02 December, 2013

PARA PENCARI SEDEKAH [Profesi VS Pahala] / Bag.2 [Selesai]



Postingan ini bukan bermaksud untuk membandingkan keadaan mengungkit niat baik atau mengemis belas kasih. Jauh dari pada kesan tersebut sebagai pemilik blog hanya ingin mengembangkan informasi bahwa masih di sekitar Jakarta ada satu tempat yang membutuhkan uluran tangan para dermawan berjiwa sosial tinggi dan merasa dirinya terpanggil dalam membantu meneruskan cita-cita mereka para penjemput impian…sekalipun tidak berdiri di lampu merah, mereka tetap tidak pernah mengeluh dengan keadaan, karena mereka tahu bahwa hidup harus terus berjalan...bertahan....dan berTUHAN ...... 
[@yudha_rui]
***



Depok, Mei 2013

Suara riuh rendah puluhan anak anak bergema dalam mushola kecil di Jl. Kesadaran Cikumpa Rt.03/Rw.09 (Studio Alam TVRI) Kelurahan Sukmajaya, Depok. Letaknya memang jauh dari jalan raya, sekilas tak nampak adanya kegiatan jika kita melintas di depan bangunan yang menjorok kedalam tersebut, karena memang tempat ini begitu sepi jika terlihat dari luar. Bukan karena ingin menutup diri, tapi karena letak bangunan yang memang berada di ujung jalan membuat seolah orang yang baru pertama kali melintas akan beranggapan seperti itu. Hanya terlihat pagar setengah terbuka dan puluhan sandal milik ‘para penjemput impian’ (baca: santri Yatim-Dhuafa) yang tengah asyik parkir sejak pukul 4 pagi tadi.

Sebagian anak membaca huruf arab bersambung dikemas dalam sampul berjudul IQRO, masih mengeja dan terbata-bata… sementara sebagian lainnya mulai menghafal surat pendek untuk di “setor”kan kepada guru pembimbing. Suatu fenomena yang sudah mulai langka di kehidupan pinggiran kota depok, dimana anak – anak sekecil itu sangat antusias dalam mencari ilmu agama sementara waktu yang harus nya masih mereka pergunakan untuk beristirahat rela di korbankan untuk mencari ilmu. Dengan gigih mereka hadir ke majelis dalam rangka mendekatkan diri kepadaNYA. Ah…sesuatu yang begitu tenteram dan nikmat ketika aku merasakan berada diantara mereka.

 Anak – anak binaan Yayasan CendikiaAttaufiqurrohman berasal dari warga penduduk sekitar, dimana sekelilingnya di ‘kepung’ dengan kompleks perumahan real estate. Ironinya sebagian penduduk perkampungan disekitar mayoritas mengais rejeki bekerja sebagai buruh cuci, tukang ojek dan pemulung barang bekas dengan pendapatan dibawah rata - rata. Sehingga hal ini melatar belakangi di dirikannya YayasanCendikia At Taufiqurrohman. Yayasan membebaskan bayaran dan memberikan konsumsi kepada anak-anak yang datang mengaji kepada anak – anak dari warga yang memiliki kategori yatim dan dhuafa.

Aku  sendiri sebenarnya telah lama di undang oleh Edi untuk hadir ke yayasan Cendikia At Taufiqurrohman. Edi adalah ketua kelasku di kampus UMB zaman kuliah dulu. Hingga postingan ini terbit, di  tempat ini terdapat 86 anak yatim dan dhuafa di kumpulkan menjadi satu dan di bimbing untuk menjadi tahfidz qur’an. Yayasan Cendikia AtTaufiqurrohman baru 8 bulan berjalan dengan kondisi keuangan yang kurang lebih ‘pincang’. Pada saat pertama kali di pertemukan antara aku dengan Edi, keuangan masih dalam saldo minus, alias berhutang karena dana tersebut dipergunakan untuk membeli bahan bangunan dalam rangka mendirikan sebuah aula serba guna yang nantinya akan di jadikan ruang belajar computer gratis untuk anak – anak binaan. Dengan niat dan keinginan untuk membesarkan yayasan ini menjadi wahana belajar bagi anak – anak agar dapat mengenal dan memahami Sang Maha Pencipta maka yayasan berjalan dengan modal “BISMILLAH”….

***

Adalah Bapak Suko Basuki, ketua harian dari yayasan “CENDIKIA AT TAUFIQURRAHMAN” dan seorang pensiunan pengawas sekolah dasar di pinggiran Jakarta. Setelah berakhir masa baktinya dalam menjalankan tugas Negara, ia merasa kesepian karena kegiatan yang semula padat drastis menjadi senggang.
Suatu hari secara kebetulan berkumpulah warga sekitar untuk membicarakan banyaknya anak-anak yatim piatu dan dhuafa di sekitar tempat tinggalnya yang perlu binaan, sementara mereka sangat membutuhkan bimbingan moral dan material. Untuk menolong mereka maka kita butuh begitu banyak uluran tangan dan subsidi silang dari para dermawan.

Inilah dasar dan latar belakang yang menyebabkan yayasan Cendikia At-Taufiqurrohman berdiri hingga saat ini. Sekalipun terseok – seok menjalani dan mengelolanya karena sering terjadi kejar-kejaran antara kebutuhan operasional seperti membayar gaji ustadz/ustadzah pembimbing, maupun konsumsi santri saat belajar. Maklum saja semua biaya belajar bagi para santri yang di GRATIS-kan sementara penggalangan dana yang swadaya serta independen karena jumlah donator yang minim,  namun pengurus dengan ikhlas menjalani dan menaruh harapan besar agar kelak anak-anak yang di bimbing menjadi “seseorang” yang berguna bagi nusa, bangsa, agama, dan orang – orang di sekitarnya.

***

Mendengar cerita sebagian anak – anak yang giat belajar dengan keterbatasan fasilitas membuat hati tergerak untuk menjadi “kurir sedekah” bagi anak – anak “penjemput impian”.  Awalnya tak terbayangkan bagaimana lika- liku dalam mencari dan mengais rezeki yang di kirim untuk segera di sampaikan kepada mereka “para penjemput impian”. Tapi setidaknya dari kondisi yang ku ceritakan, ada beberapa teman yang tergerak menjadi donator rutin bagi yayasan. Ah… lumayan, setidaknya yayasan punya pemasukan yang bisa di putar untuk biaya operasional dan anak -  anak masih bisa belajar disana.

Pernah satu hari terjadi percakapan antara aku dan Pak Suko yang menceritakan tentang keadaan anak – anak yayasan Cendikia at Taufiqurrahman…
Yudha
:
“Bagaimana keadaan santri di sini pak? berapa orang sudah yang di kelola sama yayasan?”

Pak Suko
:
“Disini santrinya kebanyakan anak – anak yatim & dhuafa mas. Karena daerah sini banyak dari orang yang ngga mampu. Sampe sekarang jumlah santri yang aktif ada 58 orang dari 86 orang.”

Yudha
:
“Minat belajar anak-anak nya gimana Pak?”

Pak Suko
:
“Mereka rata-rata yang datang memang punya minat tinggi untuk belajar mengaji di sini. Bahkan juga cepat menyerap ilmu… tapi ya itu mas, karena kita juga memanfaatkan hari libur sekolah formal, mulai dari pagi sebelum subuh sudah mulai di gunakan buat Tahajjud setelah itu tahsin dan tahfidz, “setoran” ayat. belajarnya sering juga ngga datang bukan karena kepagian… tapi karena kebutuhan”  J

Yudha
:
“Loh, kebutuhan?… memang ada kendala apa pak?”

Pak Suko
:
“Yaaa… karena mereka juga di minta bantuan sama orang tuanya untuk jualan kalo hari minggu kan ada pasar kaget dekat sini, jadi ada anak yang mengalah untuk tidak masuk belajar mengaji ketimbang harus di marahin orang tuanya. Memang miris dengarnya, tapi sedikit-sedikit akan kita berikan masukan. Karena sayang mas, mereka anak-anak pintar yang kelak akan jadi generasi penerus orang tuanya. Jadi harus lebih baik dari keadaan yang sekarang “

[terlihat mata berkaca menatap harapan anak didiknya di masa depan]

Yudha
:
“Saya lihat mereka di pakein seragam, jadi bagus ya pak”  :D

Pak Suko
:
“Hehe… Iya Mas, Alhamdulillah itu juga dapat korting dari penjual bahan waktu dia nanya bahan ini mau di pake buat apa? Trus kita bilang bahan ini mau di pake untuk santri yatim & dhuafa”.

Yudha
:
“Waaah…Subhanallah.. koq bisa kepikiran pake seragam pak? Apa biar keliatan kayak di sekolah formal?”

Pak Suko
:
“Hahaha.. ngga mas yud, ini karena awalnya kita perhatikan pakaian mereka itu - ituuuu aja setiap kali datang belajar, kayak ngga ganti-ganti. Bahkan bukan Cuma keliatan ngga ganti, tapi juga ada yang sobek. Mungkin karena baju yang di punya juga terbatas, Kesian ngeliat mereka akhirnya kami berpikir sebaiknya di kasih seragam saja supaya mereka juga punya identitas”

Yudha
:
“Oiya Pak, tadi kan bicara belajar mulai dari sebelum subuh, apa mereka bawa makanan dari rumah atau di sediakan di sini pak?”

Pak Suko
:
“Di sini di sediakan makan Cuma jum’at malam dan Minggu pagi mas. Jadi setelah selesai belajar dan Shalat Dhuha. Makanan yang sudah di bungkus kita bagi-bagikan buat di bawa pulang”.

Yudha
:
“Kenapa ngga makan di sini rame – rame Pak? Kan biar seru…” J

Pak Suko
:
“Sebelumnya memang kami sudah seperti itu mas yud, tapi ada yang mengusulkan kalo makanan di bawa pulang saja, karena mereka sudah ditunggu oleh adik-adik dan keluarganya untuk makan bersama… makanannya itulah yang dibawa sama si santri…”

penjelasan terakhir dari pak Suko membuatku tidak bisa berkata – kata lagi. Miris sekali mendengar sebuah yayasan dengan anak didik 86 orang di kelilingi oleh lokasi perumahan kelas menengah ke atas namun minim donator ini masih eksis untuk melakukan tindakan kemanusiaan.

Ah…Sungguh berbanding terbalik dengan drama penangkapan pengemis yang di razia membawa penghasilan 25 juta rupiah dari hasil kerjanya selama 2 minggu. Pantas saja semakin banyak pendatang baru di ibukota yang berperan sebagai actor jalanan [baca=pengemis]. Ini karena kita dibuai oleh hebatnya “performance” sang actor dengan mengiba dan mengharap pemberian.

Sementara di lain sisi, masih di seputaran Jakarta, ada banyak yayasan seperti yang di kelola oleh Pak Suko, membutuhkan…mengharap…menunggu uluran tangan, berapapun jumlahnya…apapun bentuknya, yang mungkin nilai pahalanya hanya Allah saja yang bisa memberi dan paling berhak menentukan. Tapi setidaknya apa yang kita berikan akan jauh lebih bermanfaat untuk generasi masa depan.

Sahabat….inilah cerita tentang aku, kamu, dia, mereka….  Kita semua J




Kegiatan Megaji Di Yayasan Cendikia Attaufiqurrohman

Mereka sudah beraktifitas sebelum
Adzan Subuh berkumandang






























Setelah selesai kegiatan, konsumsi di bagikan
untuk di bawa pulang

















Berpamitan sebelum pulang, sambil bershalawat...
 #indahnya

Foto bareng santri pria...
 inilah penjemput impian masa depan :)



No comments:

Post a Comment

" Berikan Komentar Anda Untuk Postingan Ini "