17 May, 2011

Mama... Aku Sayang Padamu


sore itu kupandangi wajah perempuan tua yang hadir dan tak asing lagi dalam kehidupanku. Semakin hari semakin nyata kerutan diwajahnya. Namun ambisinya menjalani hidup tak pernah pupus. Meskipun nasib baik tak pernah berpihak padanya, dia yakin kehidupannya akan berubah indah pada waktunya.

Semakin hari kurasakan jalannya semakin tertatih, raganya semakin berat untuk membawa langkahnya. Bahkan tak jarang ku dapati ia menahan sakit diantara kesunyian dan ketika duduk dalam kesendirian. Namun ia begitu “pintar” menyembunyikan kepedihannya di depan orang-orang yang dikenalinya, karena dia tak ingin terlihat rapuh meskipun usianya telah menggerogoti raga. Ditahannya beban berat dipundak dan tetap tersenyum lebar untuk memberikan kedamaian orang-orang yang dikasihinya.

Mama betapa aku bangga memilikimu…terlintas bayangan yang hadir mendekatiku. Terasa sekali waktu berjalan begitu cepat hingga tak sadar kini aku telah dewasa. Kembalikan lagi lembar demi lembar kehidupanku. 9 bulan lamanya kau bawa beban berat dalam rahimmu, bahkan tidurpun kau jaga dengan penuh kasih sayang. Tak jarang ku tendang dinding rahim mu karena penat sudah terlalu lama berada didalam sana. Tapi mengapa malah kau membalasnya dengan kata-kata indah dan mempesona, “sabar ya nak…. Anak mama yang manis” sambil kau usap dengan penuh kelembutan. Hingga akhirnya datanglah waktu penantian untuk menyambut kehadiranku.

Berjuta rasa sakit yang datang menyerangmu, dan kau pertaruhkan nyawa untuk berusaha membuatku keluar dengan selamat tanpa pedulikan keselamatanmu sendiri. Hingga akhirnya lahirlah aku ke dunia ini berkat perjuanganmu yang hebat. Kali ini kulihat samar-samar senyum lebar merekah merah disertai tangis bahagia. Seolah ingin memperjelas keadaan bahwa perjuanganmu menahan sakit adalah tak sebanding dengan melihat kehadiranku dan mendengar lengkingan suara pertamaku.
Setelah aku mulai dapat merangkak dan belajar berjalan, seringkali kau temukan pecahan kaca piring, gelas, vas bunga kesayanganmu yang telah kupecahkan dengan atau tanpa sengaja. Berkali-kali itu pula ku lihat senyuman diwajahmu seolah menyiratkan bahwa tak terjadi apa-apa dan akulah yang paling berharga diantara segala yang kuhancurkan.

Saat aku duduk dibangku sekolah dasar, pernah ku habiskan uang receh simpananmu untuk bermain bersama teman-temanku, tapi apa yang ku dapati? Kau hanya membalasnya dengan kata-kata. “itu adalah bagian dari pengeluaranku untukmu sayang…”
Datang masa Seragam putih biru, aku mulai tidak pernah berada dirumah dan lebih senang berada diluar dengan sahabat terbaikku. Semakin besar dan semakin jauh aku dari pandanganmu. Aku merasa hidupku tak lagi ingin terbelenggu dengan peraturan orangtua. Aku ingin merasakan kebebasan orang yang tumbuh berkembang menjadi dewasa layaknya, memiliki pemikiran yang dewasa, merasakan kehidupan sebebas merpati yang terbang tinggi. Dan ketika ku pulang dengan wajah kusam mendekati fajar. Sekali lagi ku dengar suaramu memanggilku dalam do’a mu, mengisyaratkan cinta yang dalam dan meminta kepada yang Maha Pencipta agar aku diberikan kesehatan,di jaga dalam lindungan Nya dan dijauhkan dari mara bahaya meskipun kau tak sanggup lagi menjaganya setiap waktu seperti aku kala ada disampingmu. Dengan rintihan dan air mata yang membanjiri pelupuk matamu seraya menundukan wajahmu dihadapan-Nya.

Masa sekolah berlalu, dan aku mulai dapat mencari nafkahku sendiri, memenuhi kebutuhanku untuk meneruskan hidupku. Semakin jauh rasanya harapanmu untuk lebih dekat denganku, rasa sepi mulai mendatangi manakala aku tak pernah memberi kabar tentang keadaanku, terlebih lagi aku semakin asyik dengan kehidupanku saat ini. Aku semakin tak terkendali, namun ketika ku ketuk pintu rumah dan menyapa dengan salam, senyummu tetap seperti dulu menghangatkan hatiku, kau sambut aku seolah raja dalam hidupmu. Penjamuanmu tak berhenti sampai disitu. Apapun yang dapat kau berikan padaku maka kau keluarkan dengan tulus. Meskipun aku tau keadaanmu tak lebih baik dariku.

Ya Allah Sang Pemilik kebahagiaan sejati…. Ampuni aku yang telah membuang waktuku untuk membahagiakan wanita renta ini, berikan aku kesempatan untuk membahagiakannya dan membalas ketulusannya meskipun hal itu tak akan pernah sebanding dengan apa yang telah ia lakukan selama ini terhadapku. Mampukan aku untuk memberikan ia yang terbaik dengan apa yang aku miliki. Jadikan aku seperti apa yang diinginkan olehnya.

Ya Allah Sang Pemberi Kekuatan, aku mohon Ridho-Mu dan izinkan aku untuk memberikan kekuatan kepadanya agar ia dapat dengan bangga memiliki aku sebagai seorang anak. Limpahkan rezekiMu kepada kami untuk memberikan kesejahteraan disisa hidupnya agar aku tidak menjadi seorang anak yang durhaka, bahkan dalam tulisan ini, aku belum dapat merangkai kata yang membuktikan bahwa aku telah membahagiakannya.
Engkaulah tujuan dan harapanku seutuhnya, maka jadikanlah apa yang menjadi kehendak-Mu. Karena aku yakin ketentuan-Mu adalah apa yang terbaik untuk hidup Kami..

Dan wahai wanita renta yang tengah menanti kehadiranku, ketahuilah bahwa aku begitu sayang padamu. Dan aku sangat ingin senyum bahagiamu selalu terpancar diwajahmu. Betapa aku sangat menginginkan dapat membahagiakanmu. Begitu besarnya harapanku untuk menjadi sandaranmu dikala perih menghimpit hatimu. Dan aku mohon restumu untuk dapat meraih impianmu yang belum terwujud. Mohon ampuni aku jika selama ini aku telah menjadi beban dalam kehidupanmu, meskipun kau tak pernah mengakuinya. Aku tau kau begitu ingin mendengar hal yang belum sekalipun terucap olehku, tapi kali ini terimalah kesungguhan hatiku, rasakanlah getarannya, bukan karena kata yang keluar dari pita suaraku..tapi dari hati yang mendorong aku untuk mengatakan….”Aku Sayang Padamu MAMA”… dan akan selalu begitu selamanya...

No comments:

Post a Comment

" Berikan Komentar Anda Untuk Postingan Ini "