18 March, 2015

BAHAGIA ITU BERNAMA... "KELUARGA"


Gambar di ambil dari SINI
7 tahun 8 bulan usia pernikahanku...banyak sudah cerita yang terlewati. Mulai dari Fase Adaptasi, sebuah tahap dimana kami harus berargumentasi membenturkan dua pendapat yang saling berbeda dan ingin saling mendominansi, berjuang mencari ketenangan dan celah yang di perjuangkan untuk satu kata “MENANG” dalam pertempuran keyakinan yang sama-sama di pegang... hingga akhirnya kami sadar bahwa bukan rumah tangga seperti ini yang kami inginkan berada di dalamnya.

Kesadaran itu muncul ketika ALLAH memberikan ujian dimana kami harus terpisah dan tidak dapat berkomunikasi dengan baik walaupun pada saat itu ada banyak peluang bagi kami untuk bertatap muka dan bertemu barang sebentar saja. Ternyata kami saling membutuhkan satu sama lain.. ternyata anak-anak lebih membutuhkan kami orang tua yang bisa membimbing dan menemani masa kecilnya ketimbang menjadikan mereka korban angkuhnya ego orang tua. Ternyata kami harus bertanggung jawab penuh atas kebahagiaan mereka yang masih menganggap bahwa rejekinya datang dari orang tua yang kini sedang bertengkar hebat.  Dan ternyata....KAMI lah kunci dan jembatan penghubung untuk setiap masa yang akan mereka lalui, masa di mana ia akan menjadi seperti apa mereka kelak akan menjadi...

Singkat cerita, kami menyadari bahwa kini harus memberikan banyak sekali ruang untuk kami berdua dalam mengenal satu dan lainnya. Karena pernikahan bukanlah menikahkan antara aku dan wanita yang ku nikahi saja, bukan tentang cintaku dan cintanya saja, bukan hanya menyatukan hatiku dan hati wanita yang aku dampingi saja. Bukan tentang menjalani hidupku bersama wanita yang aku berikrar untuk berbahagia dengannya (saja), bukan tentang menyatukan dua pendapat yang berbeda juga bukan tentang membeda-bedakan dua keyakinan yang sudah jelas berbeda...bukan...bukan... bukan tentang itu semua.

MENIKAH  adalah menyatukan hatiku dan hati kelurganya, menyatukan hati keluarganya dengan keluargaku, menikah adalah mencintai apa yang di cintainya dan apa yang ku cintai, menikah adalah menjalani hidup berdua dengan suka dan membuang duka bersama, menikah adalah mengurus dan memenuhi kebutuhannya dan apa yang ku butuhkan. Menikah adalah menyelaraskan dua perbedaan, menjalaninya bersama hingga mencapai satu tujuan yang di namakan BAHAGIA. Sulitkah itu semua??.. Terlepas dari mudah dan sulitnya adalah bagaimana cara kita menjalani dan menyikapi masalah yang datang bertubi-tubi dan silih berganti.

Komitmen dan saling introspeksi adalah kunci menjalani kehidupan ini bersama pasangan kita. Karena bagaimanapun masa depan yang akan kita raih adalah bermula dari cita-cita yang kita inginkan serta usaha yang kita upayakan. Karena tidak ada Pelaut yang hebat tercipta dari gelombang lautan yang tenang. Seperti itulah adanya rumah tangga... mengarungi bahtera rumah tangga yang tenang butuh proses yang panjang. Dan berumah tangga bukan akhir dari perjalanan cinta, melainkan awal dari realisasi cita-cita berikutnya .

Dan untuk wanita yang ku nikahi... ketahuilah bahwa dalam setiap waktu engkau adalah bagian dari pencapaian masa depanku dan anak-anak kita. Aku tidak dapat menjalani hidup ini sendiri, mendidik dan membesarkan buah hati kita tanpamu. Karena kita adalah satu kesatuan... ketika muncul perbedaan, dan engkau mendapati aku mulai menyimpang dari koridor cita-cita kita... mohon ingatkan aku, sabarlah sebentar saat aku tidak mengindahkanmu. Bukan berarti aku acuh...tapi inilah laki-laki yang hanya bisa fokus dengan aktifitasnya saat waktu sedang berjalan.

Dan kini.... kita sedang berada dalam kendaraan yang bernama RUMAH TANGGA, aku sebagai pengemudi dan engkau kondekturnya. Sementara aku hanya bisa fokus dengan masa depan, yang sesekali menengok spion “masa lalu”, tapi tanggung jawabku begitu besar, karena keselamatan seluruh penumpang ada bersama konsentrasiku. Sementara engkau bertugas mengingatkan batasan sampai di mana posisi perjalanan kita, meneriakan dan mengulang tujuan kita, dengan fitrah “multi tasking” yang dapat bertugas menghampiri penumpang yang juga berada dalam kendaraan kita. Dan ingatlah...kita sedang “kejar setoran” untuk menjadi keluarga SAMARA. Jadi mohon bantu aku untuk mencapai tujuan kita... yang dengan tujuan itu kita capai bersama karena ALLAH semata, semoga IA memudahkan apa yang menjadi harapan kita untuk generasi berikutnya, sekaligus menjadikan anak sebagai investasi kita jangka panjang.. biarlah kita hanya menjadi juru mudi dan kondektur yang mengantarkan buah hati kita kepada tujuannya, berharap padaNYA... Biarlah anak-anak kita yang kelak akan memasangkan mahkota emas nun jauh disana dalam kehidupan yang kekal tak berkesudahan.

Depok, 18 Maret 2015 | di tulis dari hati di baca sepenuh hati
  

oo000oo

No comments:

Post a Comment

" Berikan Komentar Anda Untuk Postingan Ini "