarkan buah hati kita tanpamu. Karena kita adalah satu kesatuan... ketika muncul perbedaan, dan engkau mendapati aku mulai menyimpang dari koridor cita-cita kita... mohon ingatkan aku, sabarlah sebentar saat aku tidak mengindahkanmu. Bukan berarti aku acuh...tapi inilah laki-laki yang hanya bisa fokus dengan aktifitasnya saat waktu sedang berjalan.

Dan kini.... kita sedang berada dalam kendaraan yang bernama RUMAH TANGGA, aku sebagai pengemudi dan engkau kondekturnya. Sementara aku hanya bisa fokus dengan masa depan, yang sesekali menengok spion “masa lalu”, tapi tanggung jawabku begitu besar, karena keselamatan seluruh penumpang ada bersama konsentrasiku. Sementara engkau bertugas mengingatkan batasan sampai di mana posisi perjalanan kita, meneriakan dan mengulang tujuan kita, dengan fitrah “multi tasking” yang dapat bertugas menghampiri penumpang yang juga berada dalam kendaraan kita. Dan ingatlah...kita sedang “kejar setoran” untuk menjadi keluarga SAMARA. Jadi mohon bantu aku untuk mencapai tujuan kita... yang dengan tujuan itu kita capai bersama karena ALLAH semata, semoga IA memudahkan apa yang menjadi harapan kita untuk generasi berikutnya, sekaligus menjadikan anak sebagai investasi kita jangka panjang.. biarlah kita hanya menjadi juru mudi dan kondektur yang mengantarkan buah hati kita kepada tujuannya, berharap padaNYA... Biarlah anak-anak kita yang kelak akan memasangkan mahkota emas nun jauh disana dalam kehidupan yang kekal tak berkesudahan.

Depok, 18 Maret 2015 | di tulis dari hati di baca sepenuh hati
  

oo000oo

16 August, 2014

Investasi Tingkat Tinggi Lebih dari Sekedar Butiran Nasi

 [Jakarta, 1986]

Pagi terasa begitu cerah... matahari sudah berani memancarkan sinarnya dan suasana riuh begitu nyata terpampang di salah satu sudut stasiun belahan kota Jakarta saat itu. Aktifitas sudah terasa meriah di sekitar area itu. Di ujung jalan sana tampak tukang tambal ban yang sudah di tunggu oleh 3 calon pelanggan yang terilhat kepayahan setelah mendorong motornya karena salah satu ban motor yang di kendarai bocor. Di sisi lain nampak dalam pandangan seorang penjaja gorengan sibuk memindahkan satu demi satu pisang dan tahu goreng ke dalam plastik karena sudah di tunggu oleh pelanggannya yang terburu-buru di kejar waktu. Ada juga  pembeli lontong sayur yang heboh untuk segera di bungkuskan pesanannya supaya tidak kelamaan berdiri  di pinggiran jalan yang terasa semakin sempit setiap detiknya karena bertambah volume calon penumpang yang merapat di pintu masuk. Samar-samar pengeras suara dari pusat informasi memberi kabar tentang keberadaan kereta yang hendak melintasi stasiun. Hingga Sampailah pandangan pada titik ketika seorang pedagang bertubuh langsing dengan kain serbet bermotif kotak-kotak tertambat di lehernya sambil meliuk-liukan sutil mencoba untuk mengais rejeki dengan berjualan bubur ayam Ciburial. Lelaki itu biasa di sapa Pak Mursid.

Seperti biasa... para pelanggan Pak Mursid selalu bertebaran di sekitar gerobak kecilnya. Sudah dua tahun ia berjualan bubur ayam di tempat ini. Harga terjangkau dengan porsi yang lumayan banyak seukuran perut orang pribumi membuat ia tetap eksis sebagai penjaja penganan pagi terlaris dan belum terkalahkan sejak ia berikrar menjadi pengusaha bubur ayam itu. Sekilas tak ada yang istimewa dalam sajian dan rasanya, yang membuat hasil usahanya semakin hari semakin beranjak naik adalah Rasa “empati” yang begitu kental berbalut senyuman dan sapa yang ramah pada setiap calon pelanggan sungguh tidak dimiliki oleh penjual lain di sekitarnya. Semakin kewalahan untuk melayani seorang diri membuat Pak Mursid harus menambah "pemain" cadangan, dan pilihan itu tertuju kepada anak perempuan semata wayangnya di kampung yang belum genap berusia 6 tahun dan telah ia tinggalkan untuk mencari rezeki di kota.

membawa puteri semata wayang nya dari Kampung halaman ke Jakarta yang penuh dengan serba serbi bukanlah tanpa alasan. Istri yang di cintainya tidak pernah memberikan perhatian lagi kepada buah hatinya sejak mereka di tinggal Pak Mursid ke Jakarta untuk mendulang Rupiah. Hal ini sering kali ia dengar dari para tetangga tiap kali Pak Mursid kembali  ke kampung, tapi suara sumbang dari para tetangga tak di indahkan olehnya. Ia menganggap hal itu hanya cibiran orang yang memandang sebelah mata kehidupan rumah tangga mereka. Di tambah Sering kali ia melihat puterinya bermuram durja dan bersendirian manakala Pak Mursid kembali ke kampung halaman. Hingga Suatu ketika Pak Mursid mendapati sikap positif thinking -nya sirna saat mata kepalanya sendiri yang memergoki pasangan hidup yang bagitu ia cintai "main gila" dengan lelaki lain yang masih satu kampung, sambil bermesraan layaknya remaja a-be-ge menemukan idaman hati di tengah kusutnya perjalanan cinta dengan pujaan hati yang tak lagi memberikan perhatian kepada sang wanita pemuja cinta. padahal ketika itu Pak Mursid berencana untuk memboyong mereka ke Jakarta dengan alasan  sudah siap lahir dan bathin. meskipun baru sanggup membeli rumah bedeng petakan, tapi setidaknya bisa memberikan keluarga kecilnya penghidupan dan tempat tinggal yang layak untuk lebih dari sekedar bertahan hidup. Ahhh, apalah daya... impian tinggal impian. Mimpi untuk menjadikan rumah tangga yang bahagia walau sederhana dan penuh keterbatasan Semua kandas termakan waktu... dan kesetiaan pun terjawab sudah.. mana yang sanggup bertahan dan siapa yang tidak siap dengan keadaan.

[Lain cerita...]

Suatu ketika... nampak pemandangan yang tidak biasa, seorang anak lelaki kecil berumur sekitar 10-12 tahunan tengah berlari ketakutan saat dikejar petugas toko obat yang letaknya tak jauh dari lokasi Pak Mursid berjualan. Nampak begitu kencang ia berlari dan kejar mengejar yang tidak berimbang membuat anak kecil itu akhirnya tertangkap tangan tengah menggenggam obat penurun panas serta sekotak perban di tangannya yang lain, dan... drama pun di mulai:

“ UNTUNG KETAUAN LO, KALO NGGA PASTI UDAH NGILANG BAWA DAGANGAN GUE YAH!! .... MANA ORANG TUA LO??? BIAR SURUH BAYAR SINIII!!!”

Teriakan si Penjaga toko membuat Anak lelaki tadi hanya tertunduk diam tanpa perlawanan dan tak juga menangis ketika si penjaga toko merampas barang yang telah di ambil sambil menoyor kepalanya. Ia tak kuasa melawan karena menyadari bahwa yang di lakukannya adalah salah. Melihat pemandangan yang tak lazim, Pak Mursid buru-buru menghampiri dan melerai. Dengan nada penasaran ia menanyakan kepada petugas toko,

Mursid    : “hei..hei..hei !! sudah..sudah..!! ada apa ini ribut-ribut?”

Penjaga toko : “ ini bocah ketangkep mau nyolong Pak!”

Mursid    : “Bener itu Jang?” [memandangi si anak]
Anak     : “he’eh Pak...”
Mursid    : “siapa yang Sakit?”
Anak    : [masih menunduk] “i..i..Ibu…”

Pak Mursid memandangi anak itu beberapa lama sambil terdiam... “Biar ini saya yang ganti saja Boss, ngga usah di permasalahkan”. Setelah memberikan sejumlah uang yang di sepakati, akhirnya si penjaga toko pergi sambil mengatakan pada anak itu “Awas yaaaa... jangan di ulangi!!!”

Pak Mursid memanggil puterinya... “Neng tolong Bungkusin bubur dua ya”

Tak berapa lama puterinya menghampiri dan menyerahkan bungkusan berisi dua ikat bubur ayam kepada ayahnya. Pak Mursid menyisipkan obat dan kotak perban kedalam bungkusan itu seraya berkata “Pulang lah Jang... ini buat Ibumu, ini sarapanmu biar cepet sehat ya”

Anak lelaki tadi melihat bungkusan itu sesaat, kemudian memandang wajah Pak Mursid beberapa lama, seolah tak percaya ini bisa ia dapatkan begitu saja tanpa syarat. Tampak matanya berkaca-kaca dan… Tiba-tiba..."srettt" anak lelaki tadi merebut plastik dari Pak Mursid kemudian berlari melesat sekencang-kencangnya tanpa berkata-kata atau sekedar berjabat tangan dengan Pak Mursid sebagai tanda terima kasih. Pak Mursid hanya menggelengkan kepala dan tersenyum melihatnya. Sepertinya ia lebih memahami ekspresi bahwa itulah tanda terima kasih  yang tersirat dari keluguan sikap seorang anak.

[25 tahun berlalu].....

Rambut di kepala yang mulai memudar bagai menunjukan betapa hebat perjuangan seorang lelaki yang berupaya memberikan jutaan sikap  teladan kepada puterinya.  Namun demikian ia  masih begitu bersemangat memberikan pelayanan terbaik bagi para pelanggan dengan gerobak Buburnya, puterinya pun masih menemani sang ayah berdagang dan sesekali bergantian Pak Mursid yang melayani pelanggan. Tapi ada yang berbeda disini... kini Pak Mursid memiliki kios yang lumayan untuk melayani pelanggannya.

Yah... setidaknya perjuangan Pak Mursid berbuah manis, sekalipun kios itu hanya berukuran 3x3 m2  tapi pelanggan bisa dengan nyaman duduk tanpa kepanasan dengan teriknya mentari jika tetiba sinarnya hadir tanpa permisi.

Di tengah kesibukan memenuhi pesanan pelanggannya, entah dari mana asalnya datanglah seorang gila di hadapan Pak Mursid yg Nampak kelaparan. Ia mengelus perutnya sambil menunjukan gerakan berulang seperti menyimit nasi yang akan masuk kedalam mulut. Rambut acak-acakan dan pakaian yang robek menambah kesan tersendiri bagi sang penggila.

 Melihat keadaan itu, Neng Puteri Pak Mursid langsung menyiapkan satu stereofoam untuk di isi Bubur ayam. Tidak butuh waktu lama hingga hidangan terbungkus rapi, dan setelah semua selesai Pak Mursid langsung memberikan bubur itu kepada orang gila yang telah berkali-kali menelan liurnya pertanda rasa lapar  semakin menjalar di sekitar lambung yang sesekali dirasakan seolah bergetar… kemudian ia pun pergi berlalu dengan sejuta senyuman di wajah yang tak berkesudahan sambil bersenandung tanpa irama yang pas di dengar oleh telinga.

Harusnya Bubur ayam ini tidak perlu pakai nama “Bubur Ayam Ciburial”, karena namanya lebih cocok sebagai “Bubur Ayam Rasa Empati”. Karakter itu tertanam dalam diri puterinya yang kini telah berubah menjadi seorang wanita cantik dan bijaksana.

Saat akan melanjutkan pekerjaan tetiba Pak Mursid merasakan kepalanya berputar, dunia bergoyang…hingga kemudian iapun…tumbang…terkapar meninggalkan beberapa pesanan yang belum sempat terselesaikan. Neng kontan saja berteriak histeris dan pelanggan yang kala itu tengah berada disana ikut membantu proses evakuasi Pak Mursid menuju rumah sakit terdekat. Hingga akhirnya mereka pun tiba di sebuah rumah sakit ternama di kota itu.

Neng bingung harus menelpon siapa untuk memberitakan hal ini. hingga ia hanya mencari daftar kontak di handphone nya yang sesekali di putar pertanda cemas melanda hati yang tengah di rundung duka karena sang ayah yang biasa ia temani mengais rejeki tetiba terbaring lemah tak berdaya dalam ruang perawatan.

Singkat cerita dokter yang menangani penyakit Pak Mursid tak sanggup memberikan hasil terbaiknya. Gagal ginjal yang di derita Pak Mursid bukan penyakit yang boleh di anggap hal biasa. Hingga Dokter merasa perlu merujuk kepada Rumah sakit terbaik yang biayanya tak tanggung-tanggung mahal. tiga hari perawatan inipun sudah memakan biaya, ditambah penyakit yang tidak tahu sampai kapan bisa di sembuhkan. Sebagian tabungan yang di kumpulkan Pak Mursid selama ini pun semakin tiris, nyaris habis terkikis makin dalam. Hingga Neng pun bertanya-tanya dalam diri.

"Dengan segala yang di tinggalkan ayah dan perjuangan yang hebat ini apakah aku sanggup membiayai Ayahku Tuhan?? kuatkanlah hatiku... berikanlah petunjukMU kemana harus aku cari biaya sebesar ini?!"



oo00oo



Dokter datang mengunjungi pasiennya, seorang lelaki mapan yang tampak masih muda, namun spesialisasi serta keahliannya di bidang penyakit dalam cukup membuat ia di kenal di rumah sakit yang juga terkenal ini.

Melihat data penyakit yang di diagnosa membuat ia langsung memutuskan agar Pak Mursid segera di operasi.

"Mempelajari hasil test lab rumah sakit sebelumnya, di tambah hasil dari pemeriksaan saya, maka saya menyarankan agar Pak Mursid segera di operasi. Apakah Ibu siap untuk memberikan dukungan tersebut"

"Apakah tidak ada pilihan lain selain operasi Dok?"

Pilihannya hanya di tunda, atau di lanjutkan. Karena berdasarkan analisa, jika tidak segera di ambil tindakan, maka kondisi Pak Mursid akan semakin buruk"

"Kira-kira berapa estimasi biaya dok? apakah dokter bisa bantu mencari informasi agar saya bisa siapkan biayanya"

"Oke ... nanti biar saya tanyakan berapa biayanya kepada bagian administrasi. Tapi Jika sudah di dapat estimasi biayanya, saya harap Ibu tidak memikirkan terlalu jauh, karena saya hanya ingin sebagai keluarga pasien, ibu menyetujui saja tindakan yang akan di lakukan... dan saya dapar pastikan bahwa tindakan yang di ambil oleh tim medis adalah upaya terbaik. Karena saya ingin pasien yang di tangani segera mendapatkan penanganan yang baik. Sekalipun Berita baik itu hanya datang dan di putuskan dari Allah, namun saya tidak ingin menjadi bagian yang berperan mempersulit keputusan Allah. Karena saya hanya perantara dariNYA yang bertugas menjalankan profesi saya sebaik mungkin. Jika setelah ini ibu menemui kesulitan sebisa mungkin akan saya bantu"

Neng pun semakin di landa kegalauan, putaran otak semakin kencang bekerja demi mencari solusi. masalah operasi adalah hal yang mudah dan ia pun setuju untuk di ambil tindakan tersebut. tapi bagaimana masalah biaya yang sekarang sedang di kuatirkan oleh Neng. Itulah sebabnya ia tidak sanggup memberikan jawaban secepat kilat.



oo00oo



Beberapa hari di tinggal sejak Pak Mursid di rawat, membuat Neng merasa  perlu untuk membenahi perkakas dagangannya yang ada di kios. karena tempat itu belum sempat di benahi lagi. Namun.... setiba nya di warung bukan membuat Neng lantas membenahi perkakas yang kotor, justru malah semakin mengingatkan ia kepada sang ayah dengan bayangan kejadian terulang seolah nyata di kepala.Tapa terasa air mata jatuh membasahi pipi dan isak tangis yang deras berderai membuat dadanya semakin sesak menahan beban.

Begitu inginnya ia memberikan yang terbaik untuk Pak Mursid, tapi apa yang harus di lakukan sungguh jauh dari kenyataan. karena biaya rumah sakit tak sempat terpikirkan kemana harus mencarinya lagi. Yang ia miliki hanya kios kecil tempat Neng dan Pak Mursid menghabiskan separuh hidupnya di sini, tempat ia mengais rezeki, serta Rumah Bedeng petakan yang ia tinggalkan untuk menghabiskan separuh waktu sisanya. Dilema yang menggerayangi perasaan dan logika membuat salah satu harus di korbankan, atau senyuman  sang Ayah tak lagi dapat ia lihat. Padahal beberapa bulan lagi ia akan lulus mengambil S1 nya yang sempat tertunda karena cuti kuliah demi membantu sang ayah berjualan.

Dengan penuh kesadaran serta dalam rangka menghilangkan perasaan gulana meskipun berat rasanya, iapun memutuskan untuk menjual kios yang telah di beli sang Ayah. Pertimbangannya adalah...Karena jika ia lulus nanti, maka Neng bisa menggantikan posisi ayah yang telah lelah bekerja selama ini demi mencari rezeki untuk mereka berdua. Sudah waktunya ayah menikmati masa tuanya di rumah, dan sudah saatnya Neng menggantikan posisi Pak Mursid untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi ayahnya.

Dan akhirnya... sebuah plang "DI JUAL KIOS" dengan tambahan nomor handphone Neng terpampang rapi di antara rolling door berbahan almunium, berharap dapat menarik perhatian calon pembeli agar lekas dapat mengeluarkan Pak Mursid dari Rumah Sakit dengan segera.



oo00oo



Ruangan terlihat begitu tenang, tak ada lagi suara isak tangis Neng yang sebelumnya terdengar.. yah... setidaknya untuk saat ini. karena sebentar lagi suara itu akan terdengar lagi. Tapi eeeit.. tunggu sebentar, ternyata Neng tengah tertidur kepayahan karena sudah beberapa hari ia berusaha untuk terjaga demi sang Ayah.

Neng tertidur di samping ayahnya yang sedang terbujur di hiasi bunyi mesin pendeteksi jantung. di tambah alat bantu nafas yang di pakai pak Mursid. Delapan jam masa kritis sudah berlalu dari Pak Mursid. dan sepertinya kini tinggal Neng yang terlihat nge-drop karena lelah berusaha keras mencari informasi serta biaya untuk menutupi seluruh biaya yang telah di estimasi dengan semua biaya bernilai Rp.178.245.000,- (Seratus Tujuh Puluh Delapan Juta Dua Ratus Empat Puluh Lima Ribu Rupiah). secarik kertas dalam genggaman membuat ia lelah memikirkannya dan menjadikan Neng tidur terduduk untuk sekedar mengistirahatkan tubuhnya.

Sinar mentari yang menyentuh kulit membuat Neng terjaga. Samar-samar di dapatinya bayangan masih saja sama seperti saat ia memejamkan matanya entah sudah berapa jam lamanya. pemandangan yang ia tuju pertama kali adalah Alat deteksi jantung, sepertinya normal tak ada hal yang perlu di curigai, dan nafas sang Ayah pun terasa santai tak terdengar nada kritis. Hingga akhirnya pandangannya tertuju pada bundelan amplop yang terlihat rapi di pojok ranjang Sang Ayah. Sepertinya ada orang masuk sebelumnya dan ia sama sekali tidak merasakan hal itu karena lelahnya. Amplop yang rapi menyimpan sejuta rahasia dan rasa penasaran hingga membuat Neng segera membuka untuk mengetahui apa isinya.

Buru-buru di buka lipatan kertas itu... Isinya adalah settlement biaya rawat inap dan operasi dengan stempel lunas serta sepucuk surat yang di tulis oleh tulisan tangan sang dokter, kemudian ia membaca kata-kata yang membuat ia terkaget-kaget bukan kepalang :

“Biaya Pengobatan ini sudah terbayar 25 tahun yang lalu dengan dua ikat bubur ayam, obat penurun panas dan sekotak perban..

TTD
Dokter Himawan”


Derai airmata bahagia menyertai kata demi kata saat Neng menyelesaikan tafsiran kata terakhir. Entah apa lagi yang harus ia ucapkan selain kata terima kasih kepada Sang Pencipta di iringi sujud Syukur di lantai ruang Rumah Sakit. Ingatannya kembali pada dua puluh lima tahun yang lalu saat Neng memenuhi perintah ayahnya untuk memberikan dua ikat bubur ayam kepada seorang anak lelaki disertai ayahnya yang menyisipkan obat penurun panas plus sekotak perban. Dan ternyata lagi.... anak lelaki itu kini telah menjadi dokter yang cukup di kenal karena kebajikannya yang gemar memberikan bantuan kepada pasiennya.

Allah memberikan kita pilihan untuk bersikap baik atau bersikap acuh, bahkan tak memiliki sikap sekalipun kepada siapapun yang kita temui, yang kita kenal maupun tidak, apa yang ingin di lakukan dan terserah mau berpikir atau membiarkan setiap detik berjalan seperti adanya. Semua tergantung kita yang di berikan kesempatan olehNYA untuk memilih. Karena apapun yang akan kita lakukan boleh jadi memiliki dampak yang nyata nilai balasannya. Entah saat ini, besok, atau mungkin juga nanti... bahkan DIA mengganti dengan yang jauh lebih baik dari apa yang kita inginkan sebelumnya.

Sahabat….inilah cerita tentang aku, kamu, dia, mereka….  Kita semua :)







02 February, 2014

HIDUP ITU.... SEPERTI BERSEPEDA

Minggu , Juni 2011
Waduuhhh…. KESIANGAAAN!!! Samar – samar kulihat jam dinding menunjukan pukul 06.20 WIB kenikmatan dunia yang begitu mempesona dalam ranjang empuk dengan improvisasi menguap gaya Pak Ogah dalam film boneka si UNYIL sesaat berubah menjadi suasana dramatis. padahal Janji untuk ketemuan dengan teman – teman kantor harusnya sudah terealisasi 10 menit lalu dan aku sudah ada di Stasiun KRL Universitas Indonesia. Hal ini membuatku belingsatan untuk prepare apa yang harus di butuhkan. Ketemuan dengan teman – teman kantor kali ini bukanlah meeting membahas pekerjaan ataupun undangan resepsi pernikahan… apalagi pendaftaran mahasiswa baru. Kami memang sudah berkomitmen untuk bertemu disana untuk bersepeda bersama.

“gawat!!... GAWAT…!!” Sesekali ngedumel sama diri sendiri karena sudah telat janji. Ku ambil henpon dan terlihat dalam layar enam kali miskol dari Alip yang sejak setengah jam lalu berusaha menghubungi, disusul dengan sebuah pesan pendek berbunyi “Dimana Chuun, kita udah nunggu di stasiun UI” .
Dengan sigap sepeda gunung merk local bertipe “Broadway 3.0” sudah terangkat dalam genggaman dan bergegas mengayuh sepeda layaknya tukang somay yang berkolaborasi dengan gaya Valentino Rossi.. *ngga kebayang*

[30 menit kemudian]
Berhenti di depan halte celingukan bingung mau kemana, maklum ini adalah kali pertama aku mengunjungi UI untuk sengaja bersepeda, dengan kacamata safety dan sepatu kets ditambah aksesori botol air mineral yang berisi tinggal 1/3 botol menghiasi tas yang di selempang menyilang di bahu dan peluh yang membasahi sekujur tubuh efek dari jarang olahraga menyebabkan tubuh kaget menerima stimulasi gerakan yang terus menerus lebih dari 1 menit. Bak seorang tukang kredit tempo doeloe yang dikombinasikan gaya penjaja somay dengan performa masa kini ku ambil henpon dan kirim pesan singkat sambil bergaya, seolah – olah tidak mendengar panggilan Alip yang 30 menit lalu sudah sibuk absen siapa saja yang akan hadir.

“ada dimana bro? sori tadi ngga kedengeran telpon, lagi otw… cepat bales gue di halte poltek “
[sesaat tanda SMS balasan] “elo niiih udah telat nyasar pula, Tanya aja hutan UI dimana, buruan ditungguin sama yang lain, gapake LAMA!!”

Hwaaa…. Pesan singkat yang berarti sangat dalam… “SUDAH TELAT, NYASAR PULA”  perlu di garis bawahi dan cetak tebal. Memang begitu kenyataan pahit yang harus diambil. Tenyata memang yang lain sudah ada di lokasi sejak lama. Ngga apalah yang penting bisa hadir kali ini.maklum penjajakan sepeda baru dengan tayangan perdana. Sudah sampai UI sadja itu merupakan suatu predikat hebat yang belum tentu semua orang bisa menyandangnya… [biar narsis asal eksis] *halah, apa coba*

Dari kejauhan terlihat sosok gempal berhelm catok ala bikers dengan sepeda hitam senyum – senyum ngga jelas… yak!! Itu Alip yang sejak tadi berkomunikasi denganku via sms. Dia memang sudah sering kemari dan juga merupakan member tetap di UI. Kalo boleh di umpamakan, ibarat kataaaa…. jin UI aja sudah jadi sohib dan tunduk, saking lama nya dia main sepeda di sini. Padahal rumahnya itu ada di sekitar poltangan, pasar minggu. Ngga kebayang jauhnya, tapi katanya jarak segitu biasa saja. Wew!! Dua jempol teracung dengan manis kala ia menjelaskan perjalanannya menuju ke UI.

***

Waktunya mengelilingi hutan UI, aku bertanya pada Alip yang biasa main di sini…

“gimana aturan mainnya bro? cape ngga?”

“Lo ikutin aja, deket koq … paling cuman 15 menit selesai”

Halaaah… gampang kalo gitu, dalam hati sesumbar karena ku pikir semuanya bisa di pelajari ilmunya. Dengan persiapan kekuatan jantung yang seadanya aku berusaha untuk menyesuaikan diri dengan mereka yang sudah seperti pemain professional. Sementara keliatan banget aku yang dengan datang santai karena hanya sebatas bermain sepeda dan mengeluarkan keringat setelah itu kembali pulang kerumah dan menikmati sepiring mie goreng buatan istri tercinta yang baru saja di request bersama dengan terkirimnya pesan singkat di BB.

Singkat cerita jalan yang ku lalui tidak sesuai dengan yang ku bayangkan tadi, entah apakah Alip sedang meng- OSPEK pemain baru atau aku yang baru main sepeda.. dalam hati ngedumel sendiri membandingkan kenyataan yang tidak sesuai harapan. Rute jalannya sangat tidak nyaman, belokan mendadak, sementara ranting-ranting yang bertabrakan dengan kulit hingga sesekali menggores dan membuat luka baru. Belum lagi nafas yang terengah – engah seperti di kejar malaikat maut. Hwaaaaa!!! KAPOOOOK!!! Ini seperti ngeliat event motocross di tiviiii… Cuma bedanya ngga ada mesin dan knalpotnya di mulut.. HOHhh….HOHhhh..Hohhhh… *ngos-ngosan*

Nafas yang tersisa mirip fenomena serangan jantung mendadak. Jantung berdegup kencang seperti mau copot dari dan dengan sisa tenaga kupaksa kayuh hingga ketemu titik terakhir. Sementara aku sudah tertinggal jauh di belakang Alip dan satu teman lagi yang mendampingiku. Kupaksa lagi mengayuh sepeda kemudian kaki ini seolah kaku kemudian berhenti dan menjatuhkan sepedaku semau-maunya. Pertanda sudah tidak kuat lagi menggenggam sepeda yang ku bawa.

Hahhh..hahhhh..hoh..hohhh…hohhhh… suara nafas sudah ngga jelas dengan volume kencang dan desah yang kian stereo, kemudian Alip kembali menyisir mundur jalannya dan menemukan aku tergeletak lemas tak berdaya

“kenape lo Chuuun?” senyumnya lepas bersamaan dengan deru nafas seperti mengolok – olok ketidak berdayaanku.

“CAPPHEEEK!!  (..hohhh…hohhh..hohhhh..)” mataku mulai berkunang – kunang melihat wajah Alip seolah berbadan dua puluh tiga, rasanya sudah mau pingsan aku kali ini. Sementara untuk membuka mata saja sudah tidak mampu. Ironisnya di tempat aku berhenti tidak ada yang berjualan air atau minuman kaleng. “Yaaa iyyyalaaaah”…. Ngga mungkin juga mereka jualan di track sepeda. Itu hanya pemikiran bodohku saja yang manja semua mau di peroleh dengan instan.

 ***

Hehehe… itulah pengalaman pertama bersepeda yang begitu membuat tertawa malu sendiri karena ketidak tahuan serta keinginan yang begitu tinggi untuk mencoba. Malah berbuah kepayahan yang berkelanjutan. Dan apa yang terjadi setelah keluar dari track hutan UI kemudian pulang kerumah????
Inilah kenyataannya… :

ü  setelah ku hitung dan membedakan perjalanan berangkat di awal, ternyata aku sudah berhenti sebanyak 11 kali dari mulai UI sampai kerumah… hmmm.. jaraknya kalo dihitung sekitar enam kilometer.

ü  Menghabiskan 6 botol Air Mineral isi 600 ml.

ü  Menghabiskan waktu sebanyak 15-20 menit setiap kali berhenti istirahat.

ü  Pegal – pegal yang berkelanjutan di sekitar selangkangan, dan mengembalikan dalam keadaan normal hingga 3 hari lamanya.

Sejak saat itu undangan bersepeda terus berdatangan, dan aku menyanggupinya. Meski apapun terjadi sepeda terus ku kayuh dan tak berhenti hingga disitu. Sebuah kenikmatan ketika kita bisa berada di garis finish dan menyelesaikan tantangan demi tantangan.

Down hillers Sebelum start di Cikole, Bandung

Down Hillers di Puncak



Memang ngga bisa di bayangkan dengan kata – kata, hanya bisa di nikmati tanpa kata – kata hingga aku bisa membayangkan betapa penggila sepeda ini memiliki “ketagihan” yang begitu hebat. Dan hanya orang – orang yang memiliki kecintaan saja yang bisa merasakan betapa olahraga ini begitu nikmat terasa.

Tapi aku tidak membahas lebih dalam tentang kegilaan bersepeda, dengan adanya peristiwa bersepeda yang membuatku nyaris kehabisan nafas justru malah menorehkan hikmah tentang bagaimana cara yang bijak menyikapi hidup.

Dan ini lah hikmah tentang kehidupan yang bisa ku petik dari fenomena bersepeda :

ü  HIDUP itu seperti berSEPEDA, Jalani saja sepeda itu dengan kekuatan yang dimiliki, jangan memaksakan diri untuk meraih apa yang tidak dapat di capai. Ketika kita punya niat dan terus menjalaninya dengan segenap kekuatan  yang di miliki, kemudian menyelaraskan diri antara niat dan usaha, maka ALLAH yang akan memudahkan kita untuk mencapai tujuan. Karena kita tidak bertanggung jawab terhadap masalah yang ditemui, melainkan hanya di minta BERUSAHA, selebihnya biarkan DIA yang menilai upaya kita dalam menjalaninya.

ü  HIDUP itu harus SEIMBANG : layaknya bersepeda, antara mengayuh pedal dengan menjaga keseimbangan tubuh haruslah terjaga, jika tidak di lakukan, maka tidak menutup kemungkinan kita akan terjatuh. Sering kali pemaksaan keadaan terjadi hingga akhirnya tubuh terbelit dengan masalah sendiri, padahal andai saja kita focus dengan tujuan dan menikmati setiap detik waktu berjalan maka perjalanan yang jauh akan terasa dekat.

ü  Jalani hidup dan jadilah diri sendiri : kita ngga perlu mengejar apa yang telah di capai orang lain, cukup menjadi diri sendiri, mengukur kemampuan diri sebelum akhirnya memutuskan untuk berjalan mencapai tujuan adalah sangat bijak. Karena hanya kita yang tau kapan waktunya berjalan, kapan saatnya beristirahat. Yang perlu kita miliki adalah TARGET, NIAT, IKHTIAR, dan semuanya disempurnakan sambil berjalan.

Sahabat….inilah cerita tentang aku, kamu, dia, mereka….  Kita semua J









02 December, 2013

PARA PENCARI SEDEKAH [Profesi VS Pahala] / Bag.2 [Selesai]



Postingan ini bukan bermaksud untuk membandingkan keadaan mengungkit niat baik atau mengemis belas kasih. Jauh dari pada kesan tersebut sebagai pemilik blog hanya ingin mengembangkan informasi bahwa masih di sekitar Jakarta ada satu tempat yang membutuhkan uluran tangan para dermawan berjiwa sosial tinggi dan merasa dirinya terpanggil dalam membantu meneruskan cita-cita mereka para penjemput impian…sekalipun tidak berdiri di lampu merah, mereka tetap tidak pernah mengeluh dengan keadaan, karena mereka tahu bahwa hidup harus terus berjalan...bertahan....dan berTUHAN ...... 
[@yudha_rui]
***



Depok, Mei 2013

Suara riuh rendah puluhan anak anak bergema dalam mushola kecil di Jl. Kesadaran Cikumpa Rt.03/Rw.09 (Studio Alam TVRI) Kelurahan Sukmajaya, Depok. Letaknya memang jauh dari jalan raya, sekilas tak nampak adanya kegiatan jika kita melintas di depan bangunan yang menjorok kedalam tersebut, karena memang tempat ini begitu sepi jika terlihat dari luar. Bukan karena ingin menutup diri, tapi karena letak bangunan yang memang berada di ujung jalan membuat seolah orang yang baru pertama kali melintas akan beranggapan seperti itu. Hanya terlihat pagar setengah terbuka dan puluhan sandal milik ‘para penjemput impian’ (baca: santri Yatim-Dhuafa) yang tengah asyik parkir sejak pukul 4 pagi tadi.

Sebagian anak membaca huruf arab bersambung dikemas dalam sampul berjudul IQRO, masih mengeja dan terbata-bata… sementara sebagian lainnya mulai menghafal surat pendek untuk di “setor”kan kepada guru pembimbing. Suatu fenomena yang sudah mulai langka di kehidupan pinggiran kota depok, dimana anak – anak sekecil itu sangat antusias dalam mencari ilmu agama sementara waktu yang harus nya masih mereka pergunakan untuk beristirahat rela di korbankan untuk mencari ilmu. Dengan gigih mereka hadir ke majelis dalam rangka mendekatkan diri kepadaNYA. Ah…sesuatu yang begitu tenteram dan nikmat ketika aku merasakan berada diantara mereka.

 Anak – anak binaan Yayasan CendikiaAttaufiqurrohman berasal dari warga penduduk sekitar, dimana sekelilingnya di ‘kepung’ dengan kompleks perumahan real estate. Ironinya sebagian penduduk perkampungan disekitar mayoritas mengais rejeki bekerja sebagai buruh cuci, tukang ojek dan pemulung barang bekas dengan pendapatan dibawah rata - rata. Sehingga hal ini melatar belakangi di dirikannya YayasanCendikia At Taufiqurrohman. Yayasan membebaskan bayaran dan memberikan konsumsi kepada anak-anak yang datang mengaji kepada anak – anak dari warga yang memiliki kategori yatim dan dhuafa.

Aku  sendiri sebenarnya telah lama di undang oleh Edi untuk hadir ke yayasan Cendikia At Taufiqurrohman. Edi adalah ketua kelasku di kampus UMB zaman kuliah dulu. Hingga postingan ini terbit, di  tempat ini terdapat 86 anak yatim dan dhuafa di kumpulkan menjadi satu dan di bimbing untuk menjadi tahfidz qur’an. Yayasan Cendikia AtTaufiqurrohman baru 8 bulan berjalan dengan kondisi keuangan yang kurang lebih ‘pincang’. Pada saat pertama kali di pertemukan antara aku dengan Edi, keuangan masih dalam saldo minus, alias berhutang karena dana tersebut dipergunakan untuk membeli bahan bangunan dalam rangka mendirikan sebuah aula serba guna yang nantinya akan di jadikan ruang belajar computer gratis untuk anak – anak binaan. Dengan niat dan keinginan untuk membesarkan yayasan ini menjadi wahana belajar bagi anak – anak agar dapat mengenal dan memahami Sang Maha Pencipta maka yayasan berjalan dengan modal “BISMILLAH”….

***

Adalah Bapak Suko Basuki, ketua harian dari yayasan “CENDIKIA AT TAUFIQURRAHMAN” dan seorang pensiunan pengawas sekolah dasar di pinggiran Jakarta. Setelah berakhir masa baktinya dalam menjalankan tugas Negara, ia merasa kesepian karena kegiatan yang semula padat drastis menjadi senggang.
Suatu hari secara kebetulan berkumpulah warga sekitar untuk membicarakan banyaknya anak-anak yatim piatu dan dhuafa di sekitar tempat tinggalnya yang perlu binaan, sementara mereka sangat membutuhkan bimbingan moral dan material. Untuk menolong mereka maka kita butuh begitu banyak uluran tangan dan subsidi silang dari para dermawan.

Inilah dasar dan latar belakang yang menyebabkan yayasan Cendikia At-Taufiqurrohman berdiri hingga saat ini. Sekalipun terseok – seok menjalani dan mengelolanya karena sering terjadi kejar-kejaran antara kebutuhan operasional seperti membayar gaji ustadz/ustadzah pembimbing, maupun konsumsi santri saat belajar. Maklum saja semua biaya belajar bagi para santri yang di GRATIS-kan sementara penggalangan dana yang swadaya serta independen karena jumlah donator yang minim,  namun pengurus dengan ikhlas menjalani dan menaruh harapan besar agar kelak anak-anak yang di bimbing menjadi “seseorang” yang berguna bagi nusa, bangsa, agama, dan orang – orang di sekitarnya.

***

Mendengar cerita sebagian anak – anak yang giat belajar dengan keterbatasan fasilitas membuat hati tergerak untuk menjadi “kurir sedekah” bagi anak – anak “penjemput impian”.  Awalnya tak terbayangkan bagaimana lika- liku dalam mencari dan mengais rezeki yang di kirim untuk segera di sampaikan kepada mereka “para penjemput impian”. Tapi setidaknya dari kondisi yang ku ceritakan, ada beberapa teman yang tergerak menjadi donator rutin bagi yayasan. Ah… lumayan, setidaknya yayasan punya pemasukan yang bisa di putar untuk biaya operasional dan anak -  anak masih bisa belajar disana.

Pernah satu hari terjadi percakapan antara aku dan Pak Suko yang menceritakan tentang keadaan anak – anak yayasan Cendikia at Taufiqurrahman…
Yudha
:
“Bagaimana keadaan santri di sini pak? berapa orang sudah yang di kelola sama yayasan?”

Pak Suko
:
“Disini santrinya kebanyakan anak – anak yatim & dhuafa mas. Karena daerah sini banyak dari orang yang ngga mampu. Sampe sekarang jumlah santri yang aktif ada 58 orang dari 86 orang.”

Yudha
:
“Minat belajar anak-anak nya gimana Pak?”

Pak Suko
:
“Mereka rata-rata yang datang memang punya minat tinggi untuk belajar mengaji di sini. Bahkan juga cepat menyerap ilmu… tapi ya itu mas, karena kita juga memanfaatkan hari libur sekolah formal, mulai dari pagi sebelum subuh sudah mulai di gunakan buat Tahajjud setelah itu tahsin dan tahfidz, “setoran” ayat. belajarnya sering juga ngga datang bukan karena kepagian… tapi karena kebutuhan”  J

Yudha
:
“Loh, kebutuhan?… memang ada kendala apa pak?”

Pak Suko
:
“Yaaa… karena mereka juga di minta bantuan sama orang tuanya untuk jualan kalo hari minggu kan ada pasar kaget dekat sini, jadi ada anak yang mengalah untuk tidak masuk belajar mengaji ketimbang harus di marahin orang tuanya. Memang miris dengarnya, tapi sedikit-sedikit akan kita berikan masukan. Karena sayang mas, mereka anak-anak pintar yang kelak akan jadi generasi penerus orang tuanya. Jadi harus lebih baik dari keadaan yang sekarang “

[terlihat mata berkaca menatap harapan anak didiknya di masa depan]

Yudha
:
“Saya lihat mereka di pakein seragam, jadi bagus ya pak”  :D

Pak Suko
:
“Hehe… Iya Mas, Alhamdulillah itu juga dapat korting dari penjual bahan waktu dia nanya bahan ini mau di pake buat apa? Trus kita bilang bahan ini mau di pake untuk santri yatim & dhuafa”.

Yudha
:
“Waaah…Subhanallah.. koq bisa kepikiran pake seragam pak? Apa biar keliatan kayak di sekolah formal?”

Pak Suko
:
“Hahaha.. ngga mas yud, ini karena awalnya kita perhatikan pakaian mereka itu - ituuuu aja setiap kali datang belajar, kayak ngga ganti-ganti. Bahkan bukan Cuma keliatan ngga ganti, tapi juga ada yang sobek. Mungkin karena baju yang di punya juga terbatas, Kesian ngeliat mereka akhirnya kami berpikir sebaiknya di kasih seragam saja supaya mereka juga punya identitas”

Yudha
:
“Oiya Pak, tadi kan bicara belajar mulai dari sebelum subuh, apa mereka bawa makanan dari rumah atau di sediakan di sini pak?”

Pak Suko
:
“Di sini di sediakan makan Cuma jum’at malam dan Minggu pagi mas. Jadi setelah selesai belajar dan Shalat Dhuha. Makanan yang sudah di bungkus kita bagi-bagikan buat di bawa pulang”.

Yudha
:
“Kenapa ngga makan di sini rame – rame Pak? Kan biar seru…” J

Pak Suko
:
“Sebelumnya memang kami sudah seperti itu mas yud, tapi ada yang mengusulkan kalo makanan di bawa pulang saja, karena mereka sudah ditunggu oleh adik-adik dan keluarganya untuk makan bersama… makanannya itulah yang dibawa sama si santri…”

penjelasan terakhir dari pak Suko membuatku tidak bisa berkata – kata lagi. Miris sekali mendengar sebuah yayasan dengan anak didik 86 orang di kelilingi oleh lokasi perumahan kelas menengah ke atas namun minim donator ini masih eksis untuk melakukan tindakan kemanusiaan.

Ah…Sungguh berbanding terbalik dengan drama penangkapan pengemis yang di razia membawa penghasilan 25 juta rupiah dari hasil kerjanya selama 2 minggu. Pantas saja semakin banyak pendatang baru di ibukota yang berperan sebagai actor jalanan [baca=pengemis]. Ini karena kita dibuai oleh hebatnya “performance” sang actor dengan mengiba dan mengharap pemberian.

Sementara di lain sisi, masih di seputaran Jakarta, ada banyak yayasan seperti yang di kelola oleh Pak Suko, membutuhkan…mengharap…menunggu uluran tangan, berapapun jumlahnya…apapun bentuknya, yang mungkin nilai pahalanya hanya Allah saja yang bisa memberi dan paling berhak menentukan. Tapi setidaknya apa yang kita berikan akan jauh lebih bermanfaat untuk generasi masa depan.

Sahabat….inilah cerita tentang aku, kamu, dia, mereka….  Kita semua J




Kegiatan Megaji Di Yayasan Cendikia Attaufiqurrohman

Mereka sudah beraktifitas sebelum
Adzan Subuh berkumandang






























Setelah selesai kegiatan, konsumsi di bagikan
untuk di bawa pulang

















Berpamitan sebelum pulang, sambil bershalawat...
 #indahnya

Foto bareng santri pria...
 inilah penjemput impian masa depan :)



PARA PENCARI SEDEKAH [Profesi VS Pahala] / Bag.1



Gambar Ilustrasi : di ambil dari sini
“ Terus-menerus seseorang itu suka meminta-minta kepada orang lain hingga pada hari kiamat dia datang dalam keadaan di wajahnya tidak ada sepotong dagingpun.” (HR. Al-Bukhari no. 1474 dan Muslim no. 1725).



29 November 2013

Berita di salah satu jejaring social membuatku shock, terperanjat, seolah tidak terima kenyataan dan serasa aneh aja… pasalnya surat kabar elektronik ternama di Indonesia yang masih satu grup dengan Transcorp itu mengabarkan bahwa di daerah Pancoran 2 orang pengemis terjaring razia tanggal 26 November 2013 malam oleh petugas Suku Dinas Sosial setempat dan tertangkap tangan memiliki uang sejumlah 25jt di dalam gerobaknya. Apalagi ketika di beritakan dari hasil investigasi bahwa uang tersebut adalah penghasilannya selama 2 minggu bekerja sebagai pengemis Ibukota. Hwaaa….itu gajiku di tambah bonus dan nyambi sana-sini sebulan juga belum tentu bisa menyamakan penghasilannya yang super duper ….anjriiit !!! #ilfil L

Berita tentang pengemis yang memiliki penghasilan jauh di atas rata-rata penghasilan pegawai kantoran.. bagiku kabar ini bukan untuk yang pertama kalinya. Itulah sebabnya aku enggan untuk memberikan seseorang yang menjadikan mengemis sebagai satu profesi. Bahkan jauh sebelum ada berita ini aku sudah memutuskan untuk tidak memberikan uang atau apapun bentuknya kepada para “actor” jalanan (baca=pengemis), ditambah lagi dengan pemberitaan sejenis yang semakin marak seperti sekarang ini. Karena secara tidak langsung hal tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap orang – orang seperti mereka untuk malas mencari penghasilan yang lebih baik. Meskipun hasilnya sangat besar dan nyaris tidak masuk akal, tapi dimata orang lain yang melihat, pekerjaan tersebut selain tidak manusiawi juga semakin “mengotori” imej ibukota yang sudah krodit dengan pencitraan banjir kelas internasional, dengan peringkat 10 Negara yang tingkat korupsinya terhebat di dunia, belum lagi Dewan Perwakilan Rakyatnya yang punya tingkah “nyeleneh” seolah masalah hanya bisa di bahas pada sidang paripurna dan berpikir tentang APBN sambil memejamkan mata seraya berkata “YA” pada setiap hasil akhir sidang [#capekDeh]. Di tambah lagi ada pengalaman buruk yang membuatku enggan memberikan kesempatan sang actor jalanan untuk mencuri hatiku dengan mengiba agar diberikan sejumlah uang meskipun yang di terima adalah kumpulan receh yang kesannya remeh temeh.
.
Ah…. Ada-ada saja bentuk kreatifitas mereka dengan segala daya upaya untuk mengais rezeki di ibukota sementara ide-idenya dalam rangka mengelabui calon korban nyaris tidak pernah terpikir oleh kita yang sudah sibuk dengan banyak aktifitas yang terlalu penting.

***     


Oktober 1999
Suasana terminal pulogadung begitu ramai. Asap kendaraan umum yang mengepul ke udara membuat keadaan semakin krodit. Setelah penantian panjang, sampailah Kowanbisata jurusan Pulogadung – Cileungsi di hadapanku. Kemudian ku naiki bis yang kala itu baru saja masuk terminal menurunkan sisa penumpang untuk mencari penumpang baru, sambil kepanasan akupun menunggu kalau-kalau saja ada pedagang asongan yang membawa minuman dingin menjajakan dagangannya di atas bis. Terbayang sudah fantasi sejuknya air mineral atau teh Bot*l dingin yang mengalir lewati tenggorokan buat melepas dahaga. Bayangan itu makin menari – nari di otak kananku. Tak terasa berkali-kali sudah aku menahan ludah dan menunggu do’a yang tak kunjung terkabul, hingga akhirnya aku rela untuk mengantuk di atas bis yang tak bergerak sebelum kursi penumpang terisi penuh.

Perjalanan kali ini sebenarnya aku hanya menemani Pa’i, sahabat kentalku semasa jaya putih abu. Ia baru saja mengantarkan barang dagangannya di daerah Pluit. Kala itu ia sudah menjadi seorang mahasiswa kedokteran yang nyambi menjadi pedagang handphone dengan system delivery order.  Sementara status sosialku masih saja menjadi seorang pengangguran tanpa acara. Kebayang deh susahnya mencari kegiatan sampai – sampai aku ikhlas mengantarnya melakukan pekerjaan sambilan untuk sekedar membunuh waktu agar tak jenuh setiap hari berada di rumah.

Dan kini giliran aku beristirahat di atas Kowanbisata yang pengap sementara bis mulai berjalan mencari penumpang di tengah terik matahari yang panasnya serasa melelehkan kulit.

Di lampu merah perempatan Boulevard kelapa gading bis kena giliran berhenti. Dan terciptalah adegan berikut:

[maaf jika ada yang tersinggung, adegan ini tidak untuk mendiskriminasikan profesi sejenis, sekali lagi maaf]
Seorang pengemis masuk terseok – seok… pria usia antara 35-38 tahun dengan tubuh kurus berisi, raut wajah yang pucat dan suara mengiba berjalan dengan tangannya sementara kedua kakinya di seret bak suster ngesot di film-film. Di tangannya terselip kayu yang sudah di modifikasi dengan karet ban supaya dapat menjadi sandal / alas berjalannya. Seperti pengemis pada umumnya, pakaian compang – camping jadi andalan properti. Setiap kursi penumpang tak luput dari sambangannya sambil menadahkan tangan, berharap ada penumpang yang tergerak hatinya untuk memberikan sedikit rezeki sekedar buat makan siang, kilahnya dalam petikan kata – kata yang terucap di sela gerakannya yang pelan tapi pasti mulai mengarah kepada kursi yang aku duduki. Semakin mendekatiku tapi ku perhatikan sejak awal masuk hanya beberapa yang memberikan uang logam kepadanya.

Posisi dudukku ada di depan pintu keluar paling belakang. Jadi kalo dari depan setelah melewati kursi baru keluar menuruni tangga.

Gepeng
:
[salam] “..Mas kasiaaan mas, belum makan dari pagi mas..”

Yudha
:
[melambaikan tangan sambil tersenyum]

Gepeng
:
[mengulangi perkataan yang sama setengah memaksa] “mas kasiaaan maas, belum makan dari pagi maas..”

Yudha
:
[kembali melambaikan tangan sambil tersenyum] “Maaf ya Pak..”

Gepeng
:
[dengan gerakan tangan ke arah mulut]“ayolah mas…. Tolong saya, buat makan aja maaas”

Yudha
:
Iya, Pak maaf, saya juga belum….

Gepeng
:
[sambil merogoh tas kain yang dibawanya di keluarkan sejumlah uang hasil ngemis] “Ooo… JADI MAS BELUM MAKAN JUGA? NIIIH MAS … SAYA KASIH, AMBIL MAS…AMBIL!!!”[marah – marah ngga jelas]


Kemudian pengemis itu keluar dari bis dengan gegap gempita mengeluarkan rasa kesalnya hingga lupa kalau dia sedang berperan sebagai orang yang berjalan ngesot, pake nunjuk-nunjuk ke bis juga [#tepokJidat].  Di tambah melangkah dengan tangan hampa karena mungkin menurut anggapannya satu bis tidak mengerti keadaannya. Dan beberapa receh hasil memintanya kepada penumpang di dalam bis tadi ia buang begitu saja tanpa memikirkan hati orang yang masih melongo melihat sikapnya yang ajaib. Entah apalah maksudnya…. Tapi itulah yang menjadikan aku trauma lebih selektif dalam memberikan belas kasih kepada para actor jalanan seperti bapak tadi. [Bersambung…]


***     









01 May, 2013

MENIKAH… SIAPA TAKUT ?!!!



ilustrasi Gambar : Menikah Bukan Suatu Kekhawatiran,
tapi Khawatirlah jika Berbuat Sesuatu tan pa Menikah :P
MENIKAH… kata yang begitu Indah untuk di dengar namun begitu menakutkan untuk di realisasikan bagi kalangan jomblo – jomblowati yang kesepian dalam mengarungi kehidupan. Tak terbayangkan ketika semua mulai di jalani akan terjadi banyak kepedihan dan kepiluan mendalam disela – sela perjalanannya. Masa kini yang penuh kesendirian serta pernak pernik kelucuan nan galau semakin mengasah bayangan menakutkan dalam mengarungi bahtera rumah tangga di masa depan.

MENIKAH …. Banyak alasan yang bisa kita ungkapkan ketika harus berhadapan dengan kata yang satu ini. Sebagian orang berkata: “belum punya jodoh yang tepat”… sebagian lainnya bilang “sebenarnya sudah ada calon, tapi biayanya belum siap”… segelintir orang lagi punya alasan berbeda dengan mengatakan “ ngga nikah aja masalah udah banyak, gimana nanti nikah!!!”. Dan masih ada ribuan kalimat lain yang bisa digunakan untuk menampik alasan bahwa menikah adalah sesuatu yang indah jika kita meyakininya, disamping ada *syarat dan ketentuan berlaku.

Bagaimana tidak, dengan menikah kita bisa mengurai persoalan bersama pasangan yang akan menjadi bagian dari hidup kita. Dengan menikah kita sudah menjadi seorang dermawan karena mau berbagi cinta, suka, bahagia, bersama dengan kasih sayang hingga mabuk kepayang. Kian hari terasa lebih indah dan hidup akan menjadi lebih hidup saat semua mimpi yang dirajut bersama terealisasi dalam kisah kasih terbingkai nyata untuk satu tujuan “membina Keluarga SAMARA menuju kebahagiaan dunia akhirat..”.

Meng copast dari janji ALLAH SWT melalui Firman-NYA :

 وَ أَنْكِحُوا الْأَيامى‏ مِنْكُمْ وَ الصَّالِحينَ مِنْ عِبادِكُمْ وَ إِمائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَراءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَ اللهُ واسِعٌ عَليمٌ 

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan.Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya.Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. ( An-nur : 32 )

Tuuh… ALLAH sadja sudah menjanjikan kekayaan bagi hambaNYA yang ingin menikah, mencukupkan untuk yang masih kekurangan, membenahi buat yang masih terbengkalai. Koq bisa – bisanya kita ragu dengan janji dari Dzat yang MAHA benar dan menciptakan kita, dengan segala nikmat yang telah diberikanNYA hingga detik ini. Koq bisa – bisanya Kita hanya di hantui oleh “hantu-hantu” yang berwujud nyata maupun yang hidup di alam bawah sadar (baca: mindset) dengan menghembuskan bisikan bahwa hidup ini adalah tanggung jawab kita sebagai pelakunya. Jodoh adalah sesuatu yang harus kita cari dan semua harus di pertanggung jawabkan. Siapa berbuat itu yang harus bertanggung jawab… dan masih banyak lagi hantu-hantu lain bertopeng kata “tanggung jawab” atau kalimat yang secara psikologis dapat menjerumuskan kita pada kesesatan terhadap cara berpikir dalam mengasumsikan kata MENIKAH.

Lalu masih maukah kita memelihara ketakutan yang ngga pasti dan dapat menjatuhkan diri kedalam masa depan yang penuh ketidak pastian. Dalam arti kekurangan itu tidak pasti, kemiskinan karena menikah juga tidak pasti, kesulitan dalam menikah juga pertanda yang tidak pasti. Rubah dooong mindsetnyaaaa… gimana kalo nanti kita menikah banyak rejeki yang datang menghadang? Gimana kalo nanti menikah akan dapat kebahagiaan yang menjulang? Gimana jika sudah menikah jabatan dan karir langsung melejit… sudah SIAPkah kita? J

Karena dalam setiap keadaan yang terjadi tergantung bagaimana cara kita menyikapinya. Kebaikan akan menjadi keburukan ketika tidak di sikapi dengan baik. Keburukan akan menjadi sebuah pelajaran, jika kita dapat menarik hikmah atas peristiwa itu dengan benar.

Sahabat… inilah tentang aku, kamu, dia, mereka, kita semua…. J

17 April, 2013

Aisyah dan Sebuah Kisah


Malam menjelang pagi, aku sendiri tak tau sudah jam berapa ini… Jam dinding di hadapanku “sekarat” …baterainya sudah tidak kuat lagi menggerakan jarum jam hingga waktu seolah berjalan di tempat. Biasanya saat begini jiwaku sudah terpisah dari raga dan menikmati mimpi indah ditemani istri kesayanganku. Hhmmmm…. Insomnia lagi... kilahku dalam hati. Entah pikiran apa yang sedang bergelayutan di alam bawah sadarku hingga tidak dapat memejamkan mata yang mulai layu ini.

Selesai shalat Isya yang harusnya menjadi jadwal shalat Tahajjud, kubuka PC di ruang tamu dan mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu. “AISYAH”….sebut saja namanya…, adalah seorang wanita berhijab masih keturunan etnis oriental yang menjadi temanku beberapa minggu belakangan ini. ALLAH mempertemukan kami melalui blog ini. Aisyah memiliki karakter lincah cenderung aktif, supel dan murah senyum. Terkadang gaya seriusnya tidak cocok untuk dibawa bicara serius [;P]. Bahkan saat aku dan seorang lagi teman sempat mendengar ia tertawa di sebuah kafe lokasi kami bertemu, menurut Syahrini tawanya seolah “Cetar Membahana Bajay mempesona u..la..laaa”… membuat orang yang berada di sekeliling “terpaksa” meliriknya dan tertegun sejenak, kemudian kita pura – pura tidak kenal khawatir di usir dari lokasi kongkow [;P]. Selang waktu berjalan tak terasa satu persatu tamu kafe mulai beranjak pergi,  tapi pembicaraan semakin hangat. Mengenalnya sekilas waktu seperti menjalin persahabatan bertahun – tahun. Hingga kedekatan kami berlanjut ke koridor bisnis.

Singkat cerita….

Malam ini aku tidak menyangka akan mengenal dia begitu dalam, hingga riwayat hidup yang di usung menurutku tidak seharusnya dibuka mengingat akupun belum pantas untuk di bebankan amanah yang sedemikian hebat. Namun yang membuatku tersanjung adalah, caranya memberiku kepercayaan hingga ia mampu dengan gamblang menceritakan masa lalunya yang begitu mencekam. Layaknya teman curhat yang tetap menjaga etika dan moral, di hujaninya aku dengan banyak kisah.. hingga akhirnya terbersit keinginan dalam dirinya untuk meninggalkan keadaan yang di hadapi saat ini menuju tempat yang dianggap nyaman dan tidak ada seorangpun mengganggu hidupnya.

Mendengar kisahnya yang begitu dramatis, membuatku sesekali mengusap dahi dan  menghela nafas panjang, pertanda tak kuasa menahan penat dan sesak di dada. Bagaikan seorang artis papan atas, ia begitu mahir menutup kesedihan dan himpitan masalah yang selama ini dihadapkan. Dan aku dengan jujurnya mengatakan bahwa diriku masih tak percaya dia mampu memperdengarkan cerita hidupnya kepadaku, dengan kedekatan layaknya hubungan sahabat yang telah lama di kenal. Jujur… secara pribadi aku tidak menerima mendegar keputusannya untuk meninggalkan keadaan meski hanya sementara. Tapi yang jelas ia lebih paham mau di bawa kemana arah hidupnya hingga seorang AISYAH berhak memutuskan langkah hidup dalam menggapai bahagia untuk diri, keluarga, teman, dan orang – orang yang bergantung padanya. Tanpa di sadari, hari semakin larut.

***

(Sumber Ilustrasi gambar  : Aisyah... terselip sebuah kisah dibalik ketegarannya)

Aisyah… jika engkau sempat membaca tulisan ini, demi ALLAH… aku tidak pernah mengetahui sebelumnya tentangmu, akan keakuratan cerita yang telah menjadi inspirasi postinganku di pagi buta ini. Dan aku tidak tau apa rencana ALLAH untuk mempertemukan kita layaknya sahabat kilat yang mengemban amanah super hebat. Terima kasih atas kisah selingan ditengah obrolan bisnis nan manis hingga aku banyak menemukan hikmah dibalik perjalanan panjangmu. Mau tau hikmah apa yang bisa aku pahami????

ü  WAKTU : Nikmati sajalah detik demi detik berjalan sebaik mungkin, karena tidak akan ada lagi waktu yang terlewat ini akan kembali. Waktu seperti air mengalir, kita tidak akan dapat mengambil air yang sama di tempat yang sama ketika ia berlalu.

ü  MASA DEPAN : Adalah hal yang tidak dapat kita tentukan saat ini.. semua adalah MISTERI ILAHI, setiap rancangan sempurna bukan berarti yang terbaik di hadapan Yang KUASA. Jika hidup adalah mengendarai mobil. Apakah engkau mengetahui sebab Kaca mobil yang di design lebih besar dari pada kaca spion? Aisyah… itu merupakan perumpamaan bahwa menjalani HIDUP harus lebih melihat  kepada masa depan, boleh sesekali melihat masa lalu… tapi pahami bahwa masa lalu bukanlah tujuan hidup. Masa lalu tetap menjadi pengalaman dan guru terbaik, agar kita tidak terjerembab di lubang yang sama. Fokus dengan apa yang ada di depan, hingga kita bisa menjalani waktu demi waktu dengan cara pandang yang luar biasa dan mencapai apa yang di tuju.

ü  PERSAHABATAN : adalah suatu hubungan emosional layaknya MATA dengan TANGAN… Ketika Tangan sakit, mata akan menangis… dan ketika mata menangis… maka tangan menghapusnya. 

Sahabat.... inilah tentang aku, kamu, dia, mereka, kita semua.... J