HALAMAN

16 August, 2014

Investasi Tingkat Tinggi Lebih dari Sekedar Butiran Nasi

 [Jakarta, 1986]

Pagi terasa begitu cerah... matahari sudah berani memancarkan sinarnya dan suasana riuh begitu nyata terpampang di salah satu sudut stasiun belahan kota Jakarta saat itu. Aktifitas sudah terasa meriah di sekitar area itu. Di ujung jalan sana tampak tukang tambal ban yang sudah di tunggu oleh 3 calon pelanggan yang terilhat kepayahan setelah mendorong motornya karena salah satu ban motor yang di kendarai bocor. Di sisi lain nampak dalam pandangan seorang penjaja gorengan sibuk memindahkan satu demi satu pisang dan tahu goreng ke dalam plastik karena sudah di tunggu oleh pelanggannya yang terburu-buru di kejar waktu. Ada juga  pembeli lontong sayur yang heboh untuk segera di bungkuskan pesanannya supaya tidak kelamaan berdiri  di pinggiran jalan yang terasa semakin sempit setiap detiknya karena bertambah volume calon penumpang yang merapat di pintu masuk. Samar-samar pengeras suara dari pusat informasi memberi kabar tentang keberadaan kereta yang hendak melintasi stasiun. Hingga Sampailah pandangan pada titik ketika seorang pedagang bertubuh langsing dengan kain serbet bermotif kotak-kotak tertambat di lehernya sambil meliuk-liukan sutil mencoba untuk mengais rejeki dengan berjualan bubur ayam Ciburial. Lelaki itu biasa di sapa Pak Mursid.

Seperti biasa... para pelanggan Pak Mursid selalu bertebaran di sekitar gerobak kecilnya. Sudah dua tahun ia berjualan bubur ayam di tempat ini. Harga terjangkau dengan porsi yang lumayan banyak seukuran perut orang pribumi membuat ia tetap eksis sebagai penjaja penganan pagi terlaris dan belum terkalahkan sejak ia berikrar menjadi pengusaha bubur ayam itu. Sekilas tak ada yang istimewa dalam sajian dan rasanya, yang membuat hasil usahanya semakin hari semakin beranjak naik adalah Rasa “empati” yang begitu kental berbalut senyuman dan sapa yang ramah pada setiap calon pelanggan sungguh tidak dimiliki oleh penjual lain di sekitarnya. Semakin kewalahan untuk melayani seorang diri membuat Pak Mursid harus menambah "pemain" cadangan, dan pilihan itu tertuju kepada anak perempuan semata wayangnya di kampung yang belum genap berusia 6 tahun dan telah ia tinggalkan untuk mencari rezeki di kota.

membawa puteri semata wayang nya dari Kampung halaman ke Jakarta yang penuh dengan serba serbi bukanlah tanpa alasan. Istri yang di cintainya tidak pernah memberikan perhatian lagi kepada buah hatinya sejak mereka di tinggal Pak Mursid ke Jakarta untuk mendulang Rupiah. Hal ini sering kali ia dengar dari para tetangga tiap kali Pak Mursid kembali  ke kampung, tapi suara sumbang dari para tetangga tak di indahkan olehnya. Ia menganggap hal itu hanya cibiran orang yang memandang sebelah mata kehidupan rumah tangga mereka. Di tambah Sering kali ia melihat puterinya bermuram durja dan bersendirian manakala Pak Mursid kembali ke kampung halaman. Hingga Suatu ketika Pak Mursid mendapati sikap positif thinking -nya sirna saat mata kepalanya sendiri yang memergoki pasangan hidup yang bagitu ia cintai "main gila" dengan lelaki lain yang masih satu kampung, sambil bermesraan layaknya remaja a-be-ge menemukan idaman hati di tengah kusutnya perjalanan cinta dengan pujaan hati yang tak lagi memberikan perhatian kepada sang wanita pemuja cinta. padahal ketika itu Pak Mursid berencana untuk memboyong mereka ke Jakarta dengan alasan  sudah siap lahir dan bathin. meskipun baru sanggup membeli rumah bedeng petakan, tapi setidaknya bisa memberikan keluarga kecilnya penghidupan dan tempat tinggal yang layak untuk lebih dari sekedar bertahan hidup. Ahhh, apalah daya... impian tinggal impian. Mimpi untuk menjadikan rumah tangga yang bahagia walau sederhana dan penuh keterbatasan Semua kandas termakan waktu... dan kesetiaan pun terjawab sudah.. mana yang sanggup bertahan dan siapa yang tidak siap dengan keadaan.

[Lain cerita...]

Suatu ketika... nampak pemandangan yang tidak biasa, seorang anak lelaki kecil berumur sekitar 10-12 tahunan tengah berlari ketakutan saat dikejar petugas toko obat yang letaknya tak jauh dari lokasi Pak Mursid berjualan. Nampak begitu kencang ia berlari dan kejar mengejar yang tidak berimbang membuat anak kecil itu akhirnya tertangkap tangan tengah menggenggam obat penurun panas serta sekotak perban di tangannya yang lain, dan... drama pun di mulai:

“ UNTUNG KETAUAN LO, KALO NGGA PASTI UDAH NGILANG BAWA DAGANGAN GUE YAH!! .... MANA ORANG TUA LO??? BIAR SURUH BAYAR SINIII!!!”

Teriakan si Penjaga toko membuat Anak lelaki tadi hanya tertunduk diam tanpa perlawanan dan tak juga menangis ketika si penjaga toko merampas barang yang telah di ambil sambil menoyor kepalanya. Ia tak kuasa melawan karena menyadari bahwa yang di lakukannya adalah salah. Melihat pemandangan yang tak lazim, Pak Mursid buru-buru menghampiri dan melerai. Dengan nada penasaran ia menanyakan kepada petugas toko,

Mursid    : “hei..hei..hei !! sudah..sudah..!! ada apa ini ribut-ribut?”

Penjaga toko : “ ini bocah ketangkep mau nyolong Pak!”

Mursid    : “Bener itu Jang?” [memandangi si anak]
Anak     : “he’eh Pak...”
Mursid    : “siapa yang Sakit?”
Anak    : [masih menunduk] “i..i..Ibu…”

Pak Mursid memandangi anak itu beberapa lama sambil terdiam... “Biar ini saya yang ganti saja Boss, ngga usah di permasalahkan”. Setelah memberikan sejumlah uang yang di sepakati, akhirnya si penjaga toko pergi sambil mengatakan pada anak itu “Awas yaaaa... jangan di ulangi!!!”

Pak Mursid memanggil puterinya... “Neng tolong Bungkusin bubur dua ya”

Tak berapa lama puterinya menghampiri dan menyerahkan bungkusan berisi dua ikat bubur ayam kepada ayahnya. Pak Mursid menyisipkan obat dan kotak perban kedalam bungkusan itu seraya berkata “Pulang lah Jang... ini buat Ibumu, ini sarapanmu biar cepet sehat ya”

Anak lelaki tadi melihat bungkusan itu sesaat, kemudian memandang wajah Pak Mursid beberapa lama, seolah tak percaya ini bisa ia dapatkan begitu saja tanpa syarat. Tampak matanya berkaca-kaca dan… Tiba-tiba..."srettt" anak lelaki tadi merebut plastik dari Pak Mursid kemudian berlari melesat sekencang-kencangnya tanpa berkata-kata atau sekedar berjabat tangan dengan Pak Mursid sebagai tanda terima kasih. Pak Mursid hanya menggelengkan kepala dan tersenyum melihatnya. Sepertinya ia lebih memahami ekspresi bahwa itulah tanda terima kasih  yang tersirat dari keluguan sikap seorang anak.

[25 tahun berlalu].....

Rambut di kepala yang mulai memudar bagai menunjukan betapa hebat perjuangan seorang lelaki yang berupaya memberikan jutaan sikap  teladan kepada puterinya.  Namun demikian ia  masih begitu bersemangat memberikan pelayanan terbaik bagi para pelanggan dengan gerobak Buburnya, puterinya pun masih menemani sang ayah berdagang dan sesekali bergantian Pak Mursid yang melayani pelanggan. Tapi ada yang berbeda disini... kini Pak Mursid memiliki kios yang lumayan untuk melayani pelanggannya.

Yah... setidaknya perjuangan Pak Mursid berbuah manis, sekalipun kios itu hanya berukuran 3x3 m2  tapi pelanggan bisa dengan nyaman duduk tanpa kepanasan dengan teriknya mentari jika tetiba sinarnya hadir tanpa permisi.

Di tengah kesibukan memenuhi pesanan pelanggannya, entah dari mana asalnya datanglah seorang gila di hadapan Pak Mursid yg Nampak kelaparan. Ia mengelus perutnya sambil menunjukan gerakan berulang seperti menyimit nasi yang akan masuk kedalam mulut. Rambut acak-acakan dan pakaian yang robek menambah kesan tersendiri bagi sang penggila.

 Melihat keadaan itu, Neng Puteri Pak Mursid langsung menyiapkan satu stereofoam untuk di isi Bubur ayam. Tidak butuh waktu lama hingga hidangan terbungkus rapi, dan setelah semua selesai Pak Mursid langsung memberikan bubur itu kepada orang gila yang telah berkali-kali menelan liurnya pertanda rasa lapar  semakin menjalar di sekitar lambung yang sesekali dirasakan seolah bergetar… kemudian ia pun pergi berlalu dengan sejuta senyuman di wajah yang tak berkesudahan sambil bersenandung tanpa irama yang pas di dengar oleh telinga.

Harusnya Bubur ayam ini tidak perlu pakai nama “Bubur Ayam Ciburial”, karena namanya lebih cocok sebagai “Bubur Ayam Rasa Empati”. Karakter itu tertanam dalam diri puterinya yang kini telah berubah menjadi seorang wanita cantik dan bijaksana.

Saat akan melanjutkan pekerjaan tetiba Pak Mursid merasakan kepalanya berputar, dunia bergoyang…hingga kemudian iapun…tumbang…terkapar meninggalkan beberapa pesanan yang belum sempat terselesaikan. Neng kontan saja berteriak histeris dan pelanggan yang kala itu tengah berada disana ikut membantu proses evakuasi Pak Mursid menuju rumah sakit terdekat. Hingga akhirnya mereka pun tiba di sebuah rumah sakit ternama di kota itu.

Neng bingung harus menelpon siapa untuk memberitakan hal ini. hingga ia hanya mencari daftar kontak di handphone nya yang sesekali di putar pertanda cemas melanda hati yang tengah di rundung duka karena sang ayah yang biasa ia temani mengais rejeki tetiba terbaring lemah tak berdaya dalam ruang perawatan.

Singkat cerita dokter yang menangani penyakit Pak Mursid tak sanggup memberikan hasil terbaiknya. Gagal ginjal yang di derita Pak Mursid bukan penyakit yang boleh di anggap hal biasa. Hingga Dokter merasa perlu merujuk kepada Rumah sakit terbaik yang biayanya tak tanggung-tanggung mahal. tiga hari perawatan inipun sudah memakan biaya, ditambah penyakit yang tidak tahu sampai kapan bisa di sembuhkan. Sebagian tabungan yang di kumpulkan Pak Mursid selama ini pun semakin tiris, nyaris habis terkikis makin dalam. Hingga Neng pun bertanya-tanya dalam diri.

"Dengan segala yang di tinggalkan ayah dan perjuangan yang hebat ini apakah aku sanggup membiayai Ayahku Tuhan?? kuatkanlah hatiku... berikanlah petunjukMU kemana harus aku cari biaya sebesar ini?!"



oo00oo



Dokter datang mengunjungi pasiennya, seorang lelaki mapan yang tampak masih muda, namun spesialisasi serta keahliannya di bidang penyakit dalam cukup membuat ia di kenal di rumah sakit yang juga terkenal ini.

Melihat data penyakit yang di diagnosa membuat ia langsung memutuskan agar Pak Mursid segera di operasi.

"Mempelajari hasil test lab rumah sakit sebelumnya, di tambah hasil dari pemeriksaan saya, maka saya menyarankan agar Pak Mursid segera di operasi. Apakah Ibu siap untuk memberikan dukungan tersebut"

"Apakah tidak ada pilihan lain selain operasi Dok?"

Pilihannya hanya di tunda, atau di lanjutkan. Karena berdasarkan analisa, jika tidak segera di ambil tindakan, maka kondisi Pak Mursid akan semakin buruk"

"Kira-kira berapa estimasi biaya dok? apakah dokter bisa bantu mencari informasi agar saya bisa siapkan biayanya"

"Oke ... nanti biar saya tanyakan berapa biayanya kepada bagian administrasi. Tapi Jika sudah di dapat estimasi biayanya, saya harap Ibu tidak memikirkan terlalu jauh, karena saya hanya ingin sebagai keluarga pasien, ibu menyetujui saja tindakan yang akan di lakukan... dan saya dapar pastikan bahwa tindakan yang di ambil oleh tim medis adalah upaya terbaik. Karena saya ingin pasien yang di tangani segera mendapatkan penanganan yang baik. Sekalipun Berita baik itu hanya datang dan di putuskan dari Allah, namun saya tidak ingin menjadi bagian yang berperan mempersulit keputusan Allah. Karena saya hanya perantara dariNYA yang bertugas menjalankan profesi saya sebaik mungkin. Jika setelah ini ibu menemui kesulitan sebisa mungkin akan saya bantu"

Neng pun semakin di landa kegalauan, putaran otak semakin kencang bekerja demi mencari solusi. masalah operasi adalah hal yang mudah dan ia pun setuju untuk di ambil tindakan tersebut. tapi bagaimana masalah biaya yang sekarang sedang di kuatirkan oleh Neng. Itulah sebabnya ia tidak sanggup memberikan jawaban secepat kilat.



oo00oo



Beberapa hari di tinggal sejak Pak Mursid di rawat, membuat Neng merasa  perlu untuk membenahi perkakas dagangannya yang ada di kios. karena tempat itu belum sempat di benahi lagi. Namun.... setiba nya di warung bukan membuat Neng lantas membenahi perkakas yang kotor, justru malah semakin mengingatkan ia kepada sang ayah dengan bayangan kejadian terulang seolah nyata di kepala.Tapa terasa air mata jatuh membasahi pipi dan isak tangis yang deras berderai membuat dadanya semakin sesak menahan beban.

Begitu inginnya ia memberikan yang terbaik untuk Pak Mursid, tapi apa yang harus di lakukan sungguh jauh dari kenyataan. karena biaya rumah sakit tak sempat terpikirkan kemana harus mencarinya lagi. Yang ia miliki hanya kios kecil tempat Neng dan Pak Mursid menghabiskan separuh hidupnya di sini, tempat ia mengais rezeki, serta Rumah Bedeng petakan yang ia tinggalkan untuk menghabiskan separuh waktu sisanya. Dilema yang menggerayangi perasaan dan logika membuat salah satu harus di korbankan, atau senyuman  sang Ayah tak lagi dapat ia lihat. Padahal beberapa bulan lagi ia akan lulus mengambil S1 nya yang sempat tertunda karena cuti kuliah demi membantu sang ayah berjualan.

Dengan penuh kesadaran serta dalam rangka menghilangkan perasaan gulana meskipun berat rasanya, iapun memutuskan untuk menjual kios yang telah di beli sang Ayah. Pertimbangannya adalah...Karena jika ia lulus nanti, maka Neng bisa menggantikan posisi ayah yang telah lelah bekerja selama ini demi mencari rezeki untuk mereka berdua. Sudah waktunya ayah menikmati masa tuanya di rumah, dan sudah saatnya Neng menggantikan posisi Pak Mursid untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi ayahnya.

Dan akhirnya... sebuah plang "DI JUAL KIOS" dengan tambahan nomor handphone Neng terpampang rapi di antara rolling door berbahan almunium, berharap dapat menarik perhatian calon pembeli agar lekas dapat mengeluarkan Pak Mursid dari Rumah Sakit dengan segera.



oo00oo



Ruangan terlihat begitu tenang, tak ada lagi suara isak tangis Neng yang sebelumnya terdengar.. yah... setidaknya untuk saat ini. karena sebentar lagi suara itu akan terdengar lagi. Tapi eeeit.. tunggu sebentar, ternyata Neng tengah tertidur kepayahan karena sudah beberapa hari ia berusaha untuk terjaga demi sang Ayah.

Neng tertidur di samping ayahnya yang sedang terbujur di hiasi bunyi mesin pendeteksi jantung. di tambah alat bantu nafas yang di pakai pak Mursid. Delapan jam masa kritis sudah berlalu dari Pak Mursid. dan sepertinya kini tinggal Neng yang terlihat nge-drop karena lelah berusaha keras mencari informasi serta biaya untuk menutupi seluruh biaya yang telah di estimasi dengan semua biaya bernilai Rp.178.245.000,- (Seratus Tujuh Puluh Delapan Juta Dua Ratus Empat Puluh Lima Ribu Rupiah). secarik kertas dalam genggaman membuat ia lelah memikirkannya dan menjadikan Neng tidur terduduk untuk sekedar mengistirahatkan tubuhnya.

Sinar mentari yang menyentuh kulit membuat Neng terjaga. Samar-samar di dapatinya bayangan masih saja sama seperti saat ia memejamkan matanya entah sudah berapa jam lamanya. pemandangan yang ia tuju pertama kali adalah Alat deteksi jantung, sepertinya normal tak ada hal yang perlu di curigai, dan nafas sang Ayah pun terasa santai tak terdengar nada kritis. Hingga akhirnya pandangannya tertuju pada bundelan amplop yang terlihat rapi di pojok ranjang Sang Ayah. Sepertinya ada orang masuk sebelumnya dan ia sama sekali tidak merasakan hal itu karena lelahnya. Amplop yang rapi menyimpan sejuta rahasia dan rasa penasaran hingga membuat Neng segera membuka untuk mengetahui apa isinya.

Buru-buru di buka lipatan kertas itu... Isinya adalah settlement biaya rawat inap dan operasi dengan stempel lunas serta sepucuk surat yang di tulis oleh tulisan tangan sang dokter, kemudian ia membaca kata-kata yang membuat ia terkaget-kaget bukan kepalang :

“Biaya Pengobatan ini sudah terbayar 25 tahun yang lalu dengan dua ikat bubur ayam, obat penurun panas dan sekotak perban..

TTD
Dokter Himawan”


Derai airmata bahagia menyertai kata demi kata saat Neng menyelesaikan tafsiran kata terakhir. Entah apa lagi yang harus ia ucapkan selain kata terima kasih kepada Sang Pencipta di iringi sujud Syukur di lantai ruang Rumah Sakit. Ingatannya kembali pada dua puluh lima tahun yang lalu saat Neng memenuhi perintah ayahnya untuk memberikan dua ikat bubur ayam kepada seorang anak lelaki disertai ayahnya yang menyisipkan obat penurun panas plus sekotak perban. Dan ternyata lagi.... anak lelaki itu kini telah menjadi dokter yang cukup di kenal karena kebajikannya yang gemar memberikan bantuan kepada pasiennya.

Allah memberikan kita pilihan untuk bersikap baik atau bersikap acuh, bahkan tak memiliki sikap sekalipun kepada siapapun yang kita temui, yang kita kenal maupun tidak, apa yang ingin di lakukan dan terserah mau berpikir atau membiarkan setiap detik berjalan seperti adanya. Semua tergantung kita yang di berikan kesempatan olehNYA untuk memilih. Karena apapun yang akan kita lakukan boleh jadi memiliki dampak yang nyata nilai balasannya. Entah saat ini, besok, atau mungkin juga nanti... bahkan DIA mengganti dengan yang jauh lebih baik dari apa yang kita inginkan sebelumnya.

Sahabat….inilah cerita tentang aku, kamu, dia, mereka….  Kita semua :)







No comments:

Post a Comment

" Berikan Komentar Anda Untuk Postingan Ini "