02 February, 2014

HIDUP ITU.... SEPERTI BERSEPEDA

Minggu , Juni 2011
Waduuhhh…. KESIANGAAAN!!! Samar – samar kulihat jam dinding menunjukan pukul 06.20 WIB kenikmatan dunia yang begitu mempesona dalam ranjang empuk dengan improvisasi menguap gaya Pak Ogah dalam film boneka si UNYIL sesaat berubah menjadi suasana dramatis. padahal Janji untuk ketemuan dengan teman – teman kantor harusnya sudah terealisasi 10 menit lalu dan aku sudah ada di Stasiun KRL Universitas Indonesia. Hal ini membuatku belingsatan untuk prepare apa yang harus di butuhkan. Ketemuan dengan teman – teman kantor kali ini bukanlah meeting membahas pekerjaan ataupun undangan resepsi pernikahan… apalagi pendaftaran mahasiswa baru. Kami memang sudah berkomitmen untuk bertemu disana untuk bersepeda bersama.

“gawat!!... GAWAT…!!” Sesekali ngedumel sama diri sendiri karena sudah telat janji. Ku ambil henpon dan terlihat dalam layar enam kali miskol dari Alip yang sejak setengah jam lalu berusaha menghubungi, disusul dengan sebuah pesan pendek berbunyi “Dimana Chuun, kita udah nunggu di stasiun UI” .
Dengan sigap sepeda gunung merk local bertipe “Broadway 3.0” sudah terangkat dalam genggaman dan bergegas mengayuh sepeda layaknya tukang somay yang berkolaborasi dengan gaya Valentino Rossi.. *ngga kebayang*

[30 menit kemudian]
Berhenti di depan halte celingukan bingung mau kemana, maklum ini adalah kali pertama aku mengunjungi UI untuk sengaja bersepeda, dengan kacamata safety dan sepatu kets ditambah aksesori botol air mineral yang berisi tinggal 1/3 botol menghiasi tas yang di selempang menyilang di bahu dan peluh yang membasahi sekujur tubuh efek dari jarang olahraga menyebabkan tubuh kaget menerima stimulasi gerakan yang terus menerus lebih dari 1 menit. Bak seorang tukang kredit tempo doeloe yang dikombinasikan gaya penjaja somay dengan performa masa kini ku ambil henpon dan kirim pesan singkat sambil bergaya, seolah – olah tidak mendengar panggilan Alip yang 30 menit lalu sudah sibuk absen siapa saja yang akan hadir.

“ada dimana bro? sori tadi ngga kedengeran telpon, lagi otw… cepat bales gue di halte poltek “
[sesaat tanda SMS balasan] “elo niiih udah telat nyasar pula, Tanya aja hutan UI dimana, buruan ditungguin sama yang lain, gapake LAMA!!”

Hwaaa…. Pesan singkat yang berarti sangat dalam… “SUDAH TELAT, NYASAR PULA”  perlu di garis bawahi dan cetak tebal. Memang begitu kenyataan pahit yang harus diambil. Tenyata memang yang lain sudah ada di lokasi sejak lama. Ngga apalah yang penting bisa hadir kali ini.maklum penjajakan sepeda baru dengan tayangan perdana. Sudah sampai UI sadja itu merupakan suatu predikat hebat yang belum tentu semua orang bisa menyandangnya… [biar narsis asal eksis] *halah, apa coba*

Dari kejauhan terlihat sosok gempal berhelm catok ala bikers dengan sepeda hitam senyum – senyum ngga jelas… yak!! Itu Alip yang sejak tadi berkomunikasi denganku via sms. Dia memang sudah sering kemari dan juga merupakan member tetap di UI. Kalo boleh di umpamakan, ibarat kataaaa…. jin UI aja sudah jadi sohib dan tunduk, saking lama nya dia main sepeda di sini. Padahal rumahnya itu ada di sekitar poltangan, pasar minggu. Ngga kebayang jauhnya, tapi katanya jarak segitu biasa saja. Wew!! Dua jempol teracung dengan manis kala ia menjelaskan perjalanannya menuju ke UI.

***

Waktunya mengelilingi hutan UI, aku bertanya pada Alip yang biasa main di sini…

“gimana aturan mainnya bro? cape ngga?”

“Lo ikutin aja, deket koq … paling cuman 15 menit selesai”

Halaaah… gampang kalo gitu, dalam hati sesumbar karena ku pikir semuanya bisa di pelajari ilmunya. Dengan persiapan kekuatan jantung yang seadanya aku berusaha untuk menyesuaikan diri dengan mereka yang sudah seperti pemain professional. Sementara keliatan banget aku yang dengan datang santai karena hanya sebatas bermain sepeda dan mengeluarkan keringat setelah itu kembali pulang kerumah dan menikmati sepiring mie goreng buatan istri tercinta yang baru saja di request bersama dengan terkirimnya pesan singkat di BB.

Singkat cerita jalan yang ku lalui tidak sesuai dengan yang ku bayangkan tadi, entah apakah Alip sedang meng- OSPEK pemain baru atau aku yang baru main sepeda.. dalam hati ngedumel sendiri membandingkan kenyataan yang tidak sesuai harapan. Rute jalannya sangat tidak nyaman, belokan mendadak, sementara ranting-ranting yang bertabrakan dengan kulit hingga sesekali menggores dan membuat luka baru. Belum lagi nafas yang terengah – engah seperti di kejar malaikat maut. Hwaaaaa!!! KAPOOOOK!!! Ini seperti ngeliat event motocross di tiviiii… Cuma bedanya ngga ada mesin dan knalpotnya di mulut.. HOHhh….HOHhhh..Hohhhh… *ngos-ngosan*

Nafas yang tersisa mirip fenomena serangan jantung mendadak. Jantung berdegup kencang seperti mau copot dari dan dengan sisa tenaga kupaksa kayuh hingga ketemu titik terakhir. Sementara aku sudah tertinggal jauh di belakang Alip dan satu teman lagi yang mendampingiku. Kupaksa lagi mengayuh sepeda kemudian kaki ini seolah kaku kemudian berhenti dan menjatuhkan sepedaku semau-maunya. Pertanda sudah tidak kuat lagi menggenggam sepeda yang ku bawa.

Hahhh..hahhhh..hoh..hohhh…hohhhh… suara nafas sudah ngga jelas dengan volume kencang dan desah yang kian stereo, kemudian Alip kembali menyisir mundur jalannya dan menemukan aku tergeletak lemas tak berdaya

“kenape lo Chuuun?” senyumnya lepas bersamaan dengan deru nafas seperti mengolok – olok ketidak berdayaanku.

“CAPPHEEEK!!  (..hohhh…hohhh..hohhhh..)” mataku mulai berkunang – kunang melihat wajah Alip seolah berbadan dua puluh tiga, rasanya sudah mau pingsan aku kali ini. Sementara untuk membuka mata saja sudah tidak mampu. Ironisnya di tempat aku berhenti tidak ada yang berjualan air atau minuman kaleng. “Yaaa iyyyalaaaah”…. Ngga mungkin juga mereka jualan di track sepeda. Itu hanya pemikiran bodohku saja yang manja semua mau di peroleh dengan instan.

 ***

Hehehe… itulah pengalaman pertama bersepeda yang begitu membuat tertawa malu sendiri karena ketidak tahuan serta keinginan yang begitu tinggi untuk mencoba. Malah berbuah kepayahan yang berkelanjutan. Dan apa yang terjadi setelah keluar dari track hutan UI kemudian pulang kerumah????
Inilah kenyataannya… :

ü  setelah ku hitung dan membedakan perjalanan berangkat di awal, ternyata aku sudah berhenti sebanyak 11 kali dari mulai UI sampai kerumah… hmmm.. jaraknya kalo dihitung sekitar enam kilometer.

ü  Menghabiskan 6 botol Air Mineral isi 600 ml.

ü  Menghabiskan waktu sebanyak 15-20 menit setiap kali berhenti istirahat.

ü  Pegal – pegal yang berkelanjutan di sekitar selangkangan, dan mengembalikan dalam keadaan normal hingga 3 hari lamanya.

Sejak saat itu undangan bersepeda terus berdatangan, dan aku menyanggupinya. Meski apapun terjadi sepeda terus ku kayuh dan tak berhenti hingga disitu. Sebuah kenikmatan ketika kita bisa berada di garis finish dan menyelesaikan tantangan demi tantangan.

Down hillers Sebelum start di Cikole, Bandung

Down Hillers di Puncak



Memang ngga bisa di bayangkan dengan kata – kata, hanya bisa di nikmati tanpa kata – kata hingga aku bisa membayangkan betapa penggila sepeda ini memiliki “ketagihan” yang begitu hebat. Dan hanya orang – orang yang memiliki kecintaan saja yang bisa merasakan betapa olahraga ini begitu nikmat terasa.

Tapi aku tidak membahas lebih dalam tentang kegilaan bersepeda, dengan adanya peristiwa bersepeda yang membuatku nyaris kehabisan nafas justru malah menorehkan hikmah tentang bagaimana cara yang bijak menyikapi hidup.

Dan ini lah hikmah tentang kehidupan yang bisa ku petik dari fenomena bersepeda :

ü  HIDUP itu seperti berSEPEDA, Jalani saja sepeda itu dengan kekuatan yang dimiliki, jangan memaksakan diri untuk meraih apa yang tidak dapat di capai. Ketika kita punya niat dan terus menjalaninya dengan segenap kekuatan  yang di miliki, kemudian menyelaraskan diri antara niat dan usaha, maka ALLAH yang akan memudahkan kita untuk mencapai tujuan. Karena kita tidak bertanggung jawab terhadap masalah yang ditemui, melainkan hanya di minta BERUSAHA, selebihnya biarkan DIA yang menilai upaya kita dalam menjalaninya.

ü  HIDUP itu harus SEIMBANG : layaknya bersepeda, antara mengayuh pedal dengan menjaga keseimbangan tubuh haruslah terjaga, jika tidak di lakukan, maka tidak menutup kemungkinan kita akan terjatuh. Sering kali pemaksaan keadaan terjadi hingga akhirnya tubuh terbelit dengan masalah sendiri, padahal andai saja kita focus dengan tujuan dan menikmati setiap detik waktu berjalan maka perjalanan yang jauh akan terasa dekat.

ü  Jalani hidup dan jadilah diri sendiri : kita ngga perlu mengejar apa yang telah di capai orang lain, cukup menjadi diri sendiri, mengukur kemampuan diri sebelum akhirnya memutuskan untuk berjalan mencapai tujuan adalah sangat bijak. Karena hanya kita yang tau kapan waktunya berjalan, kapan saatnya beristirahat. Yang perlu kita miliki adalah TARGET, NIAT, IKHTIAR, dan semuanya disempurnakan sambil berjalan.

Sahabat….inilah cerita tentang aku, kamu, dia, mereka….  Kita semua J









No comments:

Post a Comment

" Berikan Komentar Anda Untuk Postingan Ini "