HALAMAN

Showing posts with label DIARY. Show all posts
Showing posts with label DIARY. Show all posts

21 February, 2016

BERADA DI ANTARA MASA DEPAN, MASA KINI DAN MASA LALU



“Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, sungguh mereka akan menghadapi masa depan yang berbeda dari masamu” (Ali bin Abi Thalib R.A)

Kalimat bijak sarat dengan nasehat itu kian bergejolak hebat kala menginjak usia nikah semakin bertambah dan melahirkan empat buah hati yang kian gencar bereksplorasi. Menjadi orang tua zaman sekarang terasa semakin kehilangan kendali. Saingan pendidik semakin banyak. Televisi semakin mudah menyihir kita untuk istiqomah menggunakan konsentrasi penuh terhadap waktu yang begitu cepat berlalu. Facebook, twiter, BBM, Whatsapp, LINE, dan chat tool lainnya seakan menjadikan media kita menjauhi orang – orang terdekat, padahal tujuan awal terciptanya fitur itu adalah untuk mendekatkan yang jauh.... tapi malahan yang terjadi adalah orang yang ada di sekeliling kita menjadi tak terlihat lagi karena asyik memandangi kotak kecil yang lagi-lagi menyihir kita alih-alih fokus dengan percakapan, senyam-senyum sendiri bahkan menertawai layar sentuh berdimensi 5 inchi sambil memainkan jari-jemari berbalas kata. hingga haripun berganti, Cinta tak lagi terjalin indah, kebersamaan berlalu sudah, yang ada hanyalah kesepian dan perasaan hampa ketika perubahan zaman menjadikan posisi berbanding terbalik terhadap fitrah manusia yang diciptakan-NYA sebagai mahkluk social, bukan mahkluk yang mahir bersosialita di dunia maya tanpa batas.

Alangkah cepat waktu berlalu, tak terasa usia anak-anakku ini semakin besar, makin hari kebutuhan mereka akan informasi semakin kompleks.  Namun dalam perjalanan mencari informasi yang di butuhkan, anak-anak butuh bimbingan. Lalu sebagai orang tua bagaimana kita memainkan peran untuk mereka yang mulai mencari sosok terdekat untuk dijadikan teladan mereka, apakah yang harus dilakukan, mengingat aku hanyalah jembatan dalam mencapai masa depan mereka. Jembatan yang kelak akan dilalui oleh begitu banyak keinginan untuk mencapai tujuan, jembatan yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban-NYA. Inilah jembatan yang semakin hari semakin tua dan tetap harus terlihat perkasa, jembatan yang akan menjadi saksi bahwa kelak entah 20, 30, 40 tahun kemudian ada orang – orang yang bangga telah hidup dan menjadi bagian darinya. Atau bahkan menjadi semakin rapuh tergerus oleh kemajuan teknologi yang akhirnya menggantikan posisiku sebagai pengasah, pengasih dan pengasuh ke empat buah hatiku.  

Tapi kemudian apa yang bisa aku lakukan untuk mempersiapkan empat kebahagiaanku ini? Padahal jika direnungkan kembali lebih dalam, semakin banyak usianya lambat laun aku akan bertukar posisi dengan mereka. Jika hari ini ia digendong, boleh jadi 30 tahun kemudian akulah yang akan di gendongnya menuju tempat peristirahatan terakhir. Jika hari ini aku menggandengnya, tidak mustahil 40 tahun lagi ia yang akan menggandengku ditemani tongkat penyangga. Jika kali ini aku menafkahi mereka, lalu apakah mustahil 20 tahun kemudian mereka jauh lebih mampu memberi nafkah untukku, menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu bersama menantu dan cucu? Atau bahkan aku yang akan berada dalam bangsal tua berjeruji besi penuh sesak oleh teman sebaya namun tetap terasa sepi tak bertepi yang kemudian orang memanggil tempat berbayar itu dengan sebutan “panti jompo”...

Ada yang tertinggal dari pencapaian masa depannya, sebelum mengenalkan apa itu masa depan, sebaiknya kenalkan kepada mereka tentang masa lalu… SEJARAH… yak, sejarah dan figure manusia terbaik sepanjang zaman. Tentang siapa Rabb nya, tentang bagaimana Alquran turun dan [harusnya] menjadi pedoman seluruh umat di bumi, tentang siapa Muhammad SAW, bagaimana hingga beliau menjadi Nabi terakhir dan tiada lagi manusia yang diutus menjadi nabi setelahnya hingga datangnya hari akhir. menjadi perlu mengenalkan sejarah kepada mereka untuk dijadikan figure buat memaksimalkan karakter putera-puteriku agar mampu menyongsong masa depan mereka menjadi manusia yang lebih baik dengan mencontoh sosok manusia terbaik. Karena seperti yang telah di sampaikan oleh Rasulullah melalui sabdanya:

Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” (Shahih Al-Bukhari, no. 3650)

Itulah alasan mengapa perlu mengenalkan mereka [anak-anakku] tentang sejarah, karena disadari atau tidak, sejarah akan berulang. Sehingga kita perlu membekali diri agar mendapatkan jalan keluar yang baik.

Ah....sudah tiba saatnya tersadar dan terus belajar bagaimana menghargai waktu tentang membangun mahligai kebersamaan dengan putera-puteri tercinta, menjadikan anak sebagai kebahagiaan bukan beban, mencari pengetahuan tidak harus mendapatkan masalah duluan, kalaupun kita menganggap adanya anak sebagai ujian, percayalah bahwa ALLAH tidak akan menguji hambaNYA di luar kemampuan. Karena empat anak tak berdaya ini jika ALLAH mengizinkan kelak akan menjadi menusia yang digdaya, yang pada waktunya menjadi manusia gagah perkasa yang memiliki daya upaya karena ALLAH bersamanya. Manusia yang cantik, enerjik tapi juga harus mengenal siapa Rabb-nya agar tak terjerat kedalam fitnah dunia yang penuh tipu daya. Manusia yang menjalankan ibadah kepadaNYA bukan kerana takut akan Neraka dan menginginkan Surga. Manusia yang bisa bersosialisasi tanpa harus banyak basa basi apalagi berhalusinasi punya bermacam model mercy hanya modal punya meja kerja dan pakai dasi, bahkan untuk mencari tiga piring nasi harus nunggu hasil dari korupsi.. 

Wahai anak-anakku tercinta, kelak ketika aku lupa dengan apa yang sudah terucap, mohon segarkan kembali ingatanku, mungkin waktu dapat menghapus lisanku, tapi tulisan ini abadi untukmu, wahai istriku tersayang, maaf jika aku tidak peka terhadap apa yang engkau rasa, mungkin karena aku tercipta sebagai mahluk perkasa dan engkau tercipta sebagai mahkluk cantik nan perasa. Tapi percayalah... aku mencoba untuk menyelaraskan dua perbedaan kita sebagai media pencapaian tujuan kita mengharap ridhoNYA. Semoga kelak anak-anak kita bisa memakaikan mahkota emas di sana atas apa yang telah kita upayakan bersama... tapi di sini, biarlah kita jalani hidup seperti adanya dengan cinta dan bahagia karena Allah semata.

Depok, 21 Februari 2016 | di tulis dari Depok dengan penuh cinta, boleh di baca sesiapa dimana sadja |Satu Lelaki untuk satu istri dan empat buah hati


02 February, 2014

HIDUP ITU.... SEPERTI BERSEPEDA

Minggu , Juni 2011
Waduuhhh…. KESIANGAAAN!!! Samar – samar kulihat jam dinding menunjukan pukul 06.20 WIB kenikmatan dunia yang begitu mempesona dalam ranjang empuk dengan improvisasi menguap gaya Pak Ogah dalam film boneka si UNYIL sesaat berubah menjadi suasana dramatis. padahal Janji untuk ketemuan dengan teman – teman kantor harusnya sudah terealisasi 10 menit lalu dan aku sudah ada di Stasiun KRL Universitas Indonesia. Hal ini membuatku belingsatan untuk prepare apa yang harus di butuhkan. Ketemuan dengan teman – teman kantor kali ini bukanlah meeting membahas pekerjaan ataupun undangan resepsi pernikahan… apalagi pendaftaran mahasiswa baru. Kami memang sudah berkomitmen untuk bertemu disana untuk bersepeda bersama.

“gawat!!... GAWAT…!!” Sesekali ngedumel sama diri sendiri karena sudah telat janji. Ku ambil henpon dan terlihat dalam layar enam kali miskol dari Alip yang sejak setengah jam lalu berusaha menghubungi, disusul dengan sebuah pesan pendek berbunyi “Dimana Chuun, kita udah nunggu di stasiun UI” .
Dengan sigap sepeda gunung merk local bertipe “Broadway 3.0” sudah terangkat dalam genggaman dan bergegas mengayuh sepeda layaknya tukang somay yang berkolaborasi dengan gaya Valentino Rossi.. *ngga kebayang*

[30 menit kemudian]
Berhenti di depan halte celingukan bingung mau kemana, maklum ini adalah kali pertama aku mengunjungi UI untuk sengaja bersepeda, dengan kacamata safety dan sepatu kets ditambah aksesori botol air mineral yang berisi tinggal 1/3 botol menghiasi tas yang di selempang menyilang di bahu dan peluh yang membasahi sekujur tubuh efek dari jarang olahraga menyebabkan tubuh kaget menerima stimulasi gerakan yang terus menerus lebih dari 1 menit. Bak seorang tukang kredit tempo doeloe yang dikombinasikan gaya penjaja somay dengan performa masa kini ku ambil henpon dan kirim pesan singkat sambil bergaya, seolah – olah tidak mendengar panggilan Alip yang 30 menit lalu sudah sibuk absen siapa saja yang akan hadir.

“ada dimana bro? sori tadi ngga kedengeran telpon, lagi otw… cepat bales gue di halte poltek “
[sesaat tanda SMS balasan] “elo niiih udah telat nyasar pula, Tanya aja hutan UI dimana, buruan ditungguin sama yang lain, gapake LAMA!!”

Hwaaa…. Pesan singkat yang berarti sangat dalam… “SUDAH TELAT, NYASAR PULA”  perlu di garis bawahi dan cetak tebal. Memang begitu kenyataan pahit yang harus diambil. Tenyata memang yang lain sudah ada di lokasi sejak lama. Ngga apalah yang penting bisa hadir kali ini.maklum penjajakan sepeda baru dengan tayangan perdana. Sudah sampai UI sadja itu merupakan suatu predikat hebat yang belum tentu semua orang bisa menyandangnya… [biar narsis asal eksis] *halah, apa coba*

Dari kejauhan terlihat sosok gempal berhelm catok ala bikers dengan sepeda hitam senyum – senyum ngga jelas… yak!! Itu Alip yang sejak tadi berkomunikasi denganku via sms. Dia memang sudah sering kemari dan juga merupakan member tetap di UI. Kalo boleh di umpamakan, ibarat kataaaa…. jin UI aja sudah jadi sohib dan tunduk, saking lama nya dia main sepeda di sini. Padahal rumahnya itu ada di sekitar poltangan, pasar minggu. Ngga kebayang jauhnya, tapi katanya jarak segitu biasa saja. Wew!! Dua jempol teracung dengan manis kala ia menjelaskan perjalanannya menuju ke UI.

***

Waktunya mengelilingi hutan UI, aku bertanya pada Alip yang biasa main di sini…

“gimana aturan mainnya bro? cape ngga?”

“Lo ikutin aja, deket koq … paling cuman 15 menit selesai”

Halaaah… gampang kalo gitu, dalam hati sesumbar karena ku pikir semuanya bisa di pelajari ilmunya. Dengan persiapan kekuatan jantung yang seadanya aku berusaha untuk menyesuaikan diri dengan mereka yang sudah seperti pemain professional. Sementara keliatan banget aku yang dengan datang santai karena hanya sebatas bermain sepeda dan mengeluarkan keringat setelah itu kembali pulang kerumah dan menikmati sepiring mie goreng buatan istri tercinta yang baru saja di request bersama dengan terkirimnya pesan singkat di BB.

Singkat cerita jalan yang ku lalui tidak sesuai dengan yang ku bayangkan tadi, entah apakah Alip sedang meng- OSPEK pemain baru atau aku yang baru main sepeda.. dalam hati ngedumel sendiri membandingkan kenyataan yang tidak sesuai harapan. Rute jalannya sangat tidak nyaman, belokan mendadak, sementara ranting-ranting yang bertabrakan dengan kulit hingga sesekali menggores dan membuat luka baru. Belum lagi nafas yang terengah – engah seperti di kejar malaikat maut. Hwaaaaa!!! KAPOOOOK!!! Ini seperti ngeliat event motocross di tiviiii… Cuma bedanya ngga ada mesin dan knalpotnya di mulut.. HOHhh….HOHhhh..Hohhhh… *ngos-ngosan*

Nafas yang tersisa mirip fenomena serangan jantung mendadak. Jantung berdegup kencang seperti mau copot dari dan dengan sisa tenaga kupaksa kayuh hingga ketemu titik terakhir. Sementara aku sudah tertinggal jauh di belakang Alip dan satu teman lagi yang mendampingiku. Kupaksa lagi mengayuh sepeda kemudian kaki ini seolah kaku kemudian berhenti dan menjatuhkan sepedaku semau-maunya. Pertanda sudah tidak kuat lagi menggenggam sepeda yang ku bawa.

Hahhh..hahhhh..hoh..hohhh…hohhhh… suara nafas sudah ngga jelas dengan volume kencang dan desah yang kian stereo, kemudian Alip kembali menyisir mundur jalannya dan menemukan aku tergeletak lemas tak berdaya

“kenape lo Chuuun?” senyumnya lepas bersamaan dengan deru nafas seperti mengolok – olok ketidak berdayaanku.

“CAPPHEEEK!!  (..hohhh…hohhh..hohhhh..)” mataku mulai berkunang – kunang melihat wajah Alip seolah berbadan dua puluh tiga, rasanya sudah mau pingsan aku kali ini. Sementara untuk membuka mata saja sudah tidak mampu. Ironisnya di tempat aku berhenti tidak ada yang berjualan air atau minuman kaleng. “Yaaa iyyyalaaaah”…. Ngga mungkin juga mereka jualan di track sepeda. Itu hanya pemikiran bodohku saja yang manja semua mau di peroleh dengan instan.

 ***

Hehehe… itulah pengalaman pertama bersepeda yang begitu membuat tertawa malu sendiri karena ketidak tahuan serta keinginan yang begitu tinggi untuk mencoba. Malah berbuah kepayahan yang berkelanjutan. Dan apa yang terjadi setelah keluar dari track hutan UI kemudian pulang kerumah????
Inilah kenyataannya… :

ü  setelah ku hitung dan membedakan perjalanan berangkat di awal, ternyata aku sudah berhenti sebanyak 11 kali dari mulai UI sampai kerumah… hmmm.. jaraknya kalo dihitung sekitar enam kilometer.

ü  Menghabiskan 6 botol Air Mineral isi 600 ml.

ü  Menghabiskan waktu sebanyak 15-20 menit setiap kali berhenti istirahat.

ü  Pegal – pegal yang berkelanjutan di sekitar selangkangan, dan mengembalikan dalam keadaan normal hingga 3 hari lamanya.

Sejak saat itu undangan bersepeda terus berdatangan, dan aku menyanggupinya. Meski apapun terjadi sepeda terus ku kayuh dan tak berhenti hingga disitu. Sebuah kenikmatan ketika kita bisa berada di garis finish dan menyelesaikan tantangan demi tantangan.

Down hillers Sebelum start di Cikole, Bandung

Down Hillers di Puncak



Memang ngga bisa di bayangkan dengan kata – kata, hanya bisa di nikmati tanpa kata – kata hingga aku bisa membayangkan betapa penggila sepeda ini memiliki “ketagihan” yang begitu hebat. Dan hanya orang – orang yang memiliki kecintaan saja yang bisa merasakan betapa olahraga ini begitu nikmat terasa.

Tapi aku tidak membahas lebih dalam tentang kegilaan bersepeda, dengan adanya peristiwa bersepeda yang membuatku nyaris kehabisan nafas justru malah menorehkan hikmah tentang bagaimana cara yang bijak menyikapi hidup.

Dan ini lah hikmah tentang kehidupan yang bisa ku petik dari fenomena bersepeda :

ü  HIDUP itu seperti berSEPEDA, Jalani saja sepeda itu dengan kekuatan yang dimiliki, jangan memaksakan diri untuk meraih apa yang tidak dapat di capai. Ketika kita punya niat dan terus menjalaninya dengan segenap kekuatan  yang di miliki, kemudian menyelaraskan diri antara niat dan usaha, maka ALLAH yang akan memudahkan kita untuk mencapai tujuan. Karena kita tidak bertanggung jawab terhadap masalah yang ditemui, melainkan hanya di minta BERUSAHA, selebihnya biarkan DIA yang menilai upaya kita dalam menjalaninya.

ü  HIDUP itu harus SEIMBANG : layaknya bersepeda, antara mengayuh pedal dengan menjaga keseimbangan tubuh haruslah terjaga, jika tidak di lakukan, maka tidak menutup kemungkinan kita akan terjatuh. Sering kali pemaksaan keadaan terjadi hingga akhirnya tubuh terbelit dengan masalah sendiri, padahal andai saja kita focus dengan tujuan dan menikmati setiap detik waktu berjalan maka perjalanan yang jauh akan terasa dekat.

ü  Jalani hidup dan jadilah diri sendiri : kita ngga perlu mengejar apa yang telah di capai orang lain, cukup menjadi diri sendiri, mengukur kemampuan diri sebelum akhirnya memutuskan untuk berjalan mencapai tujuan adalah sangat bijak. Karena hanya kita yang tau kapan waktunya berjalan, kapan saatnya beristirahat. Yang perlu kita miliki adalah TARGET, NIAT, IKHTIAR, dan semuanya disempurnakan sambil berjalan.

Sahabat….inilah cerita tentang aku, kamu, dia, mereka….  Kita semua J









02 December, 2013

PARA PENCARI SEDEKAH [Profesi VS Pahala] / Bag.1



Gambar Ilustrasi : di ambil dari sini
“ Terus-menerus seseorang itu suka meminta-minta kepada orang lain hingga pada hari kiamat dia datang dalam keadaan di wajahnya tidak ada sepotong dagingpun.” (HR. Al-Bukhari no. 1474 dan Muslim no. 1725).



29 November 2013

Berita di salah satu jejaring social membuatku shock, terperanjat, seolah tidak terima kenyataan dan serasa aneh aja… pasalnya surat kabar elektronik ternama di Indonesia yang masih satu grup dengan Transcorp itu mengabarkan bahwa di daerah Pancoran 2 orang pengemis terjaring razia tanggal 26 November 2013 malam oleh petugas Suku Dinas Sosial setempat dan tertangkap tangan memiliki uang sejumlah 25jt di dalam gerobaknya. Apalagi ketika di beritakan dari hasil investigasi bahwa uang tersebut adalah penghasilannya selama 2 minggu bekerja sebagai pengemis Ibukota. Hwaaa….itu gajiku di tambah bonus dan nyambi sana-sini sebulan juga belum tentu bisa menyamakan penghasilannya yang super duper ….anjriiit !!! #ilfil L

Berita tentang pengemis yang memiliki penghasilan jauh di atas rata-rata penghasilan pegawai kantoran.. bagiku kabar ini bukan untuk yang pertama kalinya. Itulah sebabnya aku enggan untuk memberikan seseorang yang menjadikan mengemis sebagai satu profesi. Bahkan jauh sebelum ada berita ini aku sudah memutuskan untuk tidak memberikan uang atau apapun bentuknya kepada para “actor” jalanan (baca=pengemis), ditambah lagi dengan pemberitaan sejenis yang semakin marak seperti sekarang ini. Karena secara tidak langsung hal tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap orang – orang seperti mereka untuk malas mencari penghasilan yang lebih baik. Meskipun hasilnya sangat besar dan nyaris tidak masuk akal, tapi dimata orang lain yang melihat, pekerjaan tersebut selain tidak manusiawi juga semakin “mengotori” imej ibukota yang sudah krodit dengan pencitraan banjir kelas internasional, dengan peringkat 10 Negara yang tingkat korupsinya terhebat di dunia, belum lagi Dewan Perwakilan Rakyatnya yang punya tingkah “nyeleneh” seolah masalah hanya bisa di bahas pada sidang paripurna dan berpikir tentang APBN sambil memejamkan mata seraya berkata “YA” pada setiap hasil akhir sidang [#capekDeh]. Di tambah lagi ada pengalaman buruk yang membuatku enggan memberikan kesempatan sang actor jalanan untuk mencuri hatiku dengan mengiba agar diberikan sejumlah uang meskipun yang di terima adalah kumpulan receh yang kesannya remeh temeh.
.
Ah…. Ada-ada saja bentuk kreatifitas mereka dengan segala daya upaya untuk mengais rezeki di ibukota sementara ide-idenya dalam rangka mengelabui calon korban nyaris tidak pernah terpikir oleh kita yang sudah sibuk dengan banyak aktifitas yang terlalu penting.

***     


Oktober 1999
Suasana terminal pulogadung begitu ramai. Asap kendaraan umum yang mengepul ke udara membuat keadaan semakin krodit. Setelah penantian panjang, sampailah Kowanbisata jurusan Pulogadung – Cileungsi di hadapanku. Kemudian ku naiki bis yang kala itu baru saja masuk terminal menurunkan sisa penumpang untuk mencari penumpang baru, sambil kepanasan akupun menunggu kalau-kalau saja ada pedagang asongan yang membawa minuman dingin menjajakan dagangannya di atas bis. Terbayang sudah fantasi sejuknya air mineral atau teh Bot*l dingin yang mengalir lewati tenggorokan buat melepas dahaga. Bayangan itu makin menari – nari di otak kananku. Tak terasa berkali-kali sudah aku menahan ludah dan menunggu do’a yang tak kunjung terkabul, hingga akhirnya aku rela untuk mengantuk di atas bis yang tak bergerak sebelum kursi penumpang terisi penuh.

Perjalanan kali ini sebenarnya aku hanya menemani Pa’i, sahabat kentalku semasa jaya putih abu. Ia baru saja mengantarkan barang dagangannya di daerah Pluit. Kala itu ia sudah menjadi seorang mahasiswa kedokteran yang nyambi menjadi pedagang handphone dengan system delivery order.  Sementara status sosialku masih saja menjadi seorang pengangguran tanpa acara. Kebayang deh susahnya mencari kegiatan sampai – sampai aku ikhlas mengantarnya melakukan pekerjaan sambilan untuk sekedar membunuh waktu agar tak jenuh setiap hari berada di rumah.

Dan kini giliran aku beristirahat di atas Kowanbisata yang pengap sementara bis mulai berjalan mencari penumpang di tengah terik matahari yang panasnya serasa melelehkan kulit.

Di lampu merah perempatan Boulevard kelapa gading bis kena giliran berhenti. Dan terciptalah adegan berikut:

[maaf jika ada yang tersinggung, adegan ini tidak untuk mendiskriminasikan profesi sejenis, sekali lagi maaf]
Seorang pengemis masuk terseok – seok… pria usia antara 35-38 tahun dengan tubuh kurus berisi, raut wajah yang pucat dan suara mengiba berjalan dengan tangannya sementara kedua kakinya di seret bak suster ngesot di film-film. Di tangannya terselip kayu yang sudah di modifikasi dengan karet ban supaya dapat menjadi sandal / alas berjalannya. Seperti pengemis pada umumnya, pakaian compang – camping jadi andalan properti. Setiap kursi penumpang tak luput dari sambangannya sambil menadahkan tangan, berharap ada penumpang yang tergerak hatinya untuk memberikan sedikit rezeki sekedar buat makan siang, kilahnya dalam petikan kata – kata yang terucap di sela gerakannya yang pelan tapi pasti mulai mengarah kepada kursi yang aku duduki. Semakin mendekatiku tapi ku perhatikan sejak awal masuk hanya beberapa yang memberikan uang logam kepadanya.

Posisi dudukku ada di depan pintu keluar paling belakang. Jadi kalo dari depan setelah melewati kursi baru keluar menuruni tangga.

Gepeng
:
[salam] “..Mas kasiaaan mas, belum makan dari pagi mas..”

Yudha
:
[melambaikan tangan sambil tersenyum]

Gepeng
:
[mengulangi perkataan yang sama setengah memaksa] “mas kasiaaan maas, belum makan dari pagi maas..”

Yudha
:
[kembali melambaikan tangan sambil tersenyum] “Maaf ya Pak..”

Gepeng
:
[dengan gerakan tangan ke arah mulut]“ayolah mas…. Tolong saya, buat makan aja maaas”

Yudha
:
Iya, Pak maaf, saya juga belum….

Gepeng
:
[sambil merogoh tas kain yang dibawanya di keluarkan sejumlah uang hasil ngemis] “Ooo… JADI MAS BELUM MAKAN JUGA? NIIIH MAS … SAYA KASIH, AMBIL MAS…AMBIL!!!”[marah – marah ngga jelas]


Kemudian pengemis itu keluar dari bis dengan gegap gempita mengeluarkan rasa kesalnya hingga lupa kalau dia sedang berperan sebagai orang yang berjalan ngesot, pake nunjuk-nunjuk ke bis juga [#tepokJidat].  Di tambah melangkah dengan tangan hampa karena mungkin menurut anggapannya satu bis tidak mengerti keadaannya. Dan beberapa receh hasil memintanya kepada penumpang di dalam bis tadi ia buang begitu saja tanpa memikirkan hati orang yang masih melongo melihat sikapnya yang ajaib. Entah apalah maksudnya…. Tapi itulah yang menjadikan aku trauma lebih selektif dalam memberikan belas kasih kepada para actor jalanan seperti bapak tadi. [Bersambung…]


***     









26 July, 2013

SEPENGGAL WAKTU BERSAMA SAHABAT


Ali Ridho in Memoirs
Depok, 25 Juli 2013 | 08.30 WIB
Suasana pagi menjelang siang masih ingin mengajakku untuk bersantai – santai. Maklum ini adalah bulan Ramadhan Minggu ke-2 1434H ditengah ibadah shaum yang di wajibkan Umat Islam seluruh dunia. Badan masih tak bertenaga untuk melakukan aktifitas rutin. Padahal sebenarnya ngga ada yang namanya bermalas – malasan dalam menjalankan ibadah Ramadhan ini… karena bukan alasan yang tepat jika hal ini menjadikan kegiatan terhambat. Ah… sudahlah, yang jelas kenyataannya aku memang terlanjur nyaman dalam kondisi “malas” ini.

…oOOo….


Kemang | 10.15 WIB
Beberapa menit lagi tibalah aku ketempat tujuan dimana rutinitas berawal. Sejak sepuluh menit lalu henpon di balik saku bajuku berdering terus menerus, meminta untuk segera di respon dengan cepat. Nada dering yang memanggi tapi bukan dari kantor, karena sudah ku bedakan mana gadget untuk urusan kerja, dan mana yang di luar kerja… lalu dari siapa???, kupikir baiknya  minggir sajalah demi keamanan berkendara sambil merogoh saku dibalik jaket yang terus bergetar. Ku lihat layar blackberry bututku tercantum nama +wawan winardi, langsung ku respon panggilannya

“Halo… Yud, udah dengar berita belon? “

“HAH…apaan? Ngga kedengeraaaan…. Kenapa-kenapa!? Ga ada yang ngasih kabar dari tadi…”

“Ali Ridho… MENINGGAL!!”

“INNALILLAHI WAINA ILAIHI ROJI’UUUUN…”

Seketika itu suaraku yang lepas mengiringi lepasnya tetes demi tetes peluh selama  perjalanan menuju kantor yang hingga saat ini belum juga sampai. ingin rasanya langsung memutar arah tujuan dan membalikkan waktu barang beberapa menit saja untuk sekedar berpamitan dengan sahabat karibku semasa jaya putih biru.

Sesosok wajah berhidung mancung dengan logat sunda asli orang citeureup –nya yang konyol masih terlintas jelas di dalam memori. Entah sudah berapa kali senyum lebarnya mondar mandir sambil melambaikan tangan seolah ingin berpamitan untuk kali yang terakhir. Semakin berat saja langkah ku masuk ke ruang kerja dimana tugas harian sudah menanti disana. Ah… andai saja tidak ada pekerjaan yang begitu penting untuk di selesaikan hari ini, mungkin aku akan langsung menghadiri moment terakhir bersamanya sekedar mengucapkan “selamat jalan brader, jaga diri baik-baik disana” atau bahkan menangisi jasadnya tanpa sepatah kata telontar dari mulutku… cukup mendo’akan dalam hati yang hancur berkeping karena terlanjur mewariskan jutaan kisah yang teramat indah untuk dilupakan.

Teringat beberapa hari sebelum kedatangan bulan penuh berkah yang di nanti milyaran Umat Muslim seluruh penjuru dunia, kami beradu kata… biasalah anak itu, meski kami bukan ABG lagi tapi begitu masuk kedalam grup “putih biru” jiwa anak-anak muncul kembali layaknya masih berada dalam ruang kelas yang di tinggalkan guru pembimbing. Ah… gaya konyolnya selalu saja tak berubah, bahasanya yang “tinggi” biasa menghantarkan kami kepada suasana riuh canda. Hehehe… apapun kata yang keluar dari mulunya tidak bisa membuatku marah… rindu rasanya untuk “toyor” lagi kepalanya sambil tertawa lepas. Tapi sudahlah… #waktu tidak bisa terulang kembali.

Sahabat.... WAKTU... kita ngga pernah tau kapan akan sampai pada garis yang di tentukanNYA, semua yang telah dijalani bersama.. susah, senang, cerita hidup, ada kalanya berbagi dan berselisih paham... yang jelas #SELAMANYA kita tetap menjadi #SAHABAT dan tak akan pernah terganti sekalipun ada yang berusaha menyamakanmu.

Beristirahatlah dengan indah dan damai... akan ku rajut kenangan kita bersama dan ku bingkai namamu di relung hati terdalam. Teriring do'a yang menjadi bentuk penghormatan dan penghantar jiwamu kepada ALLAH, semoga DIA membukakan selebar-lebarnya pintu Al-Jannah kepadamu sebagai tempat terakhir...





*Teruntai salam perpisahan untuk #sahabat Ali Ridho, Wafat Hari Kamis 25 Juli 2013, di RS Sentra Medika Cibinong 

05 May, 2013

TERNYATA ASYIK JUGA NGEBLOG PAKAI ANDROID

Lama sudah ngga nge-blog bikin tangan dan otak mulai ngga sinkron. kegiatan dikantor juga membuatku "melupakan" sejenak hasrat untuk mengasah kemampuan menulis... Mungkin lebih tepat disebut dengan meng-update blog :p . Pasalnya, ngga ada waktu buat buka internet di kantor, sementara di rumah... Netbook yang biasa menemani pekerjaan dirumah, sampai kini kondisinya sedang "koma". Menurut info dari Wawan, teman sekolahku dulu, tempat ku titipkan netbook.. Penyakitnya adalah "bad sector"... Pokoknya inti dari semua itu adalah aku ngga bisa nge-nett lagi
:'(

Untunglah ada ide dari komunitas deBlogger yang sempat buat postingan "ngeblog" dengan android.
(tengkyu Om Bradley atas idenya), jadi ikut penasaran gimana caranya supaya bisa melanjutkan keinginan yang tertunda.(gayaaaa)...

Awalnya (sampai postingan ini di publish) ngga sabar ngetik dengan keypad yang kecil - kecil begini. Wajarlah... Karena jari jemari ku begitu lentik (baca-besar), seolah meledek buat mencet - mencet tuts nya. Ditambah touch screen yang bikin mata melotot buat meyakinkaRtn kalo jariku benar - benar sampai di huruf yang aku maksud... Semua benar - benar perlu kesabaran yang ekstra hebat.

tapi Sekarang malah aku lebih merasa nyaman dalam kondisi apapun untuk menggunakan android ini saat ngeblog. Sebut saja SAMSUNG GALAXY FIT, salah satu produk keluaran samsung ini sudah ku pakai sejak 8 bulan lalu. Awalnya menggunakan gadget ini karena bermasalah dengan blackberry yang baterainya kerap kali habis. Tapi makin kesini jadi ketagihan sama android, karena cara pakainya yang relatif lebih mudah dan banyak fitur yang bisa di download via play store. Q Maklumlah.. Layaknya punya mainan baru, aku tetap mencoba untuk bisa mahir mengetik via android ini :)) (norak.com).

Akhirnya.... Ada dan tiadanya Pc maupun  laptop tidak menjadi penghalang untuk tetap eksis di dunia blogger. Akupun bisa lakukan posting dima.na tempat saat ide menulis muncul tanpa khawatir akan hilang karena ngga punya alat tulis dan reminder.

17 April, 2013

Aisyah dan Sebuah Kisah


Malam menjelang pagi, aku sendiri tak tau sudah jam berapa ini… Jam dinding di hadapanku “sekarat” …baterainya sudah tidak kuat lagi menggerakan jarum jam hingga waktu seolah berjalan di tempat. Biasanya saat begini jiwaku sudah terpisah dari raga dan menikmati mimpi indah ditemani istri kesayanganku. Hhmmmm…. Insomnia lagi... kilahku dalam hati. Entah pikiran apa yang sedang bergelayutan di alam bawah sadarku hingga tidak dapat memejamkan mata yang mulai layu ini.

Selesai shalat Isya yang harusnya menjadi jadwal shalat Tahajjud, kubuka PC di ruang tamu dan mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu. “AISYAH”….sebut saja namanya…, adalah seorang wanita berhijab masih keturunan etnis oriental yang menjadi temanku beberapa minggu belakangan ini. ALLAH mempertemukan kami melalui blog ini. Aisyah memiliki karakter lincah cenderung aktif, supel dan murah senyum. Terkadang gaya seriusnya tidak cocok untuk dibawa bicara serius [;P]. Bahkan saat aku dan seorang lagi teman sempat mendengar ia tertawa di sebuah kafe lokasi kami bertemu, menurut Syahrini tawanya seolah “Cetar Membahana Bajay mempesona u..la..laaa”… membuat orang yang berada di sekeliling “terpaksa” meliriknya dan tertegun sejenak, kemudian kita pura – pura tidak kenal khawatir di usir dari lokasi kongkow [;P]. Selang waktu berjalan tak terasa satu persatu tamu kafe mulai beranjak pergi,  tapi pembicaraan semakin hangat. Mengenalnya sekilas waktu seperti menjalin persahabatan bertahun – tahun. Hingga kedekatan kami berlanjut ke koridor bisnis.

Singkat cerita….

Malam ini aku tidak menyangka akan mengenal dia begitu dalam, hingga riwayat hidup yang di usung menurutku tidak seharusnya dibuka mengingat akupun belum pantas untuk di bebankan amanah yang sedemikian hebat. Namun yang membuatku tersanjung adalah, caranya memberiku kepercayaan hingga ia mampu dengan gamblang menceritakan masa lalunya yang begitu mencekam. Layaknya teman curhat yang tetap menjaga etika dan moral, di hujaninya aku dengan banyak kisah.. hingga akhirnya terbersit keinginan dalam dirinya untuk meninggalkan keadaan yang di hadapi saat ini menuju tempat yang dianggap nyaman dan tidak ada seorangpun mengganggu hidupnya.

Mendengar kisahnya yang begitu dramatis, membuatku sesekali mengusap dahi dan  menghela nafas panjang, pertanda tak kuasa menahan penat dan sesak di dada. Bagaikan seorang artis papan atas, ia begitu mahir menutup kesedihan dan himpitan masalah yang selama ini dihadapkan. Dan aku dengan jujurnya mengatakan bahwa diriku masih tak percaya dia mampu memperdengarkan cerita hidupnya kepadaku, dengan kedekatan layaknya hubungan sahabat yang telah lama di kenal. Jujur… secara pribadi aku tidak menerima mendegar keputusannya untuk meninggalkan keadaan meski hanya sementara. Tapi yang jelas ia lebih paham mau di bawa kemana arah hidupnya hingga seorang AISYAH berhak memutuskan langkah hidup dalam menggapai bahagia untuk diri, keluarga, teman, dan orang – orang yang bergantung padanya. Tanpa di sadari, hari semakin larut.

***

(Sumber Ilustrasi gambar  : Aisyah... terselip sebuah kisah dibalik ketegarannya)

Aisyah… jika engkau sempat membaca tulisan ini, demi ALLAH… aku tidak pernah mengetahui sebelumnya tentangmu, akan keakuratan cerita yang telah menjadi inspirasi postinganku di pagi buta ini. Dan aku tidak tau apa rencana ALLAH untuk mempertemukan kita layaknya sahabat kilat yang mengemban amanah super hebat. Terima kasih atas kisah selingan ditengah obrolan bisnis nan manis hingga aku banyak menemukan hikmah dibalik perjalanan panjangmu. Mau tau hikmah apa yang bisa aku pahami????

ü  WAKTU : Nikmati sajalah detik demi detik berjalan sebaik mungkin, karena tidak akan ada lagi waktu yang terlewat ini akan kembali. Waktu seperti air mengalir, kita tidak akan dapat mengambil air yang sama di tempat yang sama ketika ia berlalu.

ü  MASA DEPAN : Adalah hal yang tidak dapat kita tentukan saat ini.. semua adalah MISTERI ILAHI, setiap rancangan sempurna bukan berarti yang terbaik di hadapan Yang KUASA. Jika hidup adalah mengendarai mobil. Apakah engkau mengetahui sebab Kaca mobil yang di design lebih besar dari pada kaca spion? Aisyah… itu merupakan perumpamaan bahwa menjalani HIDUP harus lebih melihat  kepada masa depan, boleh sesekali melihat masa lalu… tapi pahami bahwa masa lalu bukanlah tujuan hidup. Masa lalu tetap menjadi pengalaman dan guru terbaik, agar kita tidak terjerembab di lubang yang sama. Fokus dengan apa yang ada di depan, hingga kita bisa menjalani waktu demi waktu dengan cara pandang yang luar biasa dan mencapai apa yang di tuju.

ü  PERSAHABATAN : adalah suatu hubungan emosional layaknya MATA dengan TANGAN… Ketika Tangan sakit, mata akan menangis… dan ketika mata menangis… maka tangan menghapusnya. 

Sahabat.... inilah tentang aku, kamu, dia, mereka, kita semua.... J

15 January, 2011

MENGURUS VISA TURIS AUSTRALIA II (Email Sahabat)

Postingan saya yang berjudul MENGURUS VISA TOURIST AUSTRALIA mendapat respon positif. Alhamdulillah artinya sampai dengan saat ini hasil corat-coret saya masih bermanfaat. Terima kasih juga buat teman-teman Blogger yang sudah mau menyempatkan diri untuk sharing dengan saya, apalagi banyak diantaranya yang sampai dengan saat ini masih keep in touch walaupun kita ngga pernah ketemu sebelumnya. Dan puji syukur semuanya tetap menjaga hubungan baik. Ada yang sudah di OZ menikah dengan pria idamannya, bahkan kabarnya dalam waktu dekat dia akan mendapatkan spouse visa-nya, ada yang masih kuliah dan curhat sampai ngobrol masalah antenna TV juga minta pendapat, ada lagi yang sampai minta diurusin visa turisnya karena ngga sempat mengurusnya sendiri.

Semuanya adalah teman-teman Blogger yang baik…. Saya salut dengan kalian, ternyata diluar sana justru ketulusan dan rasa percaya antara satu dengan yang lain terjalin dengan indah hingga dapat menumbuhkan solidaritas antar sesama pengguna blogger.


Saya ingin menambahkan sedikit mengenai pengurusan Visa Turis Australia, karena dari tulisan sebelumnya ada teman-teman masih bingung dengan persyaratan untuk Si Penjamin kita di OZ.
Kira-kira bunyi pertanyaannya begini….”persyaratan apa yang dibutuhkan untuk Si Penjamin yang berada di Australia sehingga dapat meyakinkan Kedutaan bahwa kita memiliki keluarga/teman/kerabat yang dapat menjamin kita sebagai pemakai Visa selama berada di Australia?..’

Berikut adalah petikan email yang saya dapat dari sahabat saya Miss Fire Lady (as nikename). Dia adalah seorang wanita yang akan segera menikah dengan pria idamannya. Dan saya berterima kasih karena dia mau berbagi pengalamannya buat saya……:


Sorry mas...emailku yang sebelumnya kayaknya salah alamat..
Ni aku nulis baru...wkt kemarin2 sempat bersih2 email karena penuh sesak bikin mumet...mungkin punyamu ke-delete kali...hahahahah ampun pakdhe !!!!

Mo cerita apa ya?lali aku...sik tak mikir dulu..

Klo ga salah sih soal slip gaji ceritaku di chatt waktu itu. Jadi maksudnya begini, slip gaji pengundang 3 bulan sebelum keberangkatan harus dilampirkan. Klo ga bisa melampirkannya bisa pake surat keterangan dari bossnya (ditanda tangani bossnya juga tentunya) yang menerangkan bahwa posisinya secure dalam artian bekerja sudah lama dan sepertinya tidak akan kena masalah/PHK di kemudian hari. Ini berlaku klo sudah bekerja di perusahaan tersebut lama (lebih dari 5 tahun). Disini pacarku selain menyertakan gaji per bulan juga pernyataan dari bossnya juga yang menyatakan bahwa dia sudah bekerja 10 tahun dengan posisi yang secure. Terus juga klo ada bukti transaksi keuangan antara pengundang dan diundang sebaiknya juga dilampirkan, misalnya pernah transfer uang (maksudnya memberikan dukungan yang kuat bahwa orang yang mengundang benar2 tau pasti orang yang diundang).

Saya mo menambahkan juga dari email yang sebelumnya tentang passport. Sebenarnya maksud passport pengundang harus disertakan karena pengundang tersebut bukan asli dari aussie (pendatang baik yang sudah jadi citizenship ato belum). Kalo aussie descent sendiri tidak perlu karena khan sudah otomatis citizenship sejak lahir, dan belum tentu semua aussie descent punya passport semua karena belum tentu juga pernah bepergian ke LN. Maka sebagai penggantinya boleh pake akta lahir yang dichop polisi setempat dan dikirim ke alamat yang diundang untuk nanti dilampirkan. Selain itu (ini tambahannya maksudku) disertakan juga document2 laen misalnya kayak driver licence, medicare card, centrelink, dll pokoknya dokument apa aja yang dipunya.

Sekian dulu ceritanya saat ini, ntar klo ada tambahan ditulis lagi

Cu bye
Fire Lady





……nah kira-kira begitu ceritanya, jadi untuk persyaratan yang diperlukan untuk Si penjamin disana adalah:


• Surat Keterangan dari Pimpinan di sertai chop/stempel dan kop surat bahwa Penjamin kita adalah Karyawan pada perusahaan tersebut dan dalam status aman (tidak sedang dalam masalah atau akan di PHK di kemudian hari).

• Akta kelahiran yang di Chop/stempel oleh Kepolisian Wilayah setempat, untuk membuktikan bahwa Si Penjamin memang benar berdomisili disana. (aslinya kirim ke kita, sementara sambil menunggu aslinya datang, kita dapat menggunakan format Scan atau Fax).

• Lampirkan pula data pendukung lainnya seperti: SIM, Kartu Asuransi/kartu berobat/centrelink maupun dokumen pendukung lainnya. Supaya kedutaan memiliki keyakinan bahwa identitas Si Penjamin adalah benar

Sepertinya cukup sekian dulu postingan saya kali ini, karena saya mau makan dulu nih (xixixi….). Lain kali akan saya sambung lagi jika ada perkembangan informasi.

Terima kasih buat "Mbak Fire lady"... yang mau menjadi narasumber. semoga amal ibadahnya di terima sebagai pencerahan kepada teman-teman kita yang lain, supaya dapat terbantu menegenai pengurusan visanya.

Satu lagiiii...... Ada beberapa template surat yang mungkin dapat anda pergunakan ketika akan mengajukan aplikasi visa turis Australia, silahkan di download... tapi INGAT izin dulu yaaa.... (*via comment) supaya yang buat surat juga dapat energi positifnya.... hehehe

Contoh Surat Pernyataan Suami - Istri 

Check Persyaratan Visa Anda 

Contoh Surat Kuasa Pengurusan Visa 

Contoh Invitation Letter 

Contoh Surat Sponsor Perusahaan 

Selamat Berjuang Teman-temaaaan.... !!!!!  Semoga Berkaaah..... J